Jumat, 23 Agustus 2019

KEJORA DI AMBANG SENJA

“Jum’atan dulu, Kang,” kata Iwan mencoba mengingatkan Adrian yang terlihat masih sibuk meneliti isi lembar demi lembar kertas yang keluar satu per satu dari mesin pencetak. “Ini Jum’at Akang yang pertama di Ciparay,” lanjut Iwan sambil tersenyum.
“Iya, duluan aja,” jawab Adrian tanpa menoleh ke arah teman kerjanya itu.
“Sebentar lagi adzan lho, Kang. Jangan lupa, ini Ciparay, waktu adzannya lebih cepat 22 menit dari Seluma,” kata Iwan masih berusaha mengingatkan Adrian.
“Lima lembar lagi,” jawab Adrian sambil tersenyum dan melirik jam digital yang ada di sudut kanan bawah layar laptopnya.
Iwan hanya menjawabnya dengan isyarat mata, lalu dia keluar dari ruangan itu menuju ke mesjid yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka bekerja.
Pekerjaan Adrian sudah sampai pada halaman terakhir ketika terdengar suara adzan. Sekali lagi ia melirik ke arah jam di laptopnya lalu mengambil lembaran terakhir yang keluar dari mesin pencetak dan menelitinya. “Koq nggak sama sih? Katanya tinggal cetak,” gumam Adrian dengan sedikit kesal. Kemudian perhatiannya kembali pada angka-angka dalam tabel di layar laptopnya, sementara pendengarannya tertuju pada suara yang berasal dari mesjid.

“Surat Al-Baqarah ayat 44,” gumam Adrian ketika terdengar suara khatib membuka khutbah dengan membacakan salah satu ayat Qur’an.
“Astaghfirullaahal’adziim...” Adrian terperanjat kaget sesaat setelah mengingat kandungan ayat tersebut dan bergegas meninggalkan tempat duduknya lalu dengan setengah berlari ia menuju mesjid. Setelah berwudlu, Adrian segera mencari tempat duduk dan cukup lama ia memperhatikan shaf terdepan, tapi jangankan shaf terdepan, bahkan ruangan masjid pun sudah penuh dengan jemaah. Akhirnya Adrian mencari tempat yang hampir tidak ia dapatkan di teras masjid.
“Jum’at depan aku akan berangkat lebih awal,” janjinya dalam hati. Tapi bukan baru kali ini Adrian menjanjikan hal yang sama, bahkan hampir setiap hari Jum’at dalam delapan tahun terakhir selama tinggal dan bekerja di Kabupaten Seluma, ia memberikan janji yang serupa. Dan dia bukan tidak ingat, tapi kesibukanlah yang membuatnya harus mengingkari janji yang satu itu. Tidak hanya Shalat Jum’at, tapi hampir semua shalat wajib dia laksanakan tidak tepat waktu. Dan ketika harus masbuk, dia pun berjanji, “besok aku akan datang tepat waktu.”
Adrian kembali ke tempat kerjanya setelah Shalat Jum’at berakhir dan kembali duduk di kursi yang tadi ditinggalkannya. Matanya tertuju mata layar laptop yang ada di hadapannya, namun pikirannya masih pada kejadian yang dialaminya di mesjid tadi. Rasa menyesal dan kesal pada dirinya sendiri selalu hadir setiap kali hal seperti itu terjadi, padahal dia sadar bahwa kesalahan itu ia lakukan dengan sengaja. Dan untuk menutupi kesalahannya itu, dia sering menggunakan dalih bahwa kesibukannya juga bernilai ibadah, karena apa yang dikerjakannya adalah untuk kepentingan orang banyak yang nota bene adalah orang-orang miskin yang menjadi penerima manfaat dari program pemerintah.
Namun dalih yang tidak pernah dia ungkapkan itu tidak berhasil membuat hatinya tentram, perasaan berdosa pada Sang Khaliq seringkali menghantui aktifitasnya. Dan setiap kali teringat pada masa-masa sebelum ia bekerja, disaat ia bisa merasakan nikmatnya kekuatan iman, ia pun bertekad dan berjanji untuk kembali pada jalan itu, bahkan pernah terbersit niat untuk mencari pekerjaan lain yang tidak terlalu menyita waktunya.
“Kamu koq ikut sibuk bikin proposal dan LPJ sih, Dri? Tugasmu kan hanya sebagai pendamping,” kata Anna, kakak sepupu Adrian yang menyarankannya untuk bergabung dengan PNPM sembilan tahun yang lalu.
Adrian hanya tersenyum, karena awalnya dia juga berpikir seperti itu, tapi faktanya para sukarelawan yang berada di bawah dampingannya tidak memiliki kemampuan intelektual yang cukup, jangankan untuk menyusun proposal dan RAB, menggunakan komputer saja masih pada belum faham. Faktor itu sebenarnya yang membuat Adrian jadi punya pekerjaan lebih, apa lagi ketika Adrian harus bertugas di Kabupaten Seluma, pekerjaannya pun bertambah karena SDM disana masih kurang dan kondisi lapangan dengan jarak tempuh yang cukup jauh, membuat Adrian harus menyiapkan waktu dan tenaga yang lebih banyak.
“Kang Rudi nitip proposal nggak, Kang?” Tanya Iwan dengan spontan mengakhiri lamunan Adrian.
“Nggak,” jawab Adrian singkat seraya mencoba kembali fokus pada pekerjaannya.
“Itu harus selesai hari ini lho, Kang. Ba’da maghrib nanti kita harus membawanya ke satker, mereka bersedia nunggu kita sampe jam 9 malem,” kata Iwan.
“Iya, selesai ini nanti saya temui Kang Rudi,” balas Adrian.
Iwan terlihat berbicara dengan seseorang melalui selulernya, tidak begitu serius, tapi ada ancaman halus yang diucapkan Iwan di sela tawanya. Dan ketika Adrian meliriknya sambil tersenyum, Iwan hanya mengedipkan sebelah matanya.
“Saya kesana sekarang, Kang,” kata Adrian setelah Iwan menutup selulernya. Adrian merasa sedikit tidak enak, karena Rudi adalah rekannya sewaktu Adrian masih berstatus sukarelawan dan proposal yang dimaksud oleh Iwan adalah pengajuan dari salah satu kelompok pelajar yang ada di desanya.
“Sebentar lagi adzan, Kang. Nanti aja abis Shalat Ashar,” kata Iwan yang hampir tiap waktu mengingatkan Adrian pada kewajiban utamanya.
“Saya shalat disana aja,” balas Adrian sambil mengatur pencetakan di laptopnya dan berkemas. “Nitip ya, Kang. 246 lembar,” kata Adrian lagi pada Iwan sambil menunjuk pada mesin pencetak yang sudah mulai mengeluarkan lembaran kertas.
“Ini Ciparay lho, Kang,” kata Iwan seolah tidak menghiraukan permintaan Adrian.
“22 menit lebih cepat kan?” Tanya Adrian yang diakhiri dengan tawa kecil sebelum keluar dari ruangan itu.
Iwan hanya mengeleng-gelengkan kepala melihat kepergian Adrian. Tidak lama kemudian Adzan Ashar pun berkumandang, tapi Adrian sudah terlanjur memacu sepeda motornya keluar dari halaman.
Hanya perlu waktu kurang dari sepuluh menit untuk sampai ke rumah Rudi, tapi ternyata Rudi sedang tidak di rumah. Adrian pun langsung menuju kantor desa seperti yang disarankan oleh ibunya Rudi. Sesampainya disana, Adrian mendapatkan situasi yang cukup ramai karena sepertinya di aula desa sedang ada kegiatan. Setelah memarkir sepeda motornya, Adrian bergegas menuju mesjid yang tidak jauh dari situ, disana ia menemukan orang-orang sedang duduk tasyahud akhir dalam shalat berjamaah dan ketika Adrian baru akan memulai, ia mendengar imam mengucap salam. Akhirnya ia laksanakan Shalat Ashar munfarid.
Dengan langkah gontai Adrian meninggalkan mesjid dan menuju aula desa yang terlihat lebih ramai dari yang ia lihat saat baru sampai kesana tadi. Penyesalan itu kembali menghantuinya, “andai saja aku turuti saran Iwan...” gerutunya dengan kesal, kesal dan marah pada dirinya sendiri.
