Aku mengenalnya sejak hampir tiga tahun yang lalu, di bulan pertama aku duduk di kelas X. Waktu itu aku datang ke rumah temanku, Annisa, untuk mengerjakan tugas kelompok pertamaku, kebetulan dia sedang berada di rumah Annisa. Dia hanya memandangku beberapa saat, dan waktu aku melihat ke arahnya, dia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan santun lalu pergi meninggalkan kami. Namun justru senyum santun dalam pertemuan sesaat itu yang terekam dengan baik dalam ingatanku. Walau beberapa bulan setelah itu aku tidak pernah melihatnya lagi.
Namanya Rahmat, begitu kata Annisa waktu itu tanpa kutanya. Dia adalah kakak sepupu Annisa yang baru saja lulus sarjana dan sekarang bekerja sebagai fasilitator. Hanya itu yang aku tahu.
Enam bulan sejak pertemuan pertama, saat mau pulang sekolah, aku melihatnya melintas di depan sekolahku, tanpa kuduga dia menghentikan sepeda motornya dan menawarkan jasa untuk mengantarku pulang.
"Akang mau kemana?" Tanyaku setelah aku duduk di jok belakang sepeda motornya.
"Ke kantor," jawabnya singkat. "Tadi abis ngontrol pekerjaan di belakang sekolahmu," lanjutnya.
Aku tidak bertanya lagi, hanya berani menduga-duga pekerjaan yang dia maksud dan untuk jawabannya, aku berniat untuk mengajak Annisa melihat pekerjaannya itu keesokan harinya.
Sejak pertemuan kedua itu, hampir setiap kali datang ke rumah Annisa, aku pasti bertemu dengannya. Bahkan dia mengajakku untuk belajar komputer bersama Annisa. Tentu saja aku senang menerima ajakannya itu, selain karena setiap minggu bisa ketemu, ternyata dia mengajarkan keterampilan komputer dan trik-triknya yang tidak kupelajari di sekolah. Disamping itu juga aku senang karena dapat kursus komputer gratis.
"Yang penting bisa dulu, urusan ijazah mah nanti aja ikut ujian persamaan," begitu kata Annisa dalam candanya.
Tiga tahun berlalu, tidak ada yang istimewa di antara aku dan Kang Rahmat, kecuali perasaan yang terpendam dalam hatiku dan sebuah pertanyaan yang belum terjawab atas kalimat yang sering diucapkannya. Sudah lama aku tidak berusaha mencari jawaban itu, mungkin karena seringnya dia mengucapkan kalimat yang sama dengan tanpa penjelasan.
"Tadi malem aku mimpiin kamu," begitu katanya ketika suatu hari aku datang ke rumah Annisa untuk kursus komputer gratis.
"Aku diapain, Kang?" Tanyaku seraya bercanda.
"Ada aja..." Jawabnya sambil senyum-senyum.
Tentu saja jawabannya itu membuatku berfikir yang tidak-tidak. Tapi ya tidak apa-apa sih, kan cuma dalam mimpi, itupun kalau memang dia mimpiin yang tidak-tidak itu. Karena pada kenyataanya, Kang Rahmat tidak mungkin melakukan perbuatan yang dilarang oleh agamanya, jangankan untuk berbuat yang tidak senonoh, menyentuh ujung jariku pun dia nggak pernah. Dia adalah muslim yang sangat taat, seperti keluarga Annisa. Dan semakin banyak aku mengenalnya, semakin aku berusaha untuk membenamkan perasaan dan angan-anganku tentang Kang Rahmat. Walau keluarga ini tidak pernah mempermasalahkan perbedaan di antara kami, tapi aku tidak yakin mereka bisa menerimaku sebagai bagian dari keluarga dengan alasan yang cukup klasik, aku tidak seagama dengan mereka.
