“Jum’atan dulu, Kang,” kata Iwan mencoba mengingatkan
Adrian yang terlihat masih sibuk meneliti isi lembar demi lembar kertas yang
keluar satu per satu dari mesin pencetak. “Ini Jum’at Akang yang pertama di
Ciparay,” lanjut Iwan sambil tersenyum.
“Iya, duluan aja,” jawab Adrian tanpa menoleh ke arah
teman kerjanya itu.
“Sebentar lagi adzan lho, Kang. Jangan lupa, ini
Ciparay, waktu adzannya lebih cepat 22 menit dari Seluma,” kata Iwan masih
berusaha mengingatkan Adrian.
“Lima lembar lagi,” jawab Adrian sambil tersenyum dan
melirik jam digital yang ada di sudut kanan bawah layar laptopnya.
Iwan hanya menjawabnya dengan isyarat mata, lalu dia
keluar dari ruangan itu menuju ke mesjid yang tidak terlalu jauh dari tempat
mereka bekerja.
Pekerjaan Adrian sudah sampai pada halaman terakhir
ketika terdengar suara adzan. Sekali lagi ia melirik ke arah jam di laptopnya
lalu mengambil lembaran terakhir yang keluar dari mesin pencetak dan
menelitinya. “Koq nggak sama sih? Katanya tinggal cetak,” gumam Adrian dengan
sedikit kesal. Kemudian perhatiannya kembali pada angka-angka dalam tabel di
layar laptopnya, sementara pendengarannya tertuju pada suara yang berasal dari
mesjid.
“Surat Al-Baqarah ayat 44,” gumam Adrian ketika
terdengar suara khatib membuka khutbah dengan membacakan salah satu ayat
Qur’an.
“Astaghfirullaahal’adziim...” Adrian terperanjat kaget
sesaat setelah mengingat kandungan ayat tersebut dan bergegas meninggalkan
tempat duduknya lalu dengan setengah berlari ia menuju mesjid. Setelah
berwudlu, Adrian segera mencari tempat duduk dan cukup lama ia memperhatikan
shaf terdepan, tapi jangankan shaf terdepan, bahkan ruangan masjid pun sudah
penuh dengan jemaah. Akhirnya Adrian mencari tempat yang hampir tidak ia
dapatkan di teras masjid.
“Jum’at depan aku akan berangkat lebih awal,” janjinya
dalam hati. Tapi bukan baru kali ini Adrian menjanjikan hal yang sama, bahkan
hampir setiap hari Jum’at dalam delapan tahun terakhir selama tinggal dan
bekerja di Kabupaten Seluma, ia memberikan janji yang serupa. Dan dia bukan
tidak ingat, tapi kesibukanlah yang membuatnya harus mengingkari janji yang
satu itu. Tidak hanya Shalat Jum’at, tapi hampir semua shalat wajib dia
laksanakan tidak tepat waktu. Dan ketika harus masbuk, dia pun berjanji, “besok
aku akan datang tepat waktu.”
Adrian kembali ke tempat kerjanya setelah Shalat Jum’at
berakhir dan kembali duduk di kursi yang tadi ditinggalkannya. Matanya tertuju
mata layar laptop yang ada di hadapannya, namun pikirannya masih pada kejadian
yang dialaminya di mesjid tadi. Rasa menyesal dan kesal pada dirinya sendiri
selalu hadir setiap kali hal seperti itu terjadi, padahal dia sadar bahwa
kesalahan itu ia lakukan dengan sengaja. Dan untuk menutupi kesalahannya itu,
dia sering menggunakan dalih bahwa kesibukannya juga bernilai ibadah, karena
apa yang dikerjakannya adalah untuk kepentingan orang banyak yang nota bene
adalah orang-orang miskin yang menjadi penerima manfaat dari program
pemerintah.
Namun dalih yang tidak pernah dia ungkapkan itu tidak
berhasil membuat hatinya tentram, perasaan berdosa pada Sang Khaliq seringkali
menghantui aktifitasnya. Dan setiap kali teringat pada masa-masa sebelum ia
bekerja, disaat ia bisa merasakan nikmatnya kekuatan iman, ia pun bertekad dan
berjanji untuk kembali pada jalan itu, bahkan pernah terbersit niat untuk
mencari pekerjaan lain yang tidak terlalu menyita waktunya.
“Kamu koq ikut sibuk bikin proposal dan LPJ sih, Dri?
Tugasmu kan hanya sebagai pendamping,” kata Anna, kakak sepupu Adrian yang
menyarankannya untuk bergabung dengan PNPM sembilan tahun yang lalu.
Adrian hanya tersenyum, karena awalnya dia juga
berpikir seperti itu, tapi faktanya para sukarelawan yang berada di bawah
dampingannya tidak memiliki kemampuan intelektual yang cukup, jangankan untuk
menyusun proposal dan RAB, menggunakan komputer saja masih pada belum faham.
Faktor itu sebenarnya yang membuat Adrian jadi punya pekerjaan lebih, apa lagi
ketika Adrian harus bertugas di Kabupaten Seluma, pekerjaannya pun bertambah
karena SDM disana masih kurang dan kondisi lapangan dengan jarak tempuh yang
cukup jauh, membuat Adrian harus menyiapkan waktu dan tenaga yang lebih banyak.
“Kang Rudi nitip proposal nggak, Kang?” Tanya Iwan
dengan spontan mengakhiri lamunan Adrian.
“Nggak,” jawab Adrian singkat seraya mencoba kembali
fokus pada pekerjaannya.
“Itu harus selesai hari ini lho, Kang. Ba’da maghrib
nanti kita harus membawanya ke satker, mereka bersedia nunggu kita sampe jam 9
malem,” kata Iwan.
“Iya, selesai ini nanti saya temui Kang Rudi,” balas
Adrian.
Iwan terlihat berbicara dengan seseorang melalui
selulernya, tidak begitu serius, tapi ada ancaman halus yang diucapkan Iwan di
sela tawanya. Dan ketika Adrian meliriknya sambil tersenyum, Iwan hanya
mengedipkan sebelah matanya.
“Saya kesana sekarang, Kang,” kata Adrian setelah Iwan
menutup selulernya. Adrian merasa sedikit tidak enak, karena Rudi adalah
rekannya sewaktu Adrian masih berstatus sukarelawan dan proposal yang dimaksud
oleh Iwan adalah pengajuan dari salah satu kelompok pelajar yang ada di
desanya.
“Sebentar lagi adzan, Kang. Nanti aja abis Shalat
Ashar,” kata Iwan yang hampir tiap waktu mengingatkan Adrian pada kewajiban
utamanya.
“Saya shalat disana aja,” balas Adrian sambil mengatur
pencetakan di laptopnya dan berkemas. “Nitip ya, Kang. 246 lembar,” kata Adrian
lagi pada Iwan sambil menunjuk pada mesin pencetak yang sudah mulai
mengeluarkan lembaran kertas.
“Ini Ciparay lho, Kang,” kata Iwan seolah tidak
menghiraukan permintaan Adrian.
“22 menit lebih cepat kan?” Tanya Adrian yang diakhiri
dengan tawa kecil sebelum keluar dari ruangan itu.
Iwan hanya mengeleng-gelengkan kepala melihat kepergian
Adrian. Tidak lama kemudian Adzan Ashar pun berkumandang, tapi Adrian sudah
terlanjur memacu sepeda motornya keluar dari halaman.
Hanya perlu waktu kurang dari sepuluh menit untuk
sampai ke rumah Rudi, tapi ternyata Rudi sedang tidak di rumah. Adrian pun
langsung menuju kantor desa seperti yang disarankan oleh ibunya Rudi.
Sesampainya disana, Adrian mendapatkan situasi yang cukup ramai karena
sepertinya di aula desa sedang ada kegiatan. Setelah memarkir sepeda motornya,
Adrian bergegas menuju mesjid yang tidak jauh dari situ, disana ia menemukan
orang-orang sedang duduk tasyahud akhir dalam shalat berjamaah dan ketika Adrian
baru akan memulai, ia mendengar imam mengucap salam. Akhirnya ia laksanakan
Shalat Ashar munfarid.
Dengan langkah gontai Adrian meninggalkan mesjid dan
menuju aula desa yang terlihat lebih ramai dari yang ia lihat saat baru sampai
kesana tadi. Penyesalan itu kembali menghantuinya, “andai saja aku turuti saran
Iwan...” gerutunya dengan kesal, kesal dan marah pada dirinya sendiri.
Adrian hanya berdiri di pintu aula sambil mencari-cari
Rudi yang ia yakini ada di antara orang-orang yang hadir di tempat ini. Tapi
ketika ia mendengar suara ta’awudz, pandangannya langsung beralih pada sosok
gadis kecil yang duduk bersimpuh di atas pentas sambil melafazkan ayat demi
ayat Al-Qur’an tanpa membuka kitabnya.
“Ayuni...?” Gumam Adrian.
“Bukan, Kang. Itu Nabila, adik sekaligus muridnya
Ayuni,” jawab seorang pria yang entah sejak kapan berdiri disamping Adrian.
Adrian hanya meliriknya, padahal pria itu adalah Rudi,
orang yang sedang dicarinya, tapi kini ia tidak mempedulikannya. Perhatiannya
masih tertuju pada sosok anak di atas pentas serta ayat-ayat Surat Ash-Shaff
yang dilafazkannya dengan tahsin dan makhraj-makhraj yang nyaris sempurna.
Kandungan ayat-ayat itu dan suara yang melafazkannya membuat dada Adrian
berdegup kencang, dan tanpa ia sadari matanya mulai basah. Tak kuasa menahan
air matanya, Adrian bergegas menuju Kantor Sekretariat Paguyuban yang ada di
sisi lain halaman kantor desa.
Tapi sesampainya disana Adrian malah menemukan Ayuni,
gadis kecil yang ditinggalkannya delapan tahun yang lalu, yang kini sudah menjadi
seorang gadis remaja dan berada tepat di hadapannya.
“Kang Adri kenapa nangis?” Tanya Ayuni dengan heran
melihat Adrian datang tiba-tiba dengan sebutir airmata membasahi pipinya.
“Yuni kenapa disini? Kenapa nggak temani Nabila?”
Adrian balik bertanya dan berusaha menutupi kekagetannya.
“Yuni takut Akang marah, jadi ngumpet disini,” jawab
Ayuni.
“Marah kenapa?” Tanya Adrian lagi sambil duduk di atas
kursi yang berhadapan dengan Ayuni.
“Dulu kan Akang ngelarang Umi untuk daftarin Yuni dalam
lomba kayak gini. Tapi Demi Allah, Kang. Yuni ikutkan Nabila dalam lomba ini
tidak dengan niat riya’, Yuni hanya ingin tahu kemampuan Nabila dan untuk
melatih mentalnya,” kata Ayuni dengan sedikit takut.
“Nggak apa-apa koq,” jawab Adrian pelan. “Justru Nabila
sudah membuat Akang sadar, dan Akang malu sama Nabila,” lanjut Adrian nyaris
tidak terdengar.
“Assalaamu’alaikum...” sebuah suara terdengar dari
seorang gadis kecil yang berdiri di ambang pintu.
“Wa’alaiku salaam...” jawab Adrian dan Ayuni hampir
bersamaan.
Gadis itu masuk dan langsung memeluk Ayuni, “makasih,
Teteh,” katanya seraya menciumi pipi kiri dan pipi kanan Ayuni.
Ayuni hanya tersenyum menanggapi sikap adiknya itu,
“deg-degan nggak?” Tanya Ayuni.
“Sedikit,” jawab Nabila. “Untung tadi lihat Kang Adri,
jadi Bila tambah semangat dan pede,” lanjut Nabila sambil mengalihkan wajahnya
ke arah Adrian.
“Apa kabar, Bintang Kecil?” Tanya Adrian pada Nabila
sambil tersenyum.
“Alhamdulillaah, seperti yang Akang lihat,” jawab
Nabila. “Bila punya sesuatu untuk Kang Adri,” lanjut Nabila sambil memandang
Adrian yang sebenarnya baru dia kenal dari cerita Ayuni, karena waktu Adrian
pergi, Nabila baru berusia 15 bulan.
“Apa?” Tanya Adrian penasaran, lalu mencoba mencari
jawaban dari Ayuni dengan isyarat matanya, namun Ayuni pun hanya menggelengkan
kepalanya.
“Tapi di rumah, jadi kalo mau tau, ba’da maghrib nanti
Akang datang ke rumah,” Jawab Nabila dengan sedikit manja. “Ada yang kangen
lho, Kang,” kata Nabila lagi sambil melirik kakaknya dan tentu saja membuat
pipi Ayuni memerah.
“Ba’da maghrib ya...?” Tanya Adrian seakan ditujukan
pada dirinya sendiri.
“Kalo nggak bisa ya nggak usah,” kata Yuni tiba-tiba,
dia sudah bisa menerka apa yang ada dalam pikiran Adrian. “Yuni juga tau, Akang
kesini mau ngambil ini,” lanjut Yuni sambil menunjukkan tiga eksemplar proposal
yang dia ambil dari loker meja.
Adrian hanya bisa diam. Dia sadar sepenuhnya bahwa
Ayuni yang sekarang berada di hadapannya adalah seorang tokoh remaja yang cukup
berpengaruh, yang sudah mampu mewujudkan salah satu cita-citanya membangun
sebuah forum sekaligus mengemban tanggungjawab sebagai Ketua Forum Pelajar
Manggungharja Kreatif. Ayuni bukan lagi seorang gadis kecil seusia Nabila yang
dulu dia tinggalkan, Ayuni bukan lagi gadis kecil yang tidak berani protes dan
tidak bisa mengatakan tidak, dan yang hanya bisa pasrah atas kepergian gurunya.
“Proposal ini Yuni cancel,” kata Ayuni lagi membuat
Adrian kaget.
“Kenapa?” Tanya Adrian. “Dana untuk proposal itu sudah
ada dalam rekening forum, hari Senin sudah bisa diambil dan dibelikan komputer
seperti yang Yuni mau,”
“Jadi hanya itu ya yang ada dalam pikiran Kang Adri?”
Tanya Yuni sedikit sinis.
“Nggak,” jawab Adrian cepat. “Akang juga sudah
memikirkan keberlanjutan forum yang Yuni ketuai,” lanjut Adrian lagi.
“Itu sih sama aja,” kata Ayuni. “Hanya karena hal-hal
seperti ini Kang Adri berani melalaikan kewajiban. Yuni tau semua, Kang. Yuni
kenal sama teman-teman kerja Kang Adri di Seluma, mereka sering cerita tentang
Akang sama Yuni. Cuma Kang Adri yang nggak pernah balas pesan-pesan Yuni.”
“Maafin Kang Adri, Yun,” pinta Adrian.
“Nggak apa-apa koq, Kang,” jawab Yuni. “Yuni memang
nggak pantes nasehatin Kang Adri, guru ngaji Yuni. Yuni juga sudah buktikan
bahwa orang yang memiliki kemampuan seperti Kang Adri memang sulit ditemukan,
tapi sayang, selama di Seluma Kang Adri
tidak punya murid seorang pun. Padahal 6 tahun yang lalu Yuni pernah kirim pesan
ke Facebook Akang agar Kang Adri ngajar ngaji juga di sana, tapi pesan itu
tidak pernah Akang baca. Temen Akang malah bilang sama Yuni, katanya Kak Adrian
itu jangankan ngajarin ngaji, dianya sendiri nggak pernah ngaji.” Yuni
mengakhiri kalimatnya dengan isak tangis. “Hati Yuni sakit, Kang,” kata Yuni
lagi di sela isak tangisnya.
“Tapi apa pun yang orang katakan, Kang Adri tetep guru
bagi Yuni, karena Kang Adri-lah yang mengajari Yuni tentang banyak hal hingga
Yuni bisa menjadi seperti sekarang,” kata Ayuni setelah isak tangisnya mereda.
Adrian hanya bisa diam dan menunduk, ia baru sadar,
ternyata dosa dan kesalahannya lebih banyak dari yang ia kira. Dia malu pada
Ayuni, pada Nabila dan pada dirinya sendiri, terlebih lagi pada Allah karena
telah berulangkali mengingkari janjinya. Adrian menarik nafas dalam-dalam, lalu
perhatiannya beralih pada Nabila.
“Nabila ajak
Teteh pulang ya, Kang Adri mau ke basecamp dulu nganterin proposal, nanti Kang
Adri ke rumah,” kata Adrian pada Nabila.
Nabila hanya mengangguk, lalu ia pegang pergelangan
tangan Ayuni yang beranjak dari tempat duduknya dengan perlahan. Sekarang
Adrian baru bisa melihat bahwa ternyata Ayuni masih mengenakan seragam
sekolahnya lengkap dengan tas yang tadi disimpannya di bawah meja.
“Yuni pulang dulu, Kang. Assalaamu’alaikum,” kata Yuni
pamit.
“Wa’alaikum salaam,” jawab Adrian sambil memandangi
Nabila yang mencoba untuk tersenyum.
Setelah kedua kakak beradik itu pergi, Rudi masuk
menghampiri Adrian dan memegang bahunya, “Beruntung sekali kamu punya murid
seperti Ayuni,” katanya. “Aku baru tahu dua tahun yang lalu waktu FPMK
diresmikan, dalam sambutannya dia mengatakan bahwa pembentukan forum pelajar
itu adalah ide gurunya, dan waktu ada yang bertanya siapa guru yang dia maksud,
dia menyebut namamu. Waktu itu dia baru kelas X, tapi kepribadian, kemampuan,
dan talentanya luar biasa,” lanjut Rudi.
“Orang nggak akan percaya kalo aku adalah gurunya,”
kata Adrian menanggapinya dengan dingin sambil merapikan proposal yang
ditinggalkan Ayuni. Adrian baru menyadari bahwa Ayuni sudah bisa melakukan
banyak hal termasuk mengerjakan tugas yang menjadi pekerjaan Adrian sewaktu
masih berada di tingkat desa, sesuatu yang luar biasa jika mengingat Ayuni yang
masih berstatus pelajar SMA. Dan secara tidak langsung Ayuni sudah membuktikan
pada Adrian bahwa kesibukan dunia tidak bisa dijadikan alasan untuk melalaikan
kewajiban ibadah.
“Aku percaya,” balas Rudi sambil tersenyum dan
mengambil proposal dari tangan Adrian. “Maka dari itu, sebaiknya sekarang kamu
pulang, bersihkan dirimu dan kembalilah pada mereka. Proposal-proposal ini biar
aku yang urus,” lanjut Rudi.
Adrian memandang Rudi dengan kurang yakin pada apa yang
dikatakannya, tapi akhirnya dia katakan juga; “Makasih, Bro.”
“Ya sudah, cepet pulang sana.”
Setelah mengucap salam, Adrian bergegas memacu sepeda
motornya menuju rumah. Dalam hatinya dia berucap, “harus sampai di rumah
sebelum Adzan Maghrib.” Dan ternyata kali ini ternyata dia tepat waktu, lalu
dia pun segera membersihkan dirinya kemudian melaksanakan Shalat Maghrib
berjamaah di musholla dekat rumahnya.
Beberapa menit kemudian Adrian sudah berada di halaman
madrasah yang dulu menjadi tempatnya mengajar ngaji. Kondisi bangunan dan
situasinya sudah jauh berbeda, dulu dia hanya mngajar 7 orang murid termasuk
Ayuni yang waktu itu masih kelas 5 SD, tapi sekarang Adrian melihat lebih
banyak remaja daripada anak kecil, ia pun mulai bertanya-tanya dalam hati,
siapa guru mereka sekarang?
“Assalaamu’alaikum,” seseorang mengucap salam dari arah
belakang Adrian.
Mendengar suara itu, dengan segera Adrian membalikkan
tubuhnya dan langsung menjawab, “Wa’alaikum salaam, Bintang Kecil.”
“Katanya mau ke rumah, koq malah kesini,” kata Nabila
sambil cemberut manja.
“Iya, ini juga mau ke rumah,” kata Adrian. “Teh Yuni
disini atau di rumah?” Tanya Adrian pula.
Tanpa memberikan jawaban, Nabila menarik tangan Adrian
mendekati madrasah sampai Adrian bisa melihat ke dalam salah satu ruangan
dimana Ayuni dengan beberapa remaja wanita terlihat sedang membahas sesuatu.
“Mereka lagi ngapain?” Tanya Adrian pada Nabila dengan
setengah berbisik.
“Teteh lagi ngajar nahwu shorof,” jawab Nabila sambil
terus menarik tangan Adrian menuju ke rumahnya.
“Dana untuk kegiatan sosial kapan cairnya, Dri?” Tanya
Anna, Uminya Nabila dan Ayuni yang tidak lain adalah kakak sepupunya Adrian,
setelah beberapa lama Adrian duduk di ruang tengah rumah mereka.
“Insya Allah hari Senin, Teh,” jawab Adrian sambil
menoleh ke arah Ayuni yang baru masuk.
Ayuni tersenyum pada Adrian sambil merapatkan kedua
telapak tangan di depan dadanya. Bibirnya terlihat bergerak mengukir kalimat
tanpa suara, lalu duduk di hadapan Adrian.
“Wa’alaikum salaam,” jawab Adrian.
“Kang Adri tadi ngintip Yuni di madrasah ya?” Tanya Yuni.
“Nabila yang ngajak,” jawab Adrian sambil tertawa.
“Kang, Yuni harus ngajuin 1 proposal lagi mungkin ya?”
Tanya Yuni lagi dengan tema yang berbeda.
“Untuk apa?” Tanya Adrian yang belum mengerti dengan
maksud Ayuni.
“Permohonan agar Kang Adri mau jadi pembina FPMK,”
jawab Ayuni dengan senyum.
Adrian hanya tersenyum menanggapi jawaban keponakannya
itu yang seolah-olah masih menyindirnya. “Yuni nggak memohon pun Akang udah
disini,” kata Adrian.
“Hmmm... Kang Adri datang untuk Nabila bukan untuk
Yuni,” balas Ayuni dengan ekspresi merajuk.
“Teteh jangan marah gitu dong,” kata Nabila yang baru saja keluar dari kamarnya dan berdiri di
samping Ayuni. Tangan kanannya memegang sebuah piala, sementara tangan kirinya
mendekap selembar piagam. “Yang ini untuk Teteh,” kata Nabila lagi sambil
memberikan piala di tangannya kepada Ayuni.
Ayuni menerimanya sambil senyum meski dengan keheranan
menerima perlakuan adik tunggalnya ini. “Terimakasih, Sayang,” kata Ayuni
sambil memeluk tubuh mungil Nabila.
Setelah itu Nabila beralih pada Adrian, “yang ini untuk
guru besarku,” katanya sambil menyodorkan piagam dengan kedua tangannya kepada
Adrian.
Adrian berdiri dari duduknya untuk menerima piagam
penghargaan yang belum sehari menjadi milik Nabila. Ada rasa malu dan haru
dalam hatinya mendapat perlakuan seperti itu dari gadis kecil yang mengakuinya
sebagai guru, padahal ia tidak pernah mengajarinya.
“Nabila hafal berapa juz?” Tanya Adrian penasaran
karena yang dibaca Nabila dalam perlombaan tadi adalah Surat Ash-Shaff yang
berada di juz 29. Adrian berfikir anak ini sudah Tahfidz Qur’an.
Tapi ternyata Nabila enggan memberikan jawaban, “nggak
harus orang lain tau kan?” kata Nabila sambil senyum-senyum.
Ayuni pun hanya menggeleng-gelengkankan kepalanya
ketika Adrian mencoba mencari tahu darinya, “ya kalo gitu biar besok Kang Adri
umumin kalo Nabila udah hafal 30 juz,” kata Adrian seraya melirik Nabila yang
langsung protes.
“Nggak... Hmmm,” kata Nabila lalu memberi isyarat
dengan jari tangannya.
“Yang tadi kan juz 29,” kata Adrian lagi.
“Aku kan ngapalinnya dari belakang,” jawab Nabila
dengan kalemnya, “jadi kalo ada orang nanya sudah hafal berapa surat, jawabanku
banyak,” kata Nabila lagi diakhiri dengan tawa.
Ayuni ikut tertawa melihat tingkah adiknya itu, dia pun
baru tahu ternyata Nabila punya trik sendiri untuk bisa menghafal Qur’an dengan
cepat, karena dia tidak pernah menyarankan Nabila untuk mulai menghafalnya dari
juz terakhir. Ayuni hanya mengajarkan trik yang dulu diajarkan oleh Adrian pada
dirinya.
Sementara Adrian hanya memandang kedua kakak
beradik itu penuh rasa kagum. Tidak disangka, bayi yang delapan tahun lalu dia
tinggalkan, kini sudah menjadi gadis kecil penghafal Qur’an. Bintang kecil yang
dia lihat di atas pentas senja tadi, kini terlihat berbinar lebih indah, dengan
menujukkan bahwa bintang itu tidak butuh piala, penghargaan atau pujian.
Cukuplah dirinya dan Allah yang tahu bahwa Sang Bintang akan menjadi salah satu
penjaga kesucian firman-NYA.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar