Aku menstarter motorku dan melaju perlahan
keluar dari gang, sesampainya di ujung gang, aku melihat ternyata jalan raya
sudah sepi, tapi seketika aku menjadi lega saat melihat ada sebuah sepeda motor
yang melintas perlahan dengan 2 orang penumpang, mungkin suami istri, karena
kulihat cewek yang duduk di jok belakang memeluk erat pinggang pria yang duduk
di depannya. Dengan segera aku keluar dari gang dan memacu motorku di jalan
raya membuntuti motor yang tadi kulihat melintas dan melaju dengan kecepatan
rendah. Aku yakin mereka itu karyawan pabrik yang pulang kerja. Jalan
benar-
benar sepi, beberapa kali aku melirik spion motorku tidak terlihat satu pun kendaraan dari arah belakang, begitu juga yang berpapasan, namun tidak berapa lama kemudian aku melihat ada cahaya lampu di spion, melihat terangnya aku yakin itu lampu mobil, dan ketika kendaraan itu semakin dekat ternyata benar saja, aku bisa mendengar suaranya, itu mobil truk dan ternyata tidak hanya satu. Mobil truk itu semakin mendekat dan aku mengarahkan sepeda motorku sedikit kepinggir karena kecepatan truk di belakangku itu melebihi kecepatan motorku. Tidak lama kemudian sebuah truk dengan muatan penuh menyalipku dan motor yang melaju didepanku, disusul oleh truk yang kedua. Tapi ternyata agak jauh di belakangku masih ada truk yang katiga, namun sebelum truk itu menyalipku, aku keburu membelokkan motorku masuk gang yang menuju ke rumahku. Belum nyampe semenit ketika aku mendengar suara gaduh dari jalan raya, seperti suara kendaraan yang direm dan jeritan seorang wanita. Aku menghentikan sepeda motorku dan menoleh ke arah jalan raya, ternyata sepi, tidak terdengar suara apa pun. Aku melanjutkan perjalananku menuju rumah yang tidak terlalu jauh lagi.
benar sepi, beberapa kali aku melirik spion motorku tidak terlihat satu pun kendaraan dari arah belakang, begitu juga yang berpapasan, namun tidak berapa lama kemudian aku melihat ada cahaya lampu di spion, melihat terangnya aku yakin itu lampu mobil, dan ketika kendaraan itu semakin dekat ternyata benar saja, aku bisa mendengar suaranya, itu mobil truk dan ternyata tidak hanya satu. Mobil truk itu semakin mendekat dan aku mengarahkan sepeda motorku sedikit kepinggir karena kecepatan truk di belakangku itu melebihi kecepatan motorku. Tidak lama kemudian sebuah truk dengan muatan penuh menyalipku dan motor yang melaju didepanku, disusul oleh truk yang kedua. Tapi ternyata agak jauh di belakangku masih ada truk yang katiga, namun sebelum truk itu menyalipku, aku keburu membelokkan motorku masuk gang yang menuju ke rumahku. Belum nyampe semenit ketika aku mendengar suara gaduh dari jalan raya, seperti suara kendaraan yang direm dan jeritan seorang wanita. Aku menghentikan sepeda motorku dan menoleh ke arah jalan raya, ternyata sepi, tidak terdengar suara apa pun. Aku melanjutkan perjalananku menuju rumah yang tidak terlalu jauh lagi.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk
kamar, karena orangtua dan adik-adikku sudah tidak ada yang terjaga, tapi
mataku sulit sekali untuk tidur. Baru saja memejamkam mata, samar-samar aku
mendengar suara lirih minta tolong. Aku membuka mataku dan suara itu terdengar
berulang-ulang. Dengan sedikit ragu dan diselimuti perasaan takut, perlahan aku
membuka tirai jendela kamarku, dari situ aku dapat melihat dua orang
sedang berdiri tepat di gapura dan aku yakin suara yang kudengar itu berasal dari
sana. Kulihat kedua orang itu melambai kearahku sambil terus minta tolong. Aku
berniat keluar dan mendekatinya, tapi sebelum beranjak dari tempat tidur, aku
melihat ada yang tidak wajar dari kedua orang itu, kaki kiri salah seorang dari
mereka tiba-tiba terlepas, membuat tubuhnya perlahan-lahan miring dan tiba-tiba
tangan kiri dan kepalanya jatuh. Aku mengurungkan niatku untuk keluar dan
menutup tirai jendela kamarku, tapi suara itu masih terdengar. Kubuka kembali
tirai jendela dan aku lihat kedua orang itu masih ada disana dengan posisi
duduk, tidak lagi berdiri seperti tadi, tapi tangan itu masih saja melambai ke
arahku dan semakin jelas tangan yang melambai itu tidak menempel di tempat yang
semestinya, melainkan dipegang dan digerakkan oleh tangan yang satunya lagi.
Aku membaca doa-doa yang pernah diajarkan oleh ayahku agar sosok itu hilang
dari penglihatan dan pendengaranku. Dan kudengar suara itu semakin menjauh lalu
hilang. Aku membuka kembali tirai jendela kamarku, ternyata di gapura itu sudah
tidak ada apa-apa. Lalu aku berusaha untuk tidur dan melupakan apa yang kulihat
tadi.
Keesokan harinya aku berangkat sekolah
seperi biasa. Di depan gang, aku bertemu Apeng, teman sebangku yang biasa
nebeng kepadaku hampir setiap kali berangkat sekolah. Dalam perjalanan, Apeng
bercerita tanpa kutanya, katanya tadi malam ada kecelakaan, korbannya suami
istri meninggal terlindas truk. Aku kaget, lalu menghentikan motorku dan
menoleh kepada Apeng yang duduk di jok belakang. "Simpan dulu ceritanya,
lanjutkan nanti kalo kita sudah nyampe,” kataku. Dan Apeng pun diam.
Sesampainya di sekolah, aku bertanya pada
Apeng, "Yang kamu ceritakan tadi itu, kamu lihat kejadiannya?"
Tanyaku.
"Tidak,” jawab Apeng. "Aku
dengar ceritanya dari tetanggaku yang pulang dari pasar tadi,” lanjutnya lagi.
"Ceritanya gimana?" Tanyaku lagi
sambil duduk di bangku kelas.
"Katanya yang ngendarai motor itu mau
nyalip truk dari sebelah kiri, tapi terpeleset dan jatuh terlempar kebawah truk,”
Jawab Apeng.