Adrian hanya berdiri di pintu aula sambil mencari-cari Rudi yang ia yakini ada di antara orang-orang yang hadir di tempat ini. Tapi ketika ia mendengar suara ta’awudz, pandangannya langsung beralih pada sosok gadis kecil yang duduk bersimpuh di atas pentas sambil melafazkan ayat demi ayat Al-Qur’an tanpa membuka kitabnya.
“Ayuni...?” Gumam Adrian.
“Bukan, Kang. Itu Nabila, adik sekaligus muridnya Ayuni,” jawab seorang pria yang entah sejak kapan berdiri disamping Adrian.
Adrian hanya meliriknya, padahal pria itu adalah Rudi, orang yang sedang dicarinya, tapi kini ia tidak mempedulikannya. Perhatiannya masih tertuju pada sosok anak di atas pentas serta ayat-ayat Surat Ash-Shaff yang dilafazkannya dengan tahsin dan makhraj-makhraj yang nyaris sempurna. Kandungan ayat-ayat itu dan suara yang melafazkannya membuat dada Adrian berdegup kencang, dan tanpa ia sadari matanya mulai basah. Tak kuasa menahan air matanya, Adrian bergegas menuju Kantor Sekretariat Paguyuban yang ada di sisi lain halaman kantor desa.
Tapi sesampainya disana Adrian malah menemukan Ayuni, gadis kecil yang ditinggalkannya delapan tahun yang lalu, yang kini sudah menjadi seorang gadis remaja dan berada tepat di hadapannya.
“Kang Adri kenapa nangis?” Tanya Ayuni dengan heran melihat Adrian datang tiba-tiba dengan sebutir airmata membasahi pipinya.
“Yuni kenapa disini? Kenapa nggak temani Nabila?” Adrian balik bertanya dan berusaha menutupi kekagetannya.
“Yuni takut Akang marah, jadi ngumpet disini,” jawab Ayuni.
“Marah kenapa?” Tanya Adrian lagi sambil duduk di atas kursi yang berhadapan dengan Ayuni.
“Dulu kan Akang ngelarang Umi untuk daftarin Yuni dalam lomba kayak gini. Tapi Demi Allah, Kang. Yuni ikutkan Nabila dalam lomba ini tidak dengan niat riya’, Yuni hanya ingin tahu kemampuan Nabila dan untuk melatih mentalnya,” kata Ayuni dengan sedikit takut.
“Nggak apa-apa koq,” jawab Adrian pelan. “Justru Nabila sudah membuat Akang sadar, dan Akang malu sama Nabila,” lanjut Adrian nyaris tidak terdengar.
“Assalaamu’alaikum...” sebuah suara terdengar dari seorang gadis kecil yang berdiri di ambang pintu.
“Wa’alaiku salaam...” jawab Adrian dan Ayuni hampir bersamaan.
Gadis itu masuk dan langsung memeluk Ayuni, “makasih, Teteh,” katanya seraya menciumi pipi kiri dan pipi kanan Ayuni.
Ayuni hanya tersenyum menanggapi sikap adiknya itu, “deg-degan nggak?” Tanya Ayuni.
“Sedikit,” jawab Nabila. “Untung tadi lihat Kang Adri, jadi Bila tambah semangat dan pede,” lanjut Nabila sambil mengalihkan wajahnya ke arah Adrian.
“Apa kabar, Bintang Kecil?” Tanya Adrian pada Nabila sambil tersenyum.
“Alhamdulillaah, seperti yang Akang lihat,” jawab Nabila. “Bila punya sesuatu untuk Kang Adri,” lanjut Nabila sambil memandang Adrian yang sebenarnya baru dia kenal dari cerita Ayuni, karena waktu Adrian pergi, Nabila baru berusia 15 bulan.
“Apa?” Tanya Adrian penasaran, lalu mencoba mencari jawaban dari Ayuni dengan isyarat matanya, namun Ayuni pun hanya menggelengkan kepalanya.
“Tapi di rumah, jadi kalo mau tau, ba’da maghrib nanti Akang datang ke rumah,” Jawab Nabila dengan sedikit manja. “Ada yang kangen lho, Kang,” kata Nabila lagi sambil melirik kakaknya dan tentu saja membuat pipi Ayuni memerah.
“Ba’da maghrib ya...?” Tanya Adrian seakan ditujukan pada dirinya sendiri.
“Kalo nggak bisa ya nggak usah,” kata Yuni tiba-tiba, dia sudah bisa menerka apa yang ada dalam pikiran Adrian. “Yuni juga tau, Akang kesini mau ngambil ini,” lanjut Yuni sambil menunjukkan tiga eksemplar proposal yang dia ambil dari loker meja.
Adrian hanya bisa diam. Dia sadar sepenuhnya bahwa Ayuni yang sekarang berada di hadapannya adalah seorang tokoh remaja yang cukup berpengaruh, yang sudah mampu mewujudkan salah satu cita-citanya membangun sebuah forum sekaligus mengemban tanggungjawab sebagai Ketua Forum Pelajar Manggungharja Kreatif. Ayuni bukan lagi seorang gadis kecil seusia Nabila yang dulu dia tinggalkan, Ayuni bukan lagi gadis kecil yang tidak berani protes dan tidak bisa mengatakan tidak, dan yang hanya bisa pasrah atas kepergian gurunya.
“Proposal ini Yuni cancel,” kata Ayuni lagi membuat Adrian kaget.
“Kenapa?” Tanya Adrian. “Dana untuk proposal itu sudah ada dalam rekening forum, hari Senin sudah bisa diambil dan dibelikan komputer seperti yang Yuni mau,”
“Jadi hanya itu ya yang ada dalam pikiran Kang Adri?” Tanya Yuni sedikit sinis.
“Nggak,” jawab Adrian cepat. “Akang juga sudah memikirkan keberlanjutan forum yang Yuni ketuai,” lanjut Adrian lagi.
“Itu sih sama aja,” kata Ayuni. “Hanya karena hal-hal seperti ini Kang Adri berani melalaikan kewajiban. Yuni tau semua, Kang. Yuni kenal sama teman-teman kerja Kang Adri di Seluma, mereka sering cerita tentang Akang sama Yuni. Cuma Kang Adri yang nggak pernah balas pesan-pesan Yuni.”
“Maafin Kang Adri, Yun,” pinta Adrian.
“Nggak apa-apa koq, Kang,” jawab Yuni. “Yuni memang nggak pantes nasehatin Kang Adri, guru ngaji Yuni. Yuni juga sudah buktikan bahwa orang yang memiliki kemampuan seperti Kang Adri memang sulit ditemukan, tapi sayang,  selama di Seluma Kang Adri tidak punya murid seorang pun. Padahal 6 tahun yang lalu Yuni pernah kirim pesan ke Facebook Akang agar Kang Adri ngajar ngaji juga di sana, tapi pesan itu tidak pernah Akang baca. Temen Akang malah bilang sama Yuni, katanya Kak Adrian itu jangankan ngajarin ngaji, dianya sendiri nggak pernah ngaji.” Yuni mengakhiri kalimatnya dengan isak tangis. “Hati Yuni sakit, Kang,” kata Yuni lagi di sela isak tangisnya.
“Tapi apa pun yang orang katakan, Kang Adri tetep guru bagi Yuni, karena Kang Adri-lah yang mengajari Yuni tentang banyak hal hingga Yuni bisa menjadi seperti sekarang,” kata Ayuni setelah isak tangisnya mereda.
Adrian hanya bisa diam dan menunduk, ia baru sadar, ternyata dosa dan kesalahannya lebih banyak dari yang ia kira. Dia malu pada Ayuni, pada Nabila dan pada dirinya sendiri, terlebih lagi pada Allah karena telah berulangkali mengingkari janjinya. Adrian menarik nafas dalam-dalam, lalu perhatiannya beralih pada Nabila.
 “Nabila ajak Teteh pulang ya, Kang Adri mau ke basecamp dulu nganterin proposal, nanti Kang Adri ke rumah,” kata Adrian pada Nabila.
Nabila hanya mengangguk, lalu ia pegang pergelangan tangan Ayuni yang beranjak dari tempat duduknya dengan perlahan. Sekarang Adrian baru bisa melihat bahwa ternyata Ayuni masih mengenakan seragam sekolahnya lengkap dengan tas yang tadi disimpannya di bawah meja.
“Yuni pulang dulu, Kang. Assalaamu’alaikum,” kata Yuni pamit.
“Wa’alaikum salaam,” jawab Adrian sambil memandangi Nabila yang mencoba untuk tersenyum.
Setelah kedua kakak beradik itu pergi, Rudi masuk menghampiri Adrian dan memegang bahunya, “Beruntung sekali kamu punya murid seperti Ayuni,” katanya. “Aku baru tahu dua tahun yang lalu waktu FPMK diresmikan, dalam sambutannya dia mengatakan bahwa pembentukan forum pelajar itu adalah ide gurunya, dan waktu ada yang bertanya siapa guru yang dia maksud, dia menyebut namamu. Waktu itu dia baru kelas X, tapi kepribadian, kemampuan, dan talentanya luar biasa,” lanjut Rudi.
“Orang nggak akan percaya kalo aku adalah gurunya,” kata Adrian menanggapinya dengan dingin sambil merapikan proposal yang ditinggalkan Ayuni. Adrian baru menyadari bahwa Ayuni sudah bisa melakukan banyak hal termasuk mengerjakan tugas yang menjadi pekerjaan Adrian sewaktu masih berada di tingkat desa, sesuatu yang luar biasa jika mengingat Ayuni yang masih berstatus pelajar SMA. Dan secara tidak langsung Ayuni sudah membuktikan pada Adrian bahwa kesibukan dunia tidak bisa dijadikan alasan untuk melalaikan kewajiban ibadah.
“Aku percaya,” balas Rudi sambil tersenyum dan mengambil proposal dari tangan Adrian. “Maka dari itu, sebaiknya sekarang kamu pulang, bersihkan dirimu dan kembalilah pada mereka. Proposal-proposal ini biar aku yang urus,” lanjut Rudi.
Adrian memandang Rudi dengan kurang yakin pada apa yang dikatakannya, tapi akhirnya dia katakan juga; “Makasih, Bro.”
“Ya sudah, cepet pulang sana.”
Setelah mengucap salam, Adrian bergegas memacu sepeda motornya menuju rumah. Dalam hatinya dia berucap, “harus sampai di rumah sebelum Adzan Maghrib.” Dan ternyata kali ini ternyata dia tepat waktu, lalu dia pun segera membersihkan dirinya kemudian melaksanakan Shalat Maghrib berjamaah di musholla dekat rumahnya.
Beberapa menit kemudian Adrian sudah berada di halaman madrasah yang dulu menjadi tempatnya mengajar ngaji. Kondisi bangunan dan situasinya sudah jauh berbeda, dulu dia hanya mngajar 7 orang murid termasuk Ayuni yang waktu itu masih kelas 5 SD, tapi sekarang Adrian melihat lebih banyak remaja daripada anak kecil, ia pun mulai bertanya-tanya dalam hati, siapa guru mereka sekarang?
“Assalaamu’alaikum,” seseorang mengucap salam dari arah belakang Adrian.
Mendengar suara itu, dengan segera Adrian membalikkan tubuhnya dan langsung menjawab, “Wa’alaikum salaam, Bintang Kecil.”
“Katanya mau ke rumah, koq malah kesini,” kata Nabila sambil cemberut manja.
“Iya, ini juga mau ke rumah,” kata Adrian. “Teh Yuni disini atau di rumah?” Tanya Adrian pula.
Tanpa memberikan jawaban, Nabila menarik tangan Adrian mendekati madrasah sampai Adrian bisa melihat ke dalam salah satu ruangan dimana Ayuni dengan beberapa remaja wanita terlihat sedang membahas sesuatu.
“Mereka lagi ngapain?” Tanya Adrian pada Nabila dengan setengah berbisik.
“Teteh lagi ngajar nahwu shorof,” jawab Nabila sambil terus menarik tangan Adrian menuju ke rumahnya.
“Dana untuk kegiatan sosial kapan cairnya, Dri?” Tanya Anna, Uminya Nabila dan Ayuni yang tidak lain adalah kakak sepupunya Adrian, setelah beberapa lama Adrian duduk di ruang tengah rumah mereka.
“Insya Allah hari Senin, Teh,” jawab Adrian sambil menoleh ke arah Ayuni yang baru masuk.
Ayuni tersenyum pada Adrian sambil merapatkan kedua telapak tangan di depan dadanya. Bibirnya terlihat bergerak mengukir kalimat tanpa suara, lalu duduk di hadapan Adrian.
“Wa’alaikum salaam,” jawab Adrian.
“Kang Adri tadi ngintip Yuni di madrasah ya?” Tanya Yuni.
“Nabila yang ngajak,” jawab Adrian sambil tertawa.
“Kang, Yuni harus ngajuin 1 proposal lagi mungkin ya?” Tanya Yuni lagi dengan tema yang berbeda.
“Untuk apa?” Tanya Adrian yang belum mengerti dengan maksud Ayuni.
“Permohonan agar Kang Adri mau jadi pembina FPMK,” jawab Ayuni dengan senyum.
Adrian hanya tersenyum menanggapi jawaban keponakannya itu yang seolah-olah masih menyindirnya. “Yuni nggak memohon pun Akang udah disini,” kata Adrian.
“Hmmm... Kang Adri datang untuk Nabila bukan untuk Yuni,” balas Ayuni dengan ekspresi merajuk.
“Teteh jangan marah gitu dong,” kata Nabila yang  baru saja keluar dari kamarnya dan berdiri di samping Ayuni. Tangan kanannya memegang sebuah piala, sementara tangan kirinya mendekap selembar piagam. “Yang ini untuk Teteh,” kata Nabila lagi sambil memberikan piala di tangannya kepada Ayuni.
Ayuni menerimanya sambil senyum meski dengan keheranan menerima perlakuan adik tunggalnya ini. “Terimakasih, Sayang,” kata Ayuni sambil memeluk tubuh mungil Nabila.
Setelah itu Nabila beralih pada Adrian, “yang ini untuk guru besarku,” katanya sambil menyodorkan piagam dengan kedua tangannya kepada Adrian.
Adrian berdiri dari duduknya untuk menerima piagam penghargaan yang belum sehari menjadi milik Nabila. Ada rasa malu dan haru dalam hatinya mendapat perlakuan seperti itu dari gadis kecil yang mengakuinya sebagai guru, padahal ia tidak pernah mengajarinya.
“Nabila hafal berapa juz?” Tanya Adrian penasaran karena yang dibaca Nabila dalam perlombaan tadi adalah Surat Ash-Shaff yang berada di juz 29. Adrian berfikir anak ini sudah Tahfidz Qur’an.
Tapi ternyata Nabila enggan memberikan jawaban, “nggak harus orang lain tau kan?” kata Nabila sambil senyum-senyum.
Ayuni pun hanya menggeleng-gelengkankan kepalanya ketika Adrian mencoba mencari tahu darinya, “ya kalo gitu biar besok Kang Adri umumin kalo Nabila udah hafal 30 juz,” kata Adrian seraya melirik Nabila yang langsung protes.
“Nggak... Hmmm,” kata Nabila lalu memberi isyarat dengan jari tangannya.
“Yang tadi kan juz 29,” kata Adrian lagi.
“Aku kan ngapalinnya dari belakang,” jawab Nabila dengan kalemnya, “jadi kalo ada orang nanya sudah hafal berapa surat, jawabanku banyak,” kata Nabila lagi diakhiri dengan tawa.
Ayuni ikut tertawa melihat tingkah adiknya itu, dia pun baru tahu ternyata Nabila punya trik sendiri untuk bisa menghafal Qur’an dengan cepat, karena dia tidak pernah menyarankan Nabila untuk mulai menghafalnya dari juz terakhir. Ayuni hanya mengajarkan trik yang dulu diajarkan oleh Adrian pada dirinya.
        Sementara Adrian hanya memandang kedua kakak beradik itu penuh rasa kagum. Tidak disangka, bayi yang delapan tahun lalu dia tinggalkan, kini sudah menjadi gadis kecil penghafal Qur’an. Bintang kecil yang dia lihat di atas pentas senja tadi, kini terlihat berbinar lebih indah, dengan menujukkan bahwa bintang itu tidak butuh piala, penghargaan atau pujian. Cukuplah dirinya dan Allah yang tahu bahwa Sang Bintang akan menjadi salah satu penjaga kesucian firman-NYA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar