“Jum’atan dulu, Kang,” kata Iwan mencoba mengingatkan
Adrian yang terlihat masih sibuk meneliti isi lembar demi lembar kertas yang
keluar satu per satu dari mesin pencetak. “Ini Jum’at Akang yang pertama di
Ciparay,” lanjut Iwan sambil tersenyum.
“Iya, duluan aja,” jawab Adrian tanpa menoleh ke arah
teman kerjanya itu.
“Sebentar lagi adzan lho, Kang. Jangan lupa, ini
Ciparay, waktu adzannya lebih cepat 22 menit dari Seluma,” kata Iwan masih
berusaha mengingatkan Adrian.
“Lima lembar lagi,” jawab Adrian sambil tersenyum dan
melirik jam digital yang ada di sudut kanan bawah layar laptopnya.
Iwan hanya menjawabnya dengan isyarat mata, lalu dia
keluar dari ruangan itu menuju ke mesjid yang tidak terlalu jauh dari tempat
mereka bekerja.
Pekerjaan Adrian sudah sampai pada halaman terakhir
ketika terdengar suara adzan. Sekali lagi ia melirik ke arah jam di laptopnya
lalu mengambil lembaran terakhir yang keluar dari mesin pencetak dan
menelitinya. “Koq nggak sama sih? Katanya tinggal cetak,” gumam Adrian dengan
sedikit kesal. Kemudian perhatiannya kembali pada angka-angka dalam tabel di
layar laptopnya, sementara pendengarannya tertuju pada suara yang berasal dari
mesjid.