Tapi selama tiga tahun ini aku cukup merasa senang dan bahagia karena bisa mengenal keluarga Annisa dan Kang Rahmat dengan segala kelebihannya walau kadang-kadang aku merasa risih dengan perbedaanku yang sering dipermasalahkan oleh sebagian orang walau hanya untuk berteman atau bersahabat. Namun keluarga ini tidak pernah menyinggung masalah itu, bahkan mereka sangat menghargaiku.
"Kamu suka ya sama Kang Rahmat?" Tanya Annisa pada suatu hari saat jam istirahat di taman kecil halaman belakang sekolah. Mungkin karena aku terlalu banyak nanya tentang Kang Rahmat.
"Koq diem?" Tanya Annisa lagi karena aku tidak segera memberikan jawaban atas pertanyaannya.
"Aku gak tau," jawabku.
"Kalo ternyata Kang Rahmat juga suka sama kamu, gimana?" Annisa tersenyum menggodaku
"Yang itu aku baru tau," jawabku sambil tertawa.
"Pertanyaanku serius, Kris," Kata Annisa setengah memelas mengharapkan jawaban dariku.
"Aku kan beda, Nis," kataku pelan. Akhirnya kalimat itu keluar juga dari lisanku dan sungguh diluar dugaanku, Annisa marah.
"Itu pengakuanmu ya, Kris. Bukan aku yang bilang," katanya sambil beranjak dari duduknya dan pergi ke kelas meninggalkan aku di halaman belakang.
"Maafin aku, Nis. Kamu jangan marah dong..." kataku setelah berada di kelas.
Annisa menarik tanganku dan menyuruhku duduk di bangku sebelahnya. Lalu dia berkata pelan, "kamu gak tau ya, seorang muslim itu boleh menikahi non muslimah."
"Koq menikah sih...?" Kataku dengan suara agak keras hingga teman-teman lain menoleh ke arah kami. Aku melihat ke arah Annisa yang menertawakan tingkahku sambil menutupi mulutnya. Jujur saja, pernyataan Annisa tadi membuat hatiku berbunga-bunga seperti taman kecil di halaman belakang sekolah.
"Menikah boleh, tapi kalo pacaran gak boleh," kata Annisa lagi dengan suara yang lebih pelan seolah-olah dia tidak ingin teman-teman sekelas tahu apa yang sedang kami bicarakan.
Bunga hatiku kembali kuncup ketika aku berpikir bahwa apa yang dikatakan Annisa waktu itu hanya untuk menghiburku saja, sekaligus menegaskan bahwa dia tidak pernah mempermasalahkan perbedaan aqidah (begitu Annisa menyebutnya) yang ada di antara aku dan keluarganya, termasuk Kang Rahmat. Tapi bukan itu saja yang membuat bunga hatiku layu, juga karena tadi waktu di kelas Annisa mengatakan bahwa Kang Rahmat dipindahkan kerjanya.
Sebuah sepeda motor menepi dan menghalangi langkahku, walau pengendaranya belum memperlihatkan wajah, tapi aku tahu bahwa itu Kang Rahmat yang mau kekantor setelah keliling kecamatan ngontrol kegiatan pembangunan infrastruktur di desa-desa. Dan kebetulan jalan yang menuju ke kantornya itu melewati rumahku, makanya dia selalu mengantarku pulang jika kebetulan lewat sekolahku saat jam belajar habis. Seperti hari ini.
"Makasih, Kang," kataku sambil melompat dari jok belakang motornya. Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung melangkah menuju halaman rumahku.
"Hey...!" Kang Rahmat memanggilku. Ini tidak seperti biasa, karena biasanya Kang Rahmat langsung pergi setelah aku turun. Aku menghentikan langkah dan membalikkan badanku. Kang Rahmat memandangku tanpa mengatakan apa-apa.
"Ada apa, Kang?" Tanyaku sambil kembali mendekatinya.
Kang Rahmat hanya diam, pandangannya tidak ke arahku, tapi dapat aku lihat dari raut wajahnya bahwa dia sedang berusaha meredam perasaan dan ingin mengatakan sesuatu padaku. Terkaku dia akan mengatakan bahwa dia mau pindah.
Cukup lama aku berdiri didekatnya, menunggu apa yang akan dia katakan dengan perasaanku yang tidak menentu sambil mencari-cari jawaban untuk pernyataan yang akan dikatakan Kang Rahmat mungkin untuk yang terakhir kali, mengingat dia akan pergi besok pagi.
"Aku mimpiin kamu," katanya tiba-tiba. Sebuah kalimat yang cukup sering kudengar di ucapkan oleh Kang Rahmat yang biasanya diucapkan sambil tersenyum dan menggodaku. Tapi kali ini ekspresi wajahnya berbeda, dia terlihat serius dan tidak ada senyum.
Aku bingung harus berkata apa, karena Annisa pernah bilang bahwa mimpi yang dimaksud oleh Kang Rahmat bukanlah bunga tidur, tapi sesuatu yang lain, yang mungkin belum saatnya dia katakan padaku. Dan aku yakin, Kang Rahmat juga tidak mengabaikan begitu saja sesuatu yang ada di antara kami, yang mereka sebut dengan perbedaan aqidah. Aku selalu menangis setiap kali memikirkan hal itu. "Ah, Akang, kirain mau bilang apa," kataku seraya membalikan badanku dan langsung menuju ke rumah.
Kang Rahmat tidak mencegahku lagi, dan aku mendengar suara sepeda motornya menjauh. Aku memandang kepergiannya dari teras rumahku, mungkin aku tidak akan punya kesempatan untuk bertemu dengannya lagi, mungkin aku tidak akan punya waktu untuk mendengar candaannya lagi, dan mungkin aku pernah mendengar lagi kalimat yang sering dia ucapkan, "tadi malem aku mimpiin kamu."
Aku baru selesai makan malam bersama keluargaku saat HP-ku memanggil, dan aku buru-buru ke kamar untuk menjawabnya. Ternyata Annisa yang menelepon.
"Hallo..." Kataku.
"Tadi siang kamu pulang bareng Kang Rahmat ya?" Tanya Annisa.
"Iya, kenapa?"
"Terus kenapa sekarang gak kesini?"
"Emangnya ada apa?"
"Kang Rahmat nggak bilang gitu?"
"Nggak, Nis. Tadi dia nggak bilang apa-apa koq. Emangnya ada apa?"
"Dia ngadain acara walimatussafar. Kamu kesini ya."
"Nggak ah, malu, aku kan nggak ngerti."
"Maksud kamu nggak ngerti apanya?"
"Ya acaranya itu."
"Maksudmu walimatussafar?"
"Iya, Nis hehehe..."
"Itu kan cuma istilah bahasa, Kris. Isi acara cuma makan bareng hehehe... Kesini ya."
"Tapi kan Kang Rahmat kan ngundang aku, Nis."
"Panitia acaranya kan aku, Kris. Udah deh, cepetan sini."
"Nggak bisa, Nis, kakakku belum pulang, jadi nggak ada kendaraan."
"Ooo... Ya udah, tapi besok pagi kesini ya, sebelum jam tujuh."
"Iya, Nis."
"Ya udah, aku mau bantu nyiapin jamuan dulu. Jangan lupa besok."
"Oke." Jawabku.
Keesokan harinya, sebelum jam tujuh pagi aku sudah berada di halaman rumah keluarga Annisa. Walau sebenarnya aku sudah cukup akrab dengan keluarga ini, tapi tetap saja aku merasa malu untuk ikut dalam acara keluarga mereka. Kalau aku tidak takut Annisa marah, aku pasti tidak akan datang.