Aku terdiam sejenak, "Gak mungkin,”
kataku dalam hati. "Ceritamu itu bohong,” kataku pada Apeng sambil
memperhatikan sekeliling ruang kelas.
"Knapa? Emang kamu lihat
kejadiannya?" Tanya Apeng keheranan.
"Nggak,” jawabku. "Aku ada di
jalan itu beberapa detik sebelum kejadian,” kataku setengah berbisik.
"Trus?" Apeng terlihat sangat
penasaran.
"Gak mungkin motor itu menyalip truk,
apa lagi dari sebelah kiri, karena tadi malem itu jalan sepi banget,” kataku
masih dengan suara pelan, karena takut ada orang lain yang mendengar
kesaksianku. Aku tidak sadar, walaupun yang tidak ada orang lain yang
mendengarkan kesaksianku selain Apeng, tapi ternyata ada sesuatu yang mendengar
semua apa yang aku tahu dan tadi aku katakan.
Apeng terdiam, entah kenapa aku merinding
dan bulu kudukku berdiri. Teman-teman sekelasku mulai berdatangan, Aku mereka
mereka semua menatap ke arahku dengan tatapan yang tidak biasa dan tidak bisa
aku mengerti. Sementara Apeng juga masih memandangiku dengan keheranan dan
sesekali matanya melirik ke arah lain, tapi entah apa yang dia lihat...
Sepulang dari sekolah aku langsung
tertidur, entah kenapa hari itu aku merasa sangat lelah dan menjelang maghrib
aku baru bangun. Di luar kamar terdengar ada suara orang sedang ngobrol, pasti
keluargaku atau tetangga sebelah. Suara mereka terdengar cukup jelas, sedang
membicarakan kecelakaan tragis yang terjadi malam tadi di jalan raya yang tidak
terlalu jauh dari rumahku.
"Memangnya tadi malam ini jalanan
rame apa, sampe harus nyalip dari sebelah kiri?,” tanya salah seorang dari
mereka.
"Ya mungkin rame, Ceu,” jawab yang
lain. "Jam segitu kan masih banyak karyawan yang pulang kerja.”
Dan entah apa lagi yang mereka bicarakan,
aku lebih memilih untuk meninggalkan tempat tidurku lalu pergi ke kamar mandi.
Ketika aku melewati ruang tengah saat menuju kamarku setelah selesai mandi,
kulihat ayahku sedang duduk sambil nonton acara favoritnya di tv. Aku berhenti
melangkah ketika mendengar berita di tv sedang bahas kecelakaan lalu lintas
juga, dan ternyata kecelakaannya terjadi tadi malam di dekat rumahku.
Dalam berita itu seorang saksi mengatakan
pengendara sepeda motor itu berusaha mendahului 3 buah truk dari sebelah kiri.
Aku memperhatikan wajah saksi yang sedang diwawancara oleh reporter, dengan
sangat meyakinkan saksi itu menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya.
Dan...
"Aku sering lihat orang itu,” kataku
dalam hati, sambil mengingat-ingat kembali dimana aku sering melihatnya. Tidak
perlu waktu lama untuk menemukan jawaban, karena memang wajah orang itu tidak
asing buatku. Aku sering melihatnya di terminal.
"Yah, ayah kenal orang itu?"
tanyaku pada ayah.
"Preman terminal,” jawab ayahku.
"Tapi ayah gak kenal,” lanjutnya.
"Dia itu bohong,” gumamku pelan
sambil meninggalkan ruang tengah menuju kamar, aku tidak sadar ternyata ayah
mendengar ucapanku yang terakhir tadi dan karenanya ayah mengikutiku ke kamar
dan ayah juga tau kalo kemaren itu aku pulang larut malam.
"Kamu lihat kejadiannya?" Tanya
ayah sangat serius.
"Nggak koq, Yah,” jawabku sedikit
gugup karena kaget tiba-tiba ayah ada di belakangku, padahal aku sedang tidak
berpakaian.
"Trus knapa kamu bilang preman itu
bohong?" Tanya ayahku lagi.
"Dari terminal ke tempat kejadian kan
jauh, Yah, masa dia bisa lihat,” jawabku berusaha untuk tenang.
Entah apa yang ayah pikirkan selanjutnya,
tapi yang jelas jawabanku tadi membuat ayah tidak bertanya lagi lalu ayah
keluar dari kamarku dan aku melanjutkan berpakaian.
Baru saja aku hendak pergi ke ruang makan
ketika HP-ku bernyanyi, dengan cepat kuangkat dan ternyata temanku Ohim yang
nelepon, dia ngajak ngerjain PR bareng di rumahnya dan bertanding main PS lagi,
aku pun menyetujuinya.
Setelah selesai makan, aku bergegas peri
ke rumah Ohim, dan ternyata disana sudah ada 2 temanku yang lain, termasuk
Apeng yang sebenarnya tetanggaan denganku. Mereka terlihat sedang serius
mengerjakan PR yang harus di kumpulin besok.
Aku melirik jam wekker yang ada di meja,
ternyata sudah hampir setengah 12 malem. Mungkin karena kami keasyikan main PS
hingga waktu berlalu terasa bgitu cepat. Aku pun pamit pulang, karena
teman-temanku yang lain mau nginap disana.
Aku meninggalkan rumah Ohim tepat jam
setengah 12, selagi masih di dalam gang, aku melihat sebuah sepeda motor
melintas di depan gang. Aku mempercepat laju motorku agar bisa bareng dengan
motor itu biar nggak terlalu takut karena jalanan terlihat sangat sepi seperti
malam kemaren. Ya, seperti malam kemaren. Aku kembali teringat kejadian malam
sebelumnya, sebuah sepeda motor di depanku dengan dua orang berboncengan,
mungkin pasangan suami istri. Aku mengamati motor yang melaju pelan di depanku,
seperti motor yang kemaren. Aku mulai merasa ada sesuatu yang aneh, apa lagi
waktu aku melihat wanita yang duduk di jok belakang motor itu menoleh ke
belakang dan tersenyum kepadaku, wajahnya yang pucat terlihat begitu jelas dan
senyumnya itu benar-benar membuatku merinding. Karena terdorong rasa takut, aku
mempercepat laju motorku dan berniat mendahuluinya, tapi tiba-tiba aku
mendengar suara gemuruh dari arah belakang, ternyata mobil truk. Aku
memperlambat kembali laju motorku dan melirik ke arah spion, terlihat ada dua
buah truk di belakangku dengan laju yang lebih cepat dari motorku, beberapa detik
kemudian kedua truk itu sudah melewatiku.
Aku sudah sampai di depan gang yang menuju
rumahku ketika kulihat di belakangku ada truk lain dengan kecepatan yang cukup
tinggi, tapi aku tidak segera masuk gang melainkan berhenti disitu dan
pandanganku terus mengikuti sepeda motor yang tadi melaju di depanku. Dari arah
berlawanan muncul sebuah bis pariwisata tepat disaat truk yang baru melintasiku
akan mendahului sepeda motor tadi dan truk itu terlalu pinggir karena
menghindari bis yang datang dari arah berlawanan tadi, kemudian aku melihat bak
dari truk itu menyenggol bagian belakang tubuh wanita yang duduk di atas motor
tadi hingga motor itu terpelanting dan jatuh. Aku memejamkan mataku beberapa
saat, terdengar suara gaduh, jeritan seorang wanita dan suara rem yang sangat
keras. Truk itu berhenti mendadak sekitar seratus meter dari tempatku dan aku
bergegas mendekatinya, tapi setelah sampai di tempat kejadian tadi aku tidak
menemukan apa-apa selain keheningan.
Selang beberapa lama sebuah mobil berhenti
di dekatku dan menyadarkanku, ternyata polisi yang lagi patroli. "Kamu
sedang apa disini?" tanya salah seorang dari mereka.
Aku tidak menjawab karena masih bingung
dengan apa yang baru saja aku lihat, mungkin mereka sengaja memperlihatkan
kejadiannya kepadaku, tapi untuk apa? Apa mereka menginginkan aku untuk
mengatakan kejadian yang sebenarnya? Tapi kan aku tidak melihat kejadian itu,
walau sejak awal aku yakin bahwa saksi yang ada dalam berita itu telah
berbohong dan membuat kesaksian palsu hanya atas dasar analisaku saja, bukan
karena aku melihatnya, kalau aku terang-terangan menyalahkan saksi itu hanya
atas dasar analisa, pasti aku kalah dan kalo aku mengaku bahwa aku melihat
kejadiannya itu berarti aku berbohong juga dan membuat kesaksian palsu.
"Hey...!"
Aku tersentak kaget, tiba-tiba saja polisi
itu sudah berdiri di dekatku dan tangannya menepuk bahuku. Aku masih duduk di
atas speda motorku sambil menoleh ke arah polisi yang berdiri di sebelahku.
"Rumahmu dimana? Coba lihat KTP atau
SIMnya" Tanyanya dengan nada menyelidik.
"Di dekat sini, Pak, masuk gang yang
ada gapuranya itu,” jawabku sambil menunjuk ke arah belakang.
"Baru keluar? Atau mau pulang?"
Tanyanya lagi. Sepertinya dia khawatir melihatku berdiam diri di tempat itu.
"Mau pulang, Pak,” jawabku. "Tadi
abis dari rumah temen, dan saya sedikit melamun, jadi kelewat gangnya,”
lanjutku lagi.
"Ya sudah, sekarang saya anter kamu
pulang.”
"Gak usah, Pak, makasih. Deket ini
koq, cuma terhalang tiga rumah dari gapura itu,” kataku sambil menghidupkan
mesin sepeda motorku. "Mari, Pak,” pamitku pada polisi yang masih berdiri
di luar mobilnya.
Aku membelokkan sepeda motorku berbalik
arah, dan sesampainya di depan gang, aku melihat polisi itu masih belum pergi
dan masih melihat ke arahku. Aku mengankat tanganku lalu memberi hormat padanya
lalu kulihat dia masuk ke mobilnya dan aku pun masuk gang menuju rumahku.
Aku masih belum bisa tidur, mungkin karena
tadi siang aku tidur terlalu lama atau mungkin juga karena terlalu memikirkan
peristiwa kecelakaan itu, aku tidak tahu harus berbuat apa, katakan yang
sebenarnya atau biarkan saja? Kalo harus aku katakan, apa untungnya buatku? dan
pada siapa aku harus mengatakannya? Apa memang ada orang yang ingin tau
kebenarannya? Atau...
Tiba-tiba aku merasakan ada hembusan angin
lembut menerpa tubuhku, aku melihat ke arah pintu dan jendela kamarku, tapi
keduanya sudah tertutup rapat. "Angin ini dari mana datangnya?"
Tanyaku dalam hati. Aku bangkit dari pembaringanku hanya untuk meyakinkan
apa benar ada hembusan angin atau tidak, tapi ketika aku hendak turun dari
tempat tidurku, aku tersentak kaget dan hampir saja aku berteriak karena di
samping tempat tidurku berdiri dua orang yang tidak kukenal, seorang laki-laki
dan perempuan yang berpakaian serba putih, dan aku mulai merasa takut ketika
aku melihat wajah mereka yang pucat dengan tatapan mata yang menatapku dengan
tajam, tapi beberapa saat kemudian aku melihat mata mereka menyiratkan
kesedihan. Dan ketika aku sadar bahwa kedua orang yang berdiri di hadapanku ini
bukanlah manusia sepertiku, aku berusaha bangkit untuk keluar dari kamar dan
meninggalkan mereka, tapi aku serasa terpaku di atas tempat tidurku, lalu aku
melihat mulut wanita itu bergerak perlahan dan mengatakan sesuatu. “Jangan
takut, duduk saja....”
Aku terdiam. lalu perlahan-lahan wanita
itu menggerakkan tangannya ke arahku, beberapa saat kemudian telapak tangan
yang dingin itu menempel di atas kepalaku. Tanpa aku kehendaki, mataku
terpejam, dan tiba-tiba saja aku sudah berada di sebuah tempat yang belum
pernah aku kunjungi sebelumnya, di depanku terlihat sekumpulan orang sedang
menonton TV dan ketika aku menoleh ke kanan, disana ada beberapa orang sedang
membaca koran, disebelah kiriku ada lagi sekumpulan orang sedang mendengarkan
radio dan ketika aku membalikkan badan, aku melihat lebih banyak lagi orang
yang sedang berkumpul dan membicarakan sesuatu. Awalnya samar-samar aku dengar
suara mereka dan semakin lama semakin jelas; mereka sedang membicarakan
peristiwa kecelakaan itu, seperti sepakat mereka menyalahkan pengendara motor,
bahkan ada beberapa di antara mereka yang memaki. Aku mencoba berteriak kepada
mereka untuk mengatakan bahwa berita itu salah, tapi mulutku seperti terkunci
dan tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Tak selang berapa lama sekelompok
anak sekolah perempuan dengan seragam putih abu lewat di depanku...
“Tetep aja orangtuamu yang salah, meski
pun bisa, mendahului kendaraan lain dari sebelah kiri itu gak boleh,” kata
salah seorang dari mereka yang tampil agak beda, tidak pake kerudung hanya
terlihat sebuah bando yang kepalanya. Yang di ajak bicara hanya diam sambil
menunduk dan terus berjalan menjauh dariku.
Tiba-tiba kepalaku terasa sakit dan
penglihatanku mengabur, tidak tahan dengan rasa sakit di kepalaku, aku pun
terjatuh dan aku terbangun dari tidurku dalam suasana yang sangat sepi, tapi
ada sedikit cahaya dalam kamarku yang ternyata berasal dari monitor komputer.
Cukup lama aku memperhatikan monitor itu
dengan perasaan heran, karena sebelumnya aku tidak menyalakan komputer, dan itu
sepertinya Facebook. Aku bangkit dan mendekati monitor yang berada di meja
kamarku, ternyata benar saja, barusan ada seseorang yang mengakses Facebook
dari komputerku. Ketika aku akan mematikannya, tanpa sengaja aku membaca sebuah
status yang dibuat seseorang 7 jam yang lalu, ”Jalan sepi, malem kemaren
disini terjadi kecelakaan, semoga tidak terjadi padaku. Amiin.” Banyak yang
koment, umumnya iseng menakut-nakuti yang punya status, tapi komen yang paling
bawah agak beda, “Jgn ngelamun, Neng. Kalo jalan lagi sepi, gak mungkin ada
kecelakaan, kecuali jatuh sendiri karena ngelamun atau ngantuk. Yang kemaren
itu orang oon, sebelah kanan aja pasti kosong koq mendahului dari sebelah kiri,”
begitu isi komentnya. Entah kenapa tiba-tiba tanganku bagai bergerak sendiri
menarik keyboard dan membalas koment itu, “Kecelakaan kemaren itu kejadiannya
gak kayak gitu, Pak. Berita yang nyebar itu sumbernya saksi palsu.” Aku
berhenti mengetik dan aku menunggu barangkali saja ada orang yang membalas
komentku, tapi sampai kudengar adzan subuh, komentku tidak ada yang menanggapi.
“Jo…!” Apeng memanggilku dari koridor
sekolah saat aku sudah siap-siap untuk menyetarter motorku. Aku menengok ke
arahnya, Apeng mendatangiku dan kukira dia akan langsung duduk di jok belakang
motorku, tapi ternyata tidak. “Lo gak pernah bilang klo lo punya cewek cakep,”
katanya.
“Cewek…?” Tanyaku keheranan.
“Tuh,” Apeng menunjuk ke ujung koridor,
“dia nyariin Elo,” katanya lagi.
Aku melihat ke arah yang ditunjukkan Apeng
dan terlihat disana berdiri sesosok wanita dengan pakaian serba putih dengan
wajah pucat, pandangannya kosong menatapku. Aku kenal sosok itu, tapi mau apa
dia kesini?
"Cepet samperin sana, kasian udah
nunggu dari tadi,” kata Apeng lagi karena melihatku masih duduk diam di atas
jok sepeda motorku.
"Aku gak kenal, Peng,” kataku sambil
mencoba menetralisir perasaan takutku.
"Sikat aja, Bro... Kesempatan gak
akan datang dua kali,” Apeng terus menyemangatiku, dia bener-bener gak tau apa
sebenarnya yang aku hadapi.
Aku standarkan motorku lalu mendekati wanita
itu. Jantungku berdebar kencang, dan aku mencoba menenangkan diriku dengan
memejamkan mata dan menarik nafas. Namun saat aku kembali membuka mataku,
jantungku malah berdebar semakin kencang, aku sangat kaget, karena yang berdiri
di hadapanku sekarang bukanlah wanita yang tadi, melainkan seorang gadis manis
berseragam putih abu tersungging senyum dibibirnya dan dengan mata sayu dia
menatapku.
“Knapa…?” Tanyanya dengan suara yang
nyaris tak terdengar dan kaku.
“Ka… Kamu siapa?” Tanyaku dengan gugup.
“Aku Karin,” jawabnya datar tanpa
ekspresi.
"Kamu mencariku apa gak salah
orang?" Tanyaku ketus mencoba menunjukkan rasa tidak sukaku atas
ekspresinya.
“Aku minta waktunya sebentar, bisa kan?”
Dia bertanya padaku dengan ekspresi wajah yang penuh harap.
“Iya, bisa,” jawabku cepat setelah aku
melihat merubahan di wajahnya sambil mencoba mencari tempat untuk duduk di
sekitar tempat parkir. Tapi dalam pikiranku yang masih kacau terlintas satu
ruangan yang pasti tidak ada orang disana. Aku meraba saku celanaku, bersyukur
karena ternyata membawa kuncinya. “Ikut aku,” kataku pada Karin sambil mulai
melangkah menuju ruang UKS. Aku mendengar suara langkah di belakangku dan aku
yakin itu suara langkah Karin yang mengikutiku. Aku mulai merasa tenang karena
suara langkah itu, “itu langkah manusia,” pikirku sedikit konyol.
Aku segera membuka ruang UKS dan
mempersilahkan Karin untuk masuk. “Gak pa-apa kan kita bicaranya disini?”
Tanyaku.
“Gak pa-pa koq,” jawab Karin sambil
melangkah masuk.
Aku mengambilkan sebuah bangku untuk Karin
dan mempersilahkannya duduk, dan aku duduk di bangku yang lain dengan posisi
berhadapan dengannya dan hanya terhalang sebuah meja.
“Kamu sekolah di mama?” Tanyaku memulai
pembicaraan.
“Aku kesini bukan mau kenalan,” jawab
Karin membuat hatiku sedikit ciut. “Aku cuma mo nayain sesuatu,” lanjutnya
sambil mengeluarkan sesuatu dari tas sekolahnya. Karin mulai mengotak-ngatik HP
yang baru diambilnya. Aku hanya diam, pasti sesuatu yang akan ditanyakannya itu
tersimpan di HP dan sangat penting.
“Aku gak tau sejak kapan kita temenan di
FB,” kata Karin menghentikan lamunanku. “Dan tadi malm, Kamu ngirimin aku
sebuah video,” lanjutnya sambil memperlihatkan HPnya kepadaku. “Aku hanya ingin
tau cerita di balik pembuatan video ini,” katanya lagi dan wajahnya kembali
seperti semula. Jutek.
Karin memperlihatkan sebuah rekaman video
langsung dari inbox FBnya sehingga aku bisa melihat pengirim video itu. Ya, aku
pengirimnya, tapi kapan? Dan siapa yang membuat rekaman video itu?
Aku memandang wanita yang duduk menunduk di
hadapanku setelah tayangan video itu selesai. Pertanyaan-pertanyaan lain muncul
di benakku; siapa wanita ini? Kenapa rekaman video itu dikirim kepadanya? Siapa
yang mengirimnya dari akun FBku? Siapa yang membuat rekaman video itu dan untuk
apa?
“Aku membaca komentmu tadi malm,” Karin
menatapku dengan pandangan aneh, curiga atau apa. Aku tidak tahu apa yang
sedang dipikirkannya, tapi aku tau apa yang sedang dibicarakannya. Dan setelah
melihat rekaman video itu, aku mulai khawatir dengan keadaanku, tapi aku
mencoba untuk tetap tenang walau masih belum menemukan jawaban atas rekaman
video aneh itu.
“Kamu siapa?” Tanyaku, mengulang
pertanyaan yang pertama kali kuajukan tadi.
Karin menarik nafas dalam, lalu katanya,
“yang ada dalam rekaman video ini orangtuaku.”
Aku memandang Karin yang tidak mampu lagi
menyembunyikan kesedihannya, terlihat genangan air bening di kelopak matanya
yang perlahan menetes melalui kedua sudut matanya dan jatuh di pipinya yang
bersih. Aku mulai mengerti dan bisa memaklumi, rekaman video itu adalah
saat-saat terakhir kedua orangtua Karin sebelum kecelakaan maut itu terjadi,
dan Karin hanya bisa melihatnya dalam rekaman video yang entah dari mana
asalnya.
Aku mengambilkan sehelai sapu tangan dari
laci meja dan memberikannya pada Karin. “Maafin aku…,” kataku dan tidak tau
lagi apa yang harus kukatakan. Aku benar-benar bingung.
“Aku cuma ingin kamu ceritain kejadian
yang sebenarnya sama aku,” pinta Karin sambil menahan isak tangisnya.
“Aku gak tau,” kataku.
“Trus knapa kamu bisa koment kayak gitu di
FB? Dan video ini bukti kalo kamu tau kejadian sebenarnya,” suara Karin agak
meninggi mendengar jawabanku tadi.
Aku mencoba untuk tenang dan berpikir apa
yang seharusnya kukatakan pada Karin. Aku mulai teringat dengan mimpiku tadi
malam, dan aku ingat, aku melihat Karin yang terpojok dalam mimpi itu. Aku
bangkit dari tempat dudukku, lalu mengambil segelas air putih dari dispenser
yang ada di sudut ruangan itu. “Minum dulu,” kataku pada Karin sambil
memberikan segelas air putih yang kuambil tadi kepadanya.
Aku menatap Karin yang meneguk air dari
gelas dengan perlahan dan kucoba mengingat-ingat apakah aku pernah melihat dia
sebelumnya, tapi sepertinya belum. Mungkin dia bukan orang sini dan sekolahnya
jauh dari sini, pikirku. Andai saja pertemuan ini tidak dalam situasi
sekarang...
“Apa yang kamu tau?” Tanya Karin
membuyarkan lamunanku.
“Aku gak yakin,” jawabku.
“Maksudnya?” Tanya Karin lagi. Matanya
menatapku tajam membuat jantungku kembali berdebar, bukan karena takut, tapi
mata yang masih terlihat basah itu mirip sekali dengan sepasang mata milik
wanita yang kulihat dalam mimpi malam tadi.
"Aku gak yakin kamu akan percaya
dengan apa yang akan kukatakan,” kataku sambil menatap matanya yang kemudian
tertunduk.
"Katakan saja,” katanya pelan.
"Aku gak tau tentang rekaman video
itu,” aku mulai menjelaskan. Karin diam dan kembali menatapku. "Bukan aku
yang membuatnya dan bukan aku yang mengirimkannya pada kamu,” lanjutku. Aku
lihat Karin agak keheranan mendengar pengakuanku. "Itulah yang kejadian
yang kulihat malam itu, aku hanya mendengar suara kecelakaan itu tapi tidak
melihatnya.”
"Mendengar apa?" Tanya Karin.
"Suara yang terdengar di bagian akhir
video itu,” jawabku.
"Malam itu kamu berada dimana?,”
Tanya Karin lagi.
"Aku berada di posisi kamera video
itu,” jawabku yang membuat Karin makin penasaran.
"Berarti kamu kan yang membuat
rekaman ini?" Karin terus mendesakku.
"Demi Allah, nggak. Coba kamu lihat
lagi videonya, dan ini HPku,” aku berusaha meyakinkan Karin. "Kalo HP ini
yang kupake untuk merekam, pasti gambarnya akan miring dan terbalik, karena
pasti aku merekamnya dengan HP yang kugantung di leher dan posisinya HPnya akan
miring dan terbalik karena lubang tali HPku ada disini, disudut bawah,” kataku
sambil memperlihatkan HPku pada Karin. "Rekaman video itu memang diambil
dari posisiku, tapi untuk menghasilkan gambar dengan posisi datar dan stabil,
kamera harus dalam keadaan stabil dan paling tidak kamera itu dipegang oleh
satu tangan. Tapi coba kamu lihat, di video itu sangat jelas kalo kedua
tanganku memegang stang.”
Karin terdiam menunduk, mungkin karena aku
bicara terlalu keras hingga membuatnya merasa takut dan aku jadi merasa
bersalah.
"Maafin aku...,” kataku pelan.
"Kamu pernah melihat orangtuaku
setelah kejadian itu?" Tanya Karin sambil menatapku seolah-olah dia
menuntutku untuk berkata jujur.
"Maksudnya?" Tanyaku agak kurang
yakin dengan pertanyaan Karin.
"Mungkin kamu menyebutnya hantu atau
apa, terserah kamu,” jawab Karin. Sepertinya dia mengerti kebingunganku.
"Empat kali,” jawabku.
"Kapan?"
"Sekitar 2 jam setelah kejadian, aku
lihat mereka berdiri di gapura dan minta tolong, tapi....”
"Kenapa kamu gak datangi dan menolong
mereka?" Karin memotong kalimatku dengan pertanyaan yang sebelumnya sudah
kuduga pasti akan keluar dari mulut Karin.
"Aku melihat sesuatu yang gak wajar,
Rin.”
"Seperti apa?"
"Kamu gak usah tau apa atau seperti
apa yang kulihat waktu itu, karena itu cuma halusinasiku aja.”
"Mereka itu orangtuaku, bukan hantu
atau halusinasi,” Karin terlihat histeris mendengar kata-kataku, dia menangis
dengan menundukkan wajahnya di atas meja. Aku hanya bisa dan membiarkannya
terus menangis. Aku tidak berani melanjutkan ceritaku sampai tangisan Karin
reda, tapi dia masih menelungkupkan wajahnya dengan kedua tangannya di atas
meja.
"Rin, sudah sore,” kataku mencoba
membujuk Karin. "Aku anterin kamu pulang ya.” kataku lagi. Tapi Karin
nggak menjawab.
"Kalo malm itu kamu gak buru-buru
masuk gang, pasti kamu yang akan keserempet truk itu,” kata Karin tiba-tiba,
setelah beberapa lama terdiam menunduk.
Aku tidak menjawab, kalimat yang
diucapkannya barusan itu tidak pernah terpikir olehku sebelumnya. Kutatap mata
yang makin sayu itu dan mencoba memahami maksud kata-katanya tadi, apakah dia
menuduhku telah mencelakai kedua orangtuanya? Aku beristighfar berulang-ulang
dalam hati, mencoba memikirkan apa yag sebaiknya aku katakan dan aku lakukan
untuk Karin, wanita yang baru kukenal beberapa jam yang lalu, dalam keadaan
yang seperti ini.
"Seharusnya waktu itu kamu kembali ke
jalan, walau gak bisa menolong, tapi setidaknya kamu bisa melihat apa yang
terjadi setelah kamu dengar suara itu,” kata Karin lagi membuatku semakin
terpojok.
"Waktu pertama aku melihat berita
tentang peristiwa itu, aku sadar akan kesalahanku, tapi aku gak tau harus
berbuat apa,” kataku dengan nada menyesal. "Berita bohong itu sudah
terlanjur menyebar dan mereka menganggap orangtuamu yang salah.”
"Kamu harus ralat semua berita itu,
hanya itu yang diinginkan orangtuaku dari kamu karena kamu satu-satunya orang
yang tau kejadian itu.” kata Karin pelan tapi membuatku tiba-tiba merasa ngeri
mendengarnya. Mungkin dia benar, hanya cara itu yang bisa membuat kedua
orangtuanya beristirahat dengan tenang di alam sana.
"Aku gak punya bukti,” kataku
kemudian.
Karin kembali terdiam, dari beberapa
kalimat terakhir yang diucapkannya tadi, aku tahu bahwa Karin mulai memahami
posisiku. Dan dari apa yang dikatakannya tadi, aku yakin bahwa Karin juga
pernah bertemu kedua 'orangtuanya' setelah peristiwa kecelakaan maut itu
terjadi.
"Aku janji akan meralatnya,” kataku
dengan kurang yakin aku akan mampu melakukannya. "Tapi gak sekarang,”
lanjutku. "Aku akan pikirkan caranya, sekarang kita pulang ya.”
Karin tidak menjawab, tapi dia beranjak
dari tempat duduknya kemudian melangkah menuju pintu keluar dan terus berjalan
menyusuri koridor menuju gerbang sekolah dan meninggalkanku sendirian.
Aku bergegas mengunci pintu dan setengah
berlari menuju tempat parkir, dengan segera aku menghidupkan mesin sepeda
motorku. Langit terlihat gelap dan beberapa titik air mulai terasa membasahi
lenganku yang tidak tertutupi. Aku lihat Karin kembali masuk halaman sekolah
dan menuju ke arahku ketika aku sudah melaju meninggalkan tempat parkir. Aku
menghentikan sepeda motorku, kukira Karin akan minta diantar pulang karena
takut kehujanan, tapi...
"Videonya gak ada,” katanya sambil
memperlihatkan layar HPnya padaku.
"Aku anterin kamu pulang, cepetan
naik, kburu hujan, kita bahas lagi videonya nanti,” kataku setengah memaksa.
"Aku mau pulang sendiri,” jawab Karin
ketus sambil memasukkan HP ke tas sekolahnya.
"Kamu akan kehujanan dan kemaleman
disini kalo gak pulang sekarang,” kataku lagi.
Beberapa saat Karin terdiam dan melihat ke
jalan depan sekolah yang mulai terlihat sepi, lalu seperti terpaksa dia naik ke
jok belakang sepeda motorku. Aku mulai memacu sepeda motorku dijalan aspal yang
mulai basah, tidak banyak kendaraan yang berlalu lintas, hanya ada beberapa
sepeda motor yang sepertinya sama denganku, takut keburu hujan deras.
"Rumahmu dimana?" Tanyaku dengan
sedikit keras khawatir Karin tidak bisa mendengar suaraku.
"Cibeas,” jawab Karin persis di
telingaku.
Cibeas? Aku tersenyum sambil tetap konsentrasi
ke jalan yang terlihat licin mengkilat. Pantesan kulitmu putih banget, gumamku
dalam hati. Tapi sayang, Cibeas gak searah dengan jalan pulangku. Dan jujur
saja, seumur hidup ini baru sekarang aku bonceng cewek dengan sejuta perasaan
aneh yang bergejolak dalam hati disertai pikiran yang semakin kacau, apa lagi
setelah Karin bilang bahwa videonya hilang. Hhhhh... Apa lagi yang harus
kukatakan. Halusinasi...?
Karin memanduku dari belakang untuk sampai
ke rumahnya, dan tidak berapa lama kemudian Karin menujukkan sebuah gang yang
harus aku masuki, tidak nyampe satu menit berada di gang itu, aku menemukan
lagi jalan beraspal tipis, Karin menyuruhku mengambil arah kiri, sekitar lima
menit kemudian, karin menunjukkan lagi sebuah gang yang kali ini cukup sempit
dan aku berhenti di depan gang itu. Karin turun tapi tidak segera
meninggalkanku.
"Kamu ke rumahku dulu aja sambil
nunggu ujan reda,” katanya padaku, "atau kalo mau, kamu boleh pake jas
hujanku,” katanya lagi, mungkin dia mulai merasa kasihan melihat seluruh
pakaianku basah.
Aku hanya terdiam melihat Karin memasuki
gang itu, di ujung sana ada sebuah rumah dengan dinding berwarna hijau muda.
Mungkin itu rumahnya, pikirku.
"Ayo,” Karin mengagetkanku, dia
berteriak sambil melambaikan tangannya ke arahku. Aku tersenyum dengan sedikit
rasa malu, aku kan belum pernah berkunjung ke rumah cewek selain teman
sekelasku, itu pun hanya untuk belajar kelompok.
Aku memarkir motorku di depan rumah Karin
kemudian aku menuju teras. Ada dua buah kursi rotan yang bentuknya cukup unik
disana, membuatku penasaran dan ingin segera mendudukinya. Dan sebuah meja
kecil dengan vas bunga origami di atasnya. Rajin juga anak ini, kataku dalam
hati, yakin bahwa bunga-bunga kecil itu adalah hasil kreasinya.
"Di dalam aja,” kata Karina yang
berdiri di pintu sambil tersenyum ketika aku hendak duduk di kursi rotan itu.
"Gak usah,” kataku dengan sedikit
gugup dengan perubahan sikap Karin yang tiba-tiba, "aku duduk disini aja,
ga apa-apa kan?" tanyaku sambil menunjuk salahsatu kursi rotan.
"Ya udah, gak apa-apa,” kata Karin,
lagi-lagi dengan senyumnya, "tapi kalo hujan, disini dingin banget,”
lanjutnya sambil meletakkan segelas air bening yang terlihat masih menguap,
pasti air hangat. Lalu dia duduk di kursi rotan yang satunya.
"Videonya kamu hapus?" Tanya
Karin tiba-tiba mengagetkanku. Kukira dia tidak akan bahas itu lagi.
Aku pandangi wajahnya dan aku tidak
menjawab karena aku yakin dia akan menemukan jawabannya. Soalnya dari tadi juga
HPnya tidak pernah berpindah ke tanganku. Dan benar saja...
"Maaf...,” katanya. "Mungkin
tadi aku salah mencet, jadi terhapus videonya,” katanya lagi.
"Video itu gak pernah ada, Rin,”
kataku mencoba meyakinkan kembali. "Rekaman videonya tersimpan disini,”
kataku lagi sambil meletakkan telunjuk tanganku di pelipis, "karena kamera
yang dipake untuk merekamnya adalah ini,” aku menunjuk kedua mataku di akhir
kalimatku.
Karin hanya diam, pandangannya menatap
jauh ke depan menembus air hujan yang semakin rapat memagari pandangannya
menyeberangi persawahan yang membentang di depan rumahnya, menuju gunung-gunung
yang berdiri kokoh jauh disana. Kalo cuaca cerah, sebentar lagi pasti aku bisa
melihat sunset di antara gunung-gunung itu, kataku hanya dalam hati.
"Tadinya video itu akan kujadikan
bukti,” gumam Karin hampir tidak terdengar. Aku meliriknya, dia masih menatap
kosong ke arah derasnya hujan. "Aku nemuin kamu hanya kerna ingin tau
cerita dibalik video itu untuk meyakinkan orang-orang tentang peristiwa itu,”
katanya lagi.
"Pertemukan aku dengan teman-temanmu,”
pintaku pada Karin, "terutama orang yang kemaren menggunakan bando warna
pink,” lanjutku dan sepertinya membuat Karin kaget.
Karin menatapku seperti tidak percaya
dengan apa yang aku katakan, "Kamu tau dari mana?" Tanyanya sambil
terus menatapku seolah ingin segera mendapat jawaban.
"Aku melihat kamu bersama mereka
dalam mimpiku tadi malam,” jawabku, "dan dia itu memojokkanmu.” kataku
lagi.
"Gak bisa,” kata Karin di luar
dugaanku, "dia meninggal tadi pagi waktu berangkat sekolah, dia dan
motornya terserempet truk trus kelindes, makanya tadi aku bisa nemui kamu karna
tadi aku menjenguknya ke rumah sakit dan gak sekolah,” ungkap Karin panjang
lebar.
Aku semakin gusar setelah mendengar cerita
Karin, apa lagi kalo inget kata-katanya yang tadi dia ucapkan waktu di ruang
UKS. Mungkin benar yang dikatakan Karin, seharusnya akulah yang jadi korban
kecelakaan itu. Tapi kalo malam itu aku terlindas truk, apakah aku akan
langsung meninggal dan apakah orangtua Karin skarang akan masih hidup? Mungkin
tidak, karena kematian itu adalah takdir, dan peristiwa yang menimpa kedua
orangtua Karin hanyalah wasilah menuju takdir itu sendiri. Itu sebenarnya yang
tadi ingin kujelaskan pada Karin, tapi kondisinya tidak memungkinkan. Karin
masih belum bisa menerima kenyataan harus kehilangan kedua orangtuanya pada
saat yang bersamaan, walau kulihat Karin cukup tegar, tapi disaat-saat tertentu
dia tidak mampu menyembunyikan kesedihannya, bahkan dihadapanku, orang yang
baru dia kenal hari ini.
Keesokan harinya, aku baru selesai makan
siang ketika HPku berbunyi, sebuah panggilan dari nomor yang tidak pernah masuk
daftarku sebelumnya. Dengan malas aku menjawab panggilan itu. "Hallo...,”
kataku.
"Kak, aku lagi di gapura deket
rumahmu,” jawab sebuah suara dari earphone.
"Karin...?" Tanyaku sedikit
tidak yakin dengan apa yang kudengar.
"Iya,” jawabnya.
Aku bergegas ke luar dari rumah tanpa
menutup pembicaraan, setengah berlari aku menuju gapura, dan kulihat Karin yang
masih mengenakan seragam lengkap dengan tas sekolahnya berdiri disana. Dia
menghadiahi aku sebuah senyum saat aku menghampirinya, tidak begitu manis,
mungkin karena masih dalam suasana berkabung.
"Aku mau minta tolong,” katanya
dengan sedikit berharap, "Anterin aku nemuin Hengky,” lanjutnya tanpa
menunggu jawabanku.
"Mo ngapain?" Tanyaku yang
sebenarnya gak perlu bertanya seperti itu.
"Anterin aja,” Karin agak memelas
"Ke rumahku dulu, ngambil motor,”
kataku dengan tanpa sadar sambil menarik tangan Karin.
Karin diam dan mengikuti langkahku, dan
sesampainya di depan rumahku, Karin menghentikan langkahnya dan dia hanya diam
memandangku beberapa saat kemudian pandangannya pindah ke tanganku yang
menggenggam pergelangan tangannya.
"Maaf...,” kataku dengan segera aku
melepaskan tangannya lalu bergegas aku mengambil kunci sepeda motorku.
Tidak lama kemudian kami sudah berada di
tengah keramaian jalan raya menuju terminal tempat Henky bekerja. Tapi aku
tidak melihat dia berada ditempat yang biasa.
"Pak, mo nanya,” kataku kepada salah
seorang pria yang juga sering kulihat ada diterminal ini.
"Ada apa, Cep?" Tanyanya padaku
dengan sangat sopan.
"Bapak lihat Hengky gak?"
Tanyaku.
"Itu, Cep, yang lagi jongkok deket
warung, katanya dia lagi kurang sehat,” kata pria itu sambil menunjuk ke arah
warung di sudut terminal.
Karin langsung menarik tanganku menuju ke
warung yang ditunjukannya, tapi aku menahan langkahku dan membuat Karin
berhenti. Karin menatapku, aku mengalihkan pandanganku ke arah tangannya yang
memegang tanganku. Dengan segera dia melepaskan tanganku, tapi ekspresi
wajahnya aneh, boro-boro minta maaf, dia malah meninggalkanku sambil cemberut.
Aku berbalik ke arah pria yang kutanyai tadi, kulihat dia tersenyum karena
ternyata dia memperhatikan ulah Karin.
"Terimakasih, Pak" Kataku sambil
membalas senyumnya. Dengan setengah berlari aku menyusul Karin umtuk menemui
Hengky yang duduk lesu, wajahnya menunduk sambil sesekali menghisap rokok di
tangannya dan dia tidak sadar dengan kedatangan kami. Aku berdiri disamping
Karin yang tiba lebih dulu, tapi sepertinya Karin ragu-ragu untuk berbicara.
Aku mencoba meraih tangannya lalu aku mengenggamnya mudah-mudahan dia merasa
lebih tenang. Karin hanya melirikku.
"Kang...,” kata Karin mencoba membuka
pembicaraan.
Hengky mendongakkan kepalanya ke arahku,
dan saat pandangannya beralih ke arah Karin, ekspresi wajahnya tiba-tiba
berubah, dia sangat ketakutan dan dengan susah payah bangkit dari duduknya lalu
berlari menjauhi kami sambil sesekali menoleh ke arah Karin dan
berteriak-teriak histeris.
"Jangan...! Jangan ganggu saya...!
Saya tidak bersalah...!" Teriaknya berulang-ulang sambil terus berlari
tampa mempedulikan keadaan di terminal itu yang sedang banyak orang.
Beberapa orang meneriakinya saat Hengky
terus berlari ke arah jalan raya yang sedang padat dengan kendaraan, tapi
Hengky tidak mempedulikannya, dia masih sesekali menoleh ke arah Karin sambil
terus berlari, dan ketika dia sampai di bibir jalan, sebuah sepeda motor lewat
dan menyambar tubuhnya yang kemudian terpelanting, tubuh kurus kering itu
kemudian jatuh terkapar di atas jalan aspal dan tepat di kolong sebuah mobil
truk molen yang sedang melintas.
Aku memejamkan mataku dan kemudian
terdengar jeritan histeris dari sekian banyak orang yang melihat peristiwa itu.
Karin melepaskan pegangan tanganku, dan kulihat dia berlari ke jalan.
Tubuh Karin terasa gemetar ketika aku
berhasil merengkuh tubuhnya dan berusaha membawanya keluar dari kumpulan
orang-orang yang melihat jasad yang hampir tidak berbentuk itu. Namun setelah
berhasil keluar, tubuh Karin terasa sangat lemas dan terduduk di trotoar. Saat
aku kebingungan, pria yang tadi kutanyai datang dan membantu mengangkat tubuh
Karin agar aku dapat memangkunya.
"Bawa kesini, Cep,” katanya sambil
menuju ke arah sebuah kios yang ternyata itu kios miliknya. "Di dalam
sini, Cep,” katanya lagi sambil menunjukkan sebuah ruangan yang ada dalam kios
itu.
"Apa keadaan orangtuaku juga seperti
itu?" Tanya Karin kepadaku beberapa saat kemudian sambil menangis.
"Nggak,” jawabku, "Mereka jauh
lebih baik,” kataku lagi.
"Minum, Neng,” pria tadi masuk sambil
membawa segelas air putih yang diberikan pada Karin, lalu pria itu duduk di
samping tubuh Karin yang masih terbaring. "Bapak tau Neng ini,” katanya.
Aku dan Karin hanya terdiam berpandangan.
"Mereka sering mampir ke kios bapak
ini, dan kalo mereka pulang malem, sering membeli nasi goreng kepada anak bapak,”
lanjut pria itu, "dan tadi waktu bapak lihat Si Neng ini, bapak sangat
yakin kalo Si Neng ini anaknya mereka.”
"Maksud Bapak apa?" Tanyaku
masih merasa kurang jelas.
"Bapak dan orang-orang disini tau
kejadian yang sebenarnya, Bapak sudah peringatkan Si Hengky itu, tapi dia tidak
mau dengar,” pria itu diam sejenak sambil menatap Karin. "Bapak ikut
berduka untuk orangtua Si Neng,” lanjutnya dengan suara pelan.
"Makasih, Pak,” jawab Karin yang
masih belum bisa menghentikan isak tangisnya.
"Entah dikasih berapa Si Hengky oleh
sopir truk itu,” gumam Bapak Pemilik Kios itu sambil bangkit lalu keluar
meninggalkan aku dan Karin yang masih kebingungan setelah mendengar ceritanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar