Matahari baru saja meninggalkan peraduannya, lalu beranjak naik merayapi lazuardi biru meninggalkan celah antara Bukit Kandis dan Gunung Bungkuk yang masih diselimuti kabut tipis. Butiran-butiran bening embun pagi mulai bergelantungan di ujung daun-daun ilalang dan rerumputan yang tumbuh dengan subur di kedua sisi jalan setapak yang menghubungkan rumah Nabila dengan sekolahnya yang hanya terhalang oleh sebidang kebun kopi yang saat itu sedang berbunga.
Nabila melangkah dengan perlahan di atas jalan setapak itu menuju ke sekolah. Sesekali ia harus mengangkat kakinya lebih tinggi disaat melangkah untuk menghidari rerumputan yang menutupi badan jalan, sesekali pula ia harus menggunakan sebilah bambu yang sengaja ia bawa dari rumah untuk menggoyang pohon ilalang agar embun yang bergelantungan di ujung daun-daunya jatuh dan tidak membasahi pakaiannya.