"Kenapa cuma berdiri aja? Ayo masuk," ajak Bundanya Annisa yang tiba-tiba berada di belakangku sambil memegang pergelangan tangan kiriku. Aku mengikuti langkahnya menuju pintu dan masuk ke rumah yang hampir tiap minggu aku kunjungi. Aku disuruh langsung ke kamar Annisa di lantai atas dan disana aku lihat Annisa sedang asik di depan cermin hingga tidak menyadari kedatanganku.
"Calon bidadari syurga," kataku mencoba memuji Annisa, sahabat terbaikku sejak tiga tahun yang lalu itu.
"Amiin," jawab Annisa tanpa menoleh ke arahku.
"Kamu mau kemana, Nis?" Tanyaku heran melihat dandanan Annisa yang lebih dari biasanya.
"Kan mau nganterin Kang Rahmat," jawab Annisa seolah-olah aku sudah diberi tahu sebelumnya.
"Trus aku disuruh kesini ngapain?" Tanyaku masih belum mengerti.
"Kamu harus ikut," jawab Annisa datar dan tidak peduli dengan kebingunganku.
"Nggak ah... Kirain acara disini aja."
"Pokoknya kamu harus ikut, itung-itung liburan sebelum sibuk kuliah."
"Malu ih... Lihat pakaianku," kataku memaksa Annisa untuk melihat ke arahku.
Annisa tertawa, "dasar preman..." katanya sambil membuka lemari pakainnya. "Pake bajuku aja, pilih mana yang kamu suka."
"Tapi, Nis..."
"Kamu nggak dilarang untuk pake jilbab dan kerudung kan?"
"Ya nggak, tapi..."
"Ya udah, pake aja."
Aku menuruti aja kemauan Annisa, karena aku lihat Annisa sudah mulai marah, lagi pula tidak ada salahnya menggunakan pakaian seperti Annisa, toh aku tidak punya niat untuk membohongi orang lain atau hanya untuk mendustai hati, karena aku memang menginginkannya. Dan setelah selesai dengan pakaianku, Annisa bengong sambil memperhatikan sekujur tubuhku dari atas sampe bawah.
"Kamu Kristin kan?" Tanya Annisa seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Entah benar-benar heran atau hanya pura-pura untuk menggodaku.
"Bukan, Teh, kenalin namaku Hafizah," kataku meladeni candaan Annisa seraya keluar dari kamarnya dan langsung menuju lantai bawah.
Annisa tertawa mendengar candaanku.
"Kristin..." Kata Bunda Annisa sambil memandangiku dengan terheran-heran.
"Kenapa, Bunda?" Tanyaku
"Kamu cantik banget," pujinya seakan tidak pernah melihatku.
"Bunda bisa aja."
"Rahmat sini!" Teriak Bunda Annisa kepada Kang Rahmat yang baru saja tiba.
"Ada apa, Bunda?" Tanya Kang Rahmat sambil mendekat.
"Kenal dia apa nggak?" Tanya Bunda Annisa pada Kang Rahmat sambil menunjuk ke arahku.
Kang Rahmat menoleh ke arahku. Tidak telihat ekpresi apa pun di wajahnya, "Ya kenal dong, Bunda, aku sering melihatnya," kata Kang Rahmat sambil tersenyum ke arahku.
"Emangnya Akang lihat aku dimana?" Tanyaku.
"Dalam mimpi tadi malem," jawab Kang Rahmat.
"Mmmm... dasar jaim," Bunda Annisa mengejek Kang Rahmat.
"Jaga iman itu wajib," kata Kang Rahmat lagi.
Siapa sebenarnya aku dalam mimpi-mimpinya Kang Rahmat? Benarkah dia sering memimpikan aku dalam tidurnya? Atau hanya untuk menggodaku saja? Atau mungkin benar apa yang dikatakan Annisa bahwa Kang Rahmat menyukaiku dan mimpi yang dimaksud hanyalah kiasan kata.
"Kamu jangan ngelamun gitu," kata Annisa yang ternyata sudah turun dan duduk di sampingku. "Dia bilang di Seluma nggak lama, hanya 3 atau 4 tahun saja, jadi saat kita selesai kuliah nanti, Kang Rahmat sudah kembali kesini."
"Aku nggak lagi mikirin dia koq," kataku pura-pura.
"Ya nggak apa-apa, aku hanya nyampein informasi, kalo kamu nggak butuh ya hapus aja pake ini nih..." jawab Annisa sambil memasukkan sebuah karet gelang ke pergelangan tanganku.
Kami pun beranjak dari tempat duduk ketika Bunda Annisa mengajak kami untuk berangkat. Dalam mobil itu hanya keluarga Annisa ditambah Kang Rahmat dan aku.
"Keluarga Kang Rahmat nggak ikut?" Tanyaku pada Annisa dengan berbisik.
"Ikut kemana?" Tanya Annisa.
"Nganterin."
"Sebenarnya ini acara ayah, Kang Rahmat cuma nebeng sampe ke terminal."
"Iiihh... Trus kita mau kemana?"
"Tangkuban Parahu."
"Kenapa nggak ngasih tau aku dari tadi?"
"Emangnya kenapa?"
"Kalo tau dari tadi kan aku bisa bawa sendok nasi."
"Untuk apa emang?"
"Ya buat dayung, siapa tau sesampainya disana nanti perahunya nggak nangkub lagi."
Seperti diberi komando, Ayah, Bunda dan kedua adiknya Annisa serta Kang Rahmat tertawa mendengar guyonanku. Annisa melotot ke arahku karena merasa dikerjai, lalu Annisa memeluk tubuhku sekuat tenaganya untuk melepaskan kekesalannya terhadapku sampai aku kesulitan untuk bernafas.
Tidak memakan waktu sampai satu jam, kami pun tiba di terminal bis yang menjadi tujuan Kang Rahmat dan bis yang akan membawanya berangkat 10 menit lagi dan kami menunggu disitu sampai Kang Rahmat pergi.
Annisa mengajakku turun dari ketika terlihat Kang Rahmat berjalan menuju bisnya, dan dia menghentikan langkahnya ketika melihat aku turun lalu dia mendekatiku dan Annisa. Entah kenapa tiba-tiba kelopak mataku terasa basah dan beberapa saat kemudian ada setetes air bening yang jatuh di ujung kerudungku, aku coba untuk menyembunyikannya, tapi...
"Kenapa kamu nangis?" Tanya Kang Rahmat dengan suara yang tertahan.
Aku tidak menjawab, karena aku sendiri tidak mengerti dengan perasaanku dan kenapa aku harus menangisi kepergiannya. Andai saja Kang Rahmat punya perasaan yang sama denganku, pasti tidak akan mempertanyakan tangisanku.
"Aku akan kembali," katanya lagi sambil memandangku.
Aku belum mampu untuk bicara, bahkan sampai ketika Kang Rahmat mulai melangkah menjauh meninggalkanku.
"Akang...!" Teriakku saat melihatnya menaiki tangga bis.
Kang Rahmat menoleh ke arahku dan dengan langkah cepat, di kembali mendekatiku. "Bekali aku sesuatu, walau hanya sepatah kata," katanya setelah berada tepat di hadapanku.
"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu sama Akang."
"Iya, terserah kamu."
"Bagaimana aku dalam mimpi-mimpi Akang?"
"Aku akan jawab kalo kamu janji nggak akan marah."
"Iya. Aku janji."
"Aku mimpi kamu taslim."
Mendengar jawabannya membuatku semakin tidak mampu menahan tangis. Annisa memelukku dan memapahku masuk kembali ke dalam mobil. Dari balik kaca aku melihat bis yang membawa Kang Rahmat mulai beranjak meninggalkan terminal.
Maafkan aku, Kang... Aku belum mampu mewujudkan impian Akang. Tapi aku janji akan mewujudkannya walau Akang sudah tidak berada disini untuk jadi pembimbingku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar