Jumat, 12 Oktober 2018

AKU MENCINTAIMU NABILA

Matahari baru saja meninggalkan peraduannya, lalu beranjak naik merayapi lazuardi biru meninggalkan celah antara Bukit Kandis dan Gunung Bungkuk yang masih diselimuti kabut tipis. Butiran-butiran bening embun pagi mulai bergelantungan di ujung daun-daun ilalang dan rerumputan yang tumbuh dengan subur di kedua sisi jalan setapak yang menghubungkan rumah Nabila dengan sekolahnya yang hanya terhalang oleh sebidang kebun kopi yang saat itu sedang berbunga.
Nabila melangkah dengan perlahan di atas jalan setapak itu menuju ke sekolah. Sesekali ia harus mengangkat kakinya lebih tinggi disaat melangkah untuk menghidari rerumputan yang menutupi badan jalan, sesekali pula ia harus menggunakan sebilah bambu yang sengaja ia bawa dari rumah untuk menggoyang pohon ilalang agar embun yang bergelantungan di ujung daun-daunya jatuh dan tidak membasahi pakaiannya.
Nabila adalah seorang siswa salah satu SMA yang ada di Indonesia dan pada saat itu, ia sudah duduk di kelas dua belas. Wajahnya yang manis dengan kepribadian yang supel serta sifat yang humoris, membuat Nabila cukup terkenal di sekolahnya. Walau prestasinya tidak terlalu bagus, tapi Nabila termasuk siswa yang cukup kreatif, ulet, dan rajin. Hobinya adalah ngutak-ngatik berbagai macam peralatan elektronik, dan ia paling tidak suka dengan pelajaran Bahasa Indonesia, karena selalu menuntutnya untuk selalu menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Padahal ia lebih suka menggunakan bahasa gaul dan sedikit alay.
Kedatangan Nabila di sekolah pagi itu disambut oleh sahabatnya, Siska, dengan senyum manis dan pelukan hangat, tidak lupa pula sebuah ciuman kecil di pipi kanan dan kiri. Lalu Siska memberikan secarik kertas yang berisi artikel tentang Radiant Receiver-nya Tesla kepada Nabila. Karena dulu, Nabila pernah bilang pada Siska tentang idenya untuk bisa mengubah gelombang suara menjadi energi listrik. 
"Nanti kalo mati lampu pas kita lagi belajar, tinggal cubit aja adik gue biar nangis, agar suaranya bisa bikin lampu kamar gue menyala," kata Nabila waktu itu, dan tentu saja membuat Siska tertawa terbahak-bahak.
Setelah berada dalam kelas, Nabila pun mulai membaca artikel itu berulang-ulang. Bahkan sampai jam pelajaran habis, dia masih memikirkan isi artikel itu. Akibatnya, semua pelajaran yang diberikan oleh guru-gurunya hari itu, tidak satu pun yang nempel di ingatannya.
Beberapa hari setelah itu, Nabila mulai melakukan eksperimen untuk membuat Pembangkit Listrik Tenaga Suara yang menurut perhitungannya akan cukup untuk menyalakan serangkaian lampu led yang ia colong dari gapura gang sehabis perayaan 17-an tahun lalu.
Setelah yakin bahwa PLTS-nya selesai, Nabila pun mulai mencobanya dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dekat sensor suara ciptaanya. Saat bernyanyi, matanya terus memperhatikan lampu led yang ia pasang di atas pintu kamarnya. Pada bait-bait tertentu, lampunya memang menyala, tapi cuma satu, itu pun sangat redup. Jangankan untuk bisa menerangi kamarnya, untuk menerangi lubang semut pun pasti tidak akan mampu. Lalu ia pun mencoba menyanyikan beberapa lagu wajib nasional yang sudah ia hapal, tapi tetap saja hanya satu lampu yang menyala.
Karena penasaran, Nabila terus mencobanya dengan menyanyikan lagu-lagu tadi berulang-ulang dengan volume yang berbeda-beda. Tapi anehnya, semakin keras ia bernyanyi, nyala lampu malah semakin kecil. Akhirnya ia menyerah untuk sementara karena suaranya sudah mulai serak.
Beberapa hari setelah itu, suara Nabila belum juga pulih seperti biasa, hingga ia belum bisa melanjutkan eksperimennya, karena waktu ia mencobanya kembali di hari kedua, lampunya malah tidak menyala sama sekali. Bahkan samapai ia harus minta bantuan pada Siska untuk menyanyikan beberapa lagu, tapi tetep saja lampunya tidak ada yang menyala.
Pada suatu malam, seorang teman cowok yang naksir berat pada Nabila, memberanikan diri untuk datang ke rumah Nabila. Cowok itu namanya Niko.
Niko sudah beberapa kali menyatakan perasaannya pada Nabila, baik secara langsung maupun tidak langsung, tapi Nabila belum menanggapinya dengan serius. Ternyata Niko masih belum menyerah, dan malam itu pun tidak Niko katakan sebagai upaya terakhir.
Setelah bicara basa-basi dan ngobrol kesana-kemari, Niko merasa saatnya sudah tiba untuk mengatakan maksud kedatangannya pada Nabila.
"Aku mencitaimu, Nabila," ungkap Niko dengan sepenuh hati, setelah beberapa lama diam dan beberapa kali menghela napas.
Nabila kaget, karena saat Niko menyatakan cintanya, ia melihat semua lampu led yang dipasang di atas pintu kamar menyala dengan sangat terang. "Terang banget," teriak Nabila kegirangan.
Tapi beberapa detik kemudian, semua lampu led padam secara bersamaan. "Lho, kok, mati..." kata Nabila dengan heran. 
Lalu Nabila beranjak dari tempat duduknya untuk memeriksa lampu led yang tiba-tiba mati. Padahal ketika ia menyentuh kabelnya, ia masih merasakan ada sengatan listrik walaupun sangat kecil. Kemudia Nabila mengambil tester dari dalam kamarnya untuk memeriksa kondisi semua lampu led.
"Gimana, Bil?" tanya Niko yang masih menunggu jawaban Nabila atas pernyataan cintanya.
"Udah tahu mati, masih nanya," jawab Nabila dengan ketus sambil terus memeriksa lampu led satu per satu.
Niko hanya diam, karena ia tahu bahwa Nabila tidak sedang memperhatikannya. Akhirnya Niko pun pamit untuk pulang.
Keesokan harinya, Nabila mengganti semua lampu led dan melakukan sedikit modifikasi pada rangkaian elektronik pembangkitnya agar bisa menggunakan bola lampu lima watt. Karena ternyata eksperimennya itu bisa menghasilkan energi yang cukup besar hingga membuat semua lampu led mati total. Lalu Nabila mencoba bernyanyi lagi dan berharap lampunya akan menyala. Tapi boro-boro menyala, berkedip pun tidak.
"Tadi malem sensor nangkep suara apa ya? kok, bisa nyala terang banget," pikir Nabila. Tapi sampai matanya terserang kantuk, ia tidak menemukan jawaban. Akhirnya Nabila memutuskan untuk menunda eksperimen itu, mengingat UAN yang sudah sangat dekat.
Setelah selesai UAN, Nabila kembali memikirkan eksperimennya dan mencari jawaban atas pertanyaan yang masih menempel diingatannya sejak sepekan sebelumnya. Karena tidak kunjung menemukan jawaban, ia pun mengajak Siska untuk ikut memikirkannya. Dan malam itu Siska memutuskan untuk menginap di rumah Nabila, maksudnya agar tidak susah menyampaikan kalau Siska menemukan jawaban atas pertanyaan Nabila.
Tepat jam tujuh malam, mereka kedatangan Niko yang bermaksud melanjutkan perjuangan cintanya. Untung Siska mengerti, lalu ia mempersilahkan Nabila untuk menghadapi Niko, sedangkan ia memilih untuk tetap di kamar sambil memikirkan eksperimen Nabila.
"Bil, kambing ayahmu ada berapa ekor? Kok, kandangnya gede banget," tanya Niko di tengah obrolannya dengan Nabila.
"Kamu sebenarnya mau ngomongin apa sih, Nik? Pake nanyain kambing segala," Nabila balik bertanya.
Mendengar pertanyaan Nabila, Niko hanya nyengir sambil garuk-garuk kepala.
"Aku... aku mencintaimu, Nabila," kata Niko pada akhirnya.
Sebelum Nabila menanggapi, terdengar Siska berteriak dari kamar, "Horeee... nyala...!"
Nabila segera bangkit dari duduknya dan bergegas masuk ke kamar, tapi begitu Nabila sampai, lampunya meredup, lalu padam. Nabila dan Siska bengong saling berpandangan.
"Kenapa ya?" tanya Nabila yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Siska.
"Aku tahu," kata Siska sambil mengacungkan telunjuknya disamping kepala. Lalu ia menarik tangan Nabila agar mengikutinya untuk ke luar dari kamar.
"Tadi kamu bilang apa sama Nabila?" tanya Siska pada Niko setelah mereka berada di ruang tamu.
Niko hanya bengong mendapat pertanyaan itu dari Siska. Niko mengira Siska marah karena pernyataan cintanya pada Nabila.
"Jawab dong...!" desak Siska dengan tidak sabar.
"Nggak... nggak bilang apa-apa, kok," jawab Niko agak ketakutan.
"Dia tadi bilang apa, Bil?" tanya Siska lagi, kali ini pertanyaannya diajukan pada Nabila.
"Bilang cinta," jawab Nabila polos.
"Coba katakan lagi," pinta Siska pada Niko yang masih tidak mengerti dengan keinginan Siska.
"Aku mencintaimu, Nabila," kata Niko.
Siska dan Nabila saling berpandangan ketika ternyata lampu eksperimen Nabila menyala terang.
"Katakan lagi," kata Siska pada Niko.
"Aku mencintaimu, Nabila," kata Niko pula.
"Gotcha...!" teriak kedua gadis itu bersamaan. Lalu keduanya saling berpelukan sambil melompat-lompat kegirangan.
Niko hanya bengong melihat tingkah kedua temannya itu. Ia benar-benar merasa heran dan bingung dengang perlakuan mereka terhadapnya. Akhirnya Niko pergi dari rumah Nabila tanpa pamit sambil gigit jari.
Beberapa tahun kemudian, Niko terpaksa harus pasrah pada takdir dan menikah dengan Siska. Tapi setiap malam kalau mati lampu, Niko selalu mengatakan, “Aku mencintaimu, Nabila,” untuk menyalakan lampu alternatif yang diberikan oleh Nabila kepada mereka sebagai hadiah pernikahan.
Tentu saja kebiasaan Niko itu membuat Siska sangat gusar. hingga pada suatu hari, Siska memutuskan untuk menemui Nabila dan memintanya agar memodifikasi penemuannya itu. Saat Siska sampai di rumah Nabila, ia mendapati sahabatnya itu masih tertidur pulas dengan posisi melintang di atas kasurnya. Siska memungut bantal guling Nabila yang terjatuh dari tempat tidur lalu memukulkannya pada tubuh Nabila.
Nabila terperanjat kaget dan terbangun dari tidurnya. Ketika melihat Siska sudah ada di kamarnya dengan seragam sekolah lengkap, ia tertawa terbahak-bahak mengingat mimpinya yang baru saja usai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar