Jumat, 11 Maret 2016

RALAT

Waktu menunjukkan pukul setengah 12 malam waktu aku memutuskan untuk pulang dari rumah temanku setelah beberapa jam bermain playstation. Kupikir jam segini jalan masih cukup ramai karena ada beberapa pabrik yang mempekerjakan karyawannya sampai jam 11 malam, jadi jam segini masih ada karyawan pabrik yang pulang kerja.
Aku menstarter motorku dan melaju perlahan keluar dari gang, sesampainya di ujung gang, aku melihat ternyata jalan raya sudah sepi, tapi seketika aku menjadi lega saat melihat ada sebuah sepeda motor yang melintas perlahan dengan 2 orang penumpang, mungkin suami istri, karena kulihat cewek yang duduk di jok belakang memeluk erat pinggang pria yang duduk di depannya. Dengan segera aku keluar dari gang dan memacu motorku di jalan raya membuntuti motor yang tadi kulihat melintas dan melaju dengan kecepatan rendah. Aku yakin mereka itu karyawan pabrik yang pulang kerja. Jalan benar-
benar sepi, beberapa kali aku melirik spion motorku tidak terlihat satu pun kendaraan dari arah belakang, begitu juga yang berpapasan, namun tidak berapa lama kemudian aku melihat ada cahaya lampu di spion, melihat terangnya aku yakin itu lampu mobil, dan ketika kendaraan itu semakin dekat ternyata benar saja, aku bisa mendengar suaranya, itu mobil truk dan ternyata tidak hanya satu. Mobil truk itu semakin mendekat dan aku mengarahkan sepeda motorku sedikit kepinggir karena kecepatan truk di belakangku itu melebihi kecepatan motorku. Tidak lama kemudian sebuah truk dengan muatan penuh menyalipku dan motor yang melaju didepanku, disusul oleh truk yang kedua. Tapi ternyata agak jauh di belakangku masih ada truk yang katiga, namun sebelum truk itu menyalipku, aku keburu membelokkan motorku masuk gang yang menuju ke rumahku. Belum nyampe semenit ketika aku mendengar suara gaduh dari jalan raya, seperti suara kendaraan yang direm dan jeritan seorang wanita. Aku menghentikan sepeda motorku dan menoleh ke arah jalan raya, ternyata sepi, tidak terdengar suara apa pun. Aku melanjutkan perjalananku menuju rumah yang tidak terlalu jauh lagi.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar, karena orangtua dan adik-adikku sudah tidak ada yang terjaga, tapi mataku sulit sekali untuk tidur. Baru saja memejamkam mata, samar-samar aku mendengar suara lirih minta tolong. Aku membuka mataku dan suara itu terdengar berulang-ulang. Dengan sedikit ragu dan diselimuti perasaan takut, perlahan aku membuka tirai jendela kamarku, dari situ aku dapat melihat  dua orang sedang berdiri tepat di gapura dan aku yakin suara yang kudengar itu berasal dari sana. Kulihat kedua orang itu melambai kearahku sambil terus minta tolong. Aku berniat keluar dan mendekatinya, tapi sebelum beranjak dari tempat tidur, aku melihat ada yang tidak wajar dari kedua orang itu, kaki kiri salah seorang dari mereka tiba-tiba terlepas, membuat tubuhnya perlahan-lahan miring dan tiba-tiba tangan kiri dan kepalanya jatuh. Aku mengurungkan niatku untuk keluar dan menutup tirai jendela kamarku, tapi suara itu masih terdengar. Kubuka kembali tirai jendela dan aku lihat kedua orang itu masih ada disana dengan posisi duduk, tidak lagi berdiri seperti tadi, tapi tangan itu masih saja melambai ke arahku dan semakin jelas tangan yang melambai itu tidak menempel di tempat yang semestinya, melainkan dipegang dan digerakkan oleh tangan yang satunya lagi. Aku membaca doa-doa yang pernah diajarkan oleh ayahku agar sosok itu hilang dari penglihatan dan pendengaranku. Dan kudengar suara itu semakin menjauh lalu hilang. Aku membuka kembali tirai jendela kamarku, ternyata di gapura itu sudah tidak ada apa-apa. Lalu aku berusaha untuk tidur dan melupakan apa yang kulihat tadi.
Keesokan harinya aku berangkat sekolah seperi biasa. Di depan gang, aku bertemu Apeng, teman sebangku yang biasa nebeng kepadaku hampir setiap kali berangkat sekolah. Dalam perjalanan, Apeng bercerita tanpa kutanya, katanya tadi malam ada kecelakaan, korbannya suami istri meninggal terlindas truk. Aku kaget, lalu menghentikan motorku dan menoleh kepada Apeng yang duduk di jok belakang. "Simpan dulu ceritanya, lanjutkan nanti kalo kita sudah nyampe,” kataku. Dan Apeng pun diam.
Sesampainya di sekolah, aku bertanya pada Apeng, "Yang kamu ceritakan tadi itu, kamu lihat kejadiannya?" Tanyaku.
"Tidak,” jawab Apeng. "Aku dengar ceritanya dari tetanggaku yang pulang dari pasar tadi,” lanjutnya lagi.
"Ceritanya gimana?" Tanyaku lagi sambil duduk di bangku kelas.
"Katanya yang ngendarai motor itu mau nyalip truk dari sebelah kiri, tapi terpeleset dan jatuh terlempar kebawah truk,” Jawab Apeng.
Aku terdiam sejenak, "Gak mungkin,” kataku dalam hati. "Ceritamu itu bohong,” kataku pada Apeng sambil memperhatikan sekeliling ruang kelas.
"Knapa? Emang kamu lihat kejadiannya?" Tanya Apeng keheranan.
"Nggak,” jawabku. "Aku ada di jalan itu beberapa detik sebelum kejadian,” kataku setengah berbisik.
"Trus?" Apeng terlihat sangat penasaran.
"Gak mungkin motor itu menyalip truk, apa lagi dari sebelah kiri, karena tadi malem itu jalan sepi banget,” kataku masih dengan suara pelan, karena takut ada orang lain yang mendengar kesaksianku. Aku tidak sadar, walaupun yang tidak ada orang lain yang mendengarkan kesaksianku selain Apeng, tapi ternyata ada sesuatu yang mendengar semua apa yang aku tahu dan tadi aku katakan.
Apeng terdiam, entah kenapa aku merinding dan bulu kudukku berdiri. Teman-teman sekelasku mulai berdatangan, Aku mereka mereka semua menatap ke arahku dengan tatapan yang tidak biasa dan tidak bisa aku mengerti. Sementara Apeng juga masih memandangiku dengan keheranan dan sesekali matanya melirik ke arah lain, tapi entah apa yang dia lihat...
Sepulang dari sekolah aku langsung tertidur, entah kenapa hari itu aku merasa sangat lelah dan menjelang maghrib aku baru bangun. Di luar kamar terdengar ada suara orang sedang ngobrol, pasti keluargaku atau tetangga sebelah. Suara mereka terdengar cukup jelas, sedang membicarakan kecelakaan tragis yang terjadi malam tadi di jalan raya yang tidak terlalu jauh dari rumahku.
"Memangnya tadi malam ini jalanan rame apa, sampe harus nyalip dari sebelah kiri?,” tanya salah seorang dari mereka.
"Ya mungkin rame, Ceu,” jawab yang lain. "Jam segitu kan masih banyak karyawan yang pulang kerja.”
Dan entah apa lagi yang mereka bicarakan, aku lebih memilih untuk meninggalkan tempat tidurku lalu pergi ke kamar mandi. Ketika aku melewati ruang tengah saat menuju kamarku setelah selesai mandi, kulihat ayahku sedang duduk sambil nonton acara favoritnya di tv. Aku berhenti melangkah ketika mendengar berita di tv sedang bahas kecelakaan lalu lintas juga, dan ternyata kecelakaannya terjadi tadi malam di dekat rumahku.
Dalam berita itu seorang saksi mengatakan pengendara sepeda motor itu berusaha mendahului 3 buah truk dari sebelah kiri. Aku memperhatikan wajah saksi yang sedang diwawancara oleh reporter, dengan sangat meyakinkan saksi itu menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya. Dan...
"Aku sering lihat orang itu,” kataku dalam hati, sambil mengingat-ingat kembali dimana aku sering melihatnya. Tidak perlu waktu lama untuk menemukan jawaban, karena memang wajah orang itu tidak asing buatku. Aku sering melihatnya di terminal.
"Yah, ayah kenal orang itu?" tanyaku pada ayah.
"Preman terminal,” jawab ayahku. "Tapi ayah gak kenal,” lanjutnya.
"Dia itu bohong,” gumamku pelan sambil meninggalkan ruang tengah menuju kamar, aku tidak sadar ternyata ayah mendengar ucapanku yang terakhir tadi dan karenanya ayah mengikutiku ke kamar dan ayah juga tau kalo kemaren itu aku pulang larut malam.
"Kamu lihat kejadiannya?" Tanya ayah sangat serius.
"Nggak koq, Yah,” jawabku sedikit gugup karena kaget tiba-tiba ayah ada di belakangku, padahal aku sedang tidak berpakaian.
"Trus knapa kamu bilang preman itu bohong?" Tanya ayahku lagi.
"Dari terminal ke tempat kejadian kan jauh, Yah, masa dia bisa lihat,” jawabku berusaha untuk tenang.
Entah apa yang ayah pikirkan selanjutnya, tapi yang jelas jawabanku tadi membuat ayah tidak bertanya lagi lalu ayah keluar dari kamarku dan aku melanjutkan berpakaian.
Baru saja aku hendak pergi ke ruang makan ketika HP-ku bernyanyi, dengan cepat kuangkat dan ternyata temanku Ohim yang nelepon, dia ngajak ngerjain PR bareng di rumahnya dan bertanding main PS lagi, aku pun menyetujuinya.
Setelah selesai makan, aku bergegas peri ke rumah Ohim, dan ternyata disana sudah ada 2 temanku yang lain, termasuk Apeng yang sebenarnya tetanggaan denganku. Mereka terlihat sedang serius mengerjakan PR yang  harus di kumpulin besok.
Aku melirik jam wekker yang ada di meja, ternyata sudah hampir setengah 12 malem. Mungkin karena kami keasyikan main PS hingga waktu berlalu terasa bgitu cepat. Aku pun pamit pulang, karena teman-temanku yang lain mau nginap disana.
Aku meninggalkan rumah Ohim tepat jam setengah 12, selagi masih di dalam gang, aku melihat sebuah sepeda motor melintas di depan gang. Aku mempercepat laju motorku agar bisa bareng dengan motor itu biar nggak terlalu takut karena jalanan terlihat sangat sepi seperti malam kemaren. Ya, seperti malam kemaren. Aku kembali teringat kejadian malam sebelumnya, sebuah sepeda motor di depanku dengan dua orang berboncengan, mungkin pasangan suami istri. Aku mengamati motor yang melaju pelan di depanku, seperti motor yang kemaren. Aku mulai merasa ada sesuatu yang aneh, apa lagi waktu aku melihat wanita yang duduk di jok belakang motor itu menoleh ke belakang dan tersenyum kepadaku, wajahnya yang pucat terlihat begitu jelas dan senyumnya itu benar-benar membuatku merinding. Karena terdorong rasa takut, aku mempercepat laju motorku dan berniat mendahuluinya, tapi tiba-tiba aku mendengar suara gemuruh dari arah belakang, ternyata mobil truk. Aku memperlambat kembali laju motorku dan melirik ke arah spion, terlihat ada dua buah truk di belakangku dengan laju yang lebih cepat dari motorku, beberapa detik kemudian kedua truk itu sudah melewatiku.
Aku sudah sampai di depan gang yang menuju rumahku ketika kulihat di belakangku ada truk lain dengan kecepatan yang cukup tinggi, tapi aku tidak segera masuk gang melainkan berhenti disitu dan pandanganku terus mengikuti sepeda motor yang tadi melaju di depanku. Dari arah berlawanan muncul sebuah bis pariwisata tepat disaat truk yang baru melintasiku akan mendahului sepeda motor tadi dan truk itu terlalu pinggir karena menghindari bis yang datang dari arah berlawanan tadi, kemudian aku melihat bak dari truk itu menyenggol bagian belakang tubuh wanita yang duduk di atas motor tadi hingga motor itu terpelanting dan jatuh. Aku memejamkan mataku beberapa saat, terdengar suara gaduh, jeritan seorang wanita dan suara rem yang sangat keras. Truk itu berhenti mendadak sekitar seratus meter dari tempatku dan aku bergegas mendekatinya, tapi setelah sampai di tempat kejadian tadi aku tidak menemukan apa-apa selain keheningan.
Selang beberapa lama sebuah mobil berhenti di dekatku dan menyadarkanku, ternyata polisi yang lagi patroli. "Kamu sedang apa disini?" tanya salah seorang dari mereka.
Aku tidak menjawab karena masih bingung dengan apa yang baru saja aku lihat, mungkin mereka sengaja memperlihatkan kejadiannya kepadaku, tapi untuk apa? Apa mereka menginginkan aku untuk mengatakan kejadian yang sebenarnya? Tapi kan aku tidak melihat kejadian itu, walau sejak awal aku yakin bahwa saksi yang ada dalam berita itu telah berbohong dan membuat kesaksian palsu hanya atas dasar analisaku saja, bukan karena aku melihatnya, kalau aku terang-terangan menyalahkan saksi itu hanya atas dasar analisa, pasti aku kalah dan kalo aku mengaku bahwa aku melihat kejadiannya itu berarti aku berbohong juga dan membuat kesaksian palsu.
"Hey...!"
Aku tersentak kaget, tiba-tiba saja polisi itu sudah berdiri di dekatku dan tangannya menepuk bahuku. Aku masih duduk di atas speda motorku sambil menoleh ke arah polisi yang berdiri di sebelahku.
"Rumahmu dimana? Coba lihat KTP atau SIMnya" Tanyanya dengan nada menyelidik.
"Di dekat sini, Pak, masuk gang yang ada gapuranya itu,” jawabku sambil menunjuk ke arah belakang.
"Baru keluar? Atau mau pulang?" Tanyanya lagi. Sepertinya dia khawatir melihatku berdiam diri di tempat itu.
"Mau pulang, Pak,” jawabku. "Tadi abis dari rumah temen, dan saya sedikit melamun, jadi kelewat gangnya,” lanjutku lagi.
"Ya sudah, sekarang saya anter kamu pulang.”
"Gak usah, Pak, makasih. Deket ini koq, cuma terhalang tiga rumah dari gapura itu,” kataku sambil menghidupkan mesin sepeda motorku. "Mari, Pak,” pamitku pada polisi yang masih berdiri di luar mobilnya.
Aku membelokkan sepeda motorku berbalik arah, dan sesampainya di depan gang, aku melihat polisi itu masih belum pergi dan masih melihat ke arahku. Aku mengankat tanganku lalu memberi hormat padanya lalu kulihat dia masuk ke mobilnya dan aku pun masuk gang menuju rumahku.
Aku masih belum bisa tidur, mungkin karena tadi siang aku tidur terlalu lama atau mungkin juga karena terlalu memikirkan peristiwa kecelakaan itu, aku tidak tahu harus berbuat apa, katakan yang sebenarnya atau biarkan saja? Kalo harus aku katakan, apa untungnya buatku? dan pada siapa aku harus mengatakannya? Apa memang ada orang yang ingin tau kebenarannya? Atau...
Tiba-tiba aku merasakan ada hembusan angin lembut menerpa tubuhku, aku melihat ke arah pintu dan jendela kamarku, tapi keduanya sudah tertutup rapat. "Angin ini dari mana datangnya?" Tanyaku dalam hati.  Aku bangkit dari pembaringanku hanya untuk meyakinkan apa benar ada hembusan angin atau tidak, tapi ketika aku hendak turun dari tempat tidurku, aku tersentak kaget dan hampir saja aku berteriak karena di samping tempat tidurku berdiri dua orang yang tidak kukenal, seorang laki-laki dan perempuan yang berpakaian serba putih, dan aku mulai merasa takut ketika aku melihat wajah mereka yang pucat dengan tatapan mata yang menatapku dengan tajam, tapi beberapa saat kemudian aku melihat mata mereka menyiratkan kesedihan. Dan ketika aku sadar bahwa kedua orang yang berdiri di hadapanku ini bukanlah manusia sepertiku, aku berusaha bangkit untuk keluar dari kamar dan meninggalkan mereka, tapi aku serasa terpaku di atas tempat tidurku, lalu aku melihat mulut wanita itu bergerak perlahan dan mengatakan sesuatu. “Jangan takut, duduk saja....”
Aku terdiam. lalu perlahan-lahan wanita itu menggerakkan tangannya ke arahku, beberapa saat kemudian telapak tangan yang dingin itu menempel di atas kepalaku. Tanpa aku kehendaki, mataku terpejam, dan tiba-tiba saja aku sudah berada di sebuah tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya, di depanku terlihat sekumpulan orang sedang menonton TV dan ketika aku menoleh ke kanan, disana ada beberapa orang sedang membaca koran, disebelah kiriku ada lagi sekumpulan orang sedang mendengarkan radio dan ketika aku membalikkan badan, aku melihat lebih banyak lagi orang yang sedang berkumpul dan membicarakan sesuatu. Awalnya samar-samar aku dengar suara mereka dan semakin lama semakin jelas; mereka sedang membicarakan peristiwa kecelakaan itu, seperti sepakat mereka menyalahkan pengendara motor, bahkan ada beberapa di antara mereka yang memaki. Aku mencoba berteriak kepada mereka untuk mengatakan bahwa berita itu salah, tapi mulutku seperti terkunci dan tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Tak selang berapa lama sekelompok anak sekolah perempuan dengan seragam putih abu lewat di depanku...
“Tetep aja orangtuamu yang salah, meski pun bisa, mendahului kendaraan lain dari sebelah kiri itu gak boleh,” kata salah seorang dari mereka yang tampil agak beda, tidak pake kerudung hanya terlihat sebuah bando yang kepalanya. Yang di ajak bicara hanya diam sambil menunduk dan terus berjalan menjauh dariku.
Tiba-tiba kepalaku terasa sakit dan penglihatanku mengabur, tidak tahan dengan rasa sakit di kepalaku, aku pun terjatuh dan aku terbangun dari tidurku dalam suasana yang sangat sepi, tapi ada sedikit cahaya dalam kamarku yang ternyata berasal dari monitor komputer.
Cukup lama aku memperhatikan monitor itu dengan perasaan heran, karena sebelumnya aku tidak menyalakan komputer, dan itu sepertinya Facebook. Aku bangkit dan mendekati monitor yang berada di meja kamarku, ternyata benar saja, barusan ada seseorang yang mengakses Facebook dari komputerku. Ketika aku akan mematikannya, tanpa sengaja aku membaca sebuah status yang dibuat seseorang 7  jam yang lalu, ”Jalan sepi, malem kemaren disini terjadi kecelakaan, semoga tidak terjadi padaku. Amiin.” Banyak yang koment, umumnya iseng menakut-nakuti yang punya status, tapi komen yang paling bawah agak beda, “Jgn ngelamun, Neng. Kalo jalan lagi sepi, gak mungkin ada kecelakaan, kecuali jatuh sendiri karena ngelamun atau ngantuk. Yang kemaren itu orang oon, sebelah kanan aja pasti kosong koq mendahului dari sebelah kiri,” begitu isi komentnya. Entah kenapa tiba-tiba tanganku bagai bergerak sendiri menarik keyboard dan membalas koment itu, “Kecelakaan kemaren itu kejadiannya gak kayak gitu, Pak. Berita yang nyebar itu sumbernya saksi palsu.” Aku berhenti mengetik dan aku menunggu barangkali saja ada orang yang membalas komentku, tapi sampai kudengar adzan subuh, komentku tidak ada yang menanggapi.

“Jo…!” Apeng memanggilku dari koridor sekolah saat aku sudah siap-siap untuk menyetarter motorku. Aku menengok ke arahnya, Apeng mendatangiku dan kukira dia akan langsung duduk di jok belakang motorku, tapi ternyata tidak. “Lo gak pernah bilang klo lo punya cewek cakep,” katanya.
“Cewek…?” Tanyaku keheranan.
“Tuh,” Apeng menunjuk ke ujung koridor, “dia nyariin Elo,” katanya lagi.
Aku melihat ke arah yang ditunjukkan Apeng dan terlihat disana berdiri sesosok wanita dengan pakaian serba putih dengan wajah pucat, pandangannya kosong menatapku. Aku kenal sosok itu, tapi mau apa dia kesini?
"Cepet samperin sana, kasian udah nunggu dari tadi,” kata Apeng lagi karena melihatku masih duduk diam di atas jok sepeda motorku.
"Aku gak kenal, Peng,” kataku sambil mencoba menetralisir perasaan takutku.
"Sikat aja, Bro... Kesempatan gak akan datang dua kali,” Apeng terus menyemangatiku, dia bener-bener gak tau apa sebenarnya yang aku hadapi.
Aku standarkan motorku lalu mendekati wanita itu. Jantungku berdebar kencang, dan aku mencoba menenangkan diriku dengan memejamkan mata dan menarik nafas. Namun saat aku kembali membuka mataku, jantungku malah berdebar semakin kencang, aku sangat kaget, karena yang berdiri di hadapanku sekarang bukanlah wanita yang tadi, melainkan seorang gadis manis berseragam putih abu tersungging senyum dibibirnya dan dengan mata sayu dia menatapku.
“Knapa…?” Tanyanya dengan suara yang nyaris tak terdengar dan kaku.
“Ka… Kamu siapa?” Tanyaku dengan gugup.
“Aku Karin,” jawabnya datar tanpa ekspresi.
"Kamu mencariku apa gak salah orang?" Tanyaku ketus mencoba menunjukkan rasa tidak sukaku atas ekspresinya.
“Aku minta waktunya sebentar, bisa kan?” Dia bertanya padaku dengan ekspresi wajah yang penuh harap.
“Iya, bisa,” jawabku cepat setelah aku melihat merubahan di wajahnya sambil mencoba mencari tempat untuk duduk di sekitar tempat parkir. Tapi dalam pikiranku yang masih kacau terlintas satu ruangan yang pasti tidak ada orang disana. Aku meraba saku celanaku, bersyukur karena ternyata membawa kuncinya. “Ikut aku,” kataku pada Karin sambil mulai melangkah menuju ruang UKS. Aku mendengar suara langkah di belakangku dan aku yakin itu suara langkah Karin yang mengikutiku. Aku mulai merasa tenang karena suara langkah itu, “itu langkah manusia,” pikirku sedikit konyol.
Aku segera membuka ruang UKS dan mempersilahkan Karin untuk masuk. “Gak pa-apa kan kita bicaranya disini?” Tanyaku.
“Gak pa-pa koq,” jawab Karin sambil melangkah masuk.
Aku mengambilkan sebuah bangku untuk Karin dan mempersilahkannya duduk, dan aku duduk di bangku yang lain dengan posisi berhadapan dengannya dan hanya terhalang sebuah meja.
“Kamu sekolah di mama?” Tanyaku memulai pembicaraan.
“Aku kesini bukan mau kenalan,” jawab Karin membuat hatiku sedikit ciut. “Aku cuma mo nayain sesuatu,” lanjutnya sambil mengeluarkan sesuatu dari tas sekolahnya. Karin mulai mengotak-ngatik HP yang baru diambilnya. Aku hanya diam, pasti sesuatu yang akan ditanyakannya itu tersimpan di HP dan sangat penting.
“Aku gak tau sejak kapan kita temenan di FB,” kata Karin menghentikan lamunanku. “Dan tadi malm, Kamu ngirimin aku sebuah video,” lanjutnya sambil memperlihatkan HPnya kepadaku. “Aku hanya ingin tau cerita di balik pembuatan video ini,” katanya lagi dan wajahnya kembali seperti semula. Jutek.
Karin memperlihatkan sebuah rekaman video langsung dari inbox FBnya sehingga aku bisa melihat pengirim video itu. Ya, aku pengirimnya, tapi kapan? Dan siapa yang membuat rekaman video itu?
Aku memandang wanita yang duduk menunduk di hadapanku setelah tayangan video itu selesai. Pertanyaan-pertanyaan lain muncul di benakku; siapa wanita ini? Kenapa rekaman video itu dikirim kepadanya? Siapa yang mengirimnya dari akun FBku? Siapa yang membuat rekaman video itu dan untuk apa?
“Aku membaca komentmu tadi malm,” Karin menatapku dengan pandangan aneh, curiga atau apa. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, tapi aku tau apa yang sedang dibicarakannya. Dan setelah melihat rekaman video itu, aku mulai khawatir dengan keadaanku, tapi aku mencoba untuk tetap tenang walau masih belum menemukan jawaban atas rekaman video aneh itu.
“Kamu siapa?” Tanyaku, mengulang pertanyaan yang pertama kali kuajukan tadi.
Karin menarik nafas dalam, lalu katanya, “yang ada dalam rekaman video ini orangtuaku.”
Aku memandang Karin yang tidak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya, terlihat genangan air bening di kelopak matanya yang perlahan menetes melalui kedua sudut matanya dan jatuh di pipinya yang bersih. Aku mulai mengerti dan bisa memaklumi, rekaman video itu adalah saat-saat terakhir kedua orangtua Karin sebelum kecelakaan maut itu terjadi, dan Karin hanya bisa melihatnya dalam rekaman video yang entah dari mana asalnya.
Aku mengambilkan sehelai sapu tangan dari laci meja dan memberikannya pada Karin. “Maafin aku…,” kataku dan tidak tau lagi apa yang harus kukatakan. Aku benar-benar bingung.
“Aku cuma ingin kamu ceritain kejadian yang sebenarnya sama aku,” pinta Karin sambil menahan isak tangisnya.
“Aku gak tau,” kataku.
“Trus knapa kamu bisa koment kayak gitu di FB? Dan video ini bukti kalo kamu tau kejadian sebenarnya,” suara Karin agak meninggi mendengar jawabanku tadi.
Aku mencoba untuk tenang dan berpikir apa yang seharusnya kukatakan pada Karin. Aku mulai teringat dengan mimpiku tadi malam, dan aku ingat, aku melihat Karin yang terpojok dalam mimpi itu. Aku bangkit dari tempat dudukku, lalu mengambil segelas air putih dari dispenser yang ada di sudut ruangan itu. “Minum dulu,” kataku pada Karin sambil memberikan segelas air putih yang kuambil tadi kepadanya.
Aku menatap Karin yang meneguk air dari gelas dengan perlahan dan kucoba mengingat-ingat apakah aku pernah melihat dia sebelumnya, tapi sepertinya belum. Mungkin dia bukan orang sini dan sekolahnya jauh dari sini, pikirku. Andai saja pertemuan ini tidak dalam situasi sekarang...
“Apa yang kamu tau?” Tanya Karin membuyarkan lamunanku.
“Aku gak yakin,” jawabku.
“Maksudnya?” Tanya Karin lagi. Matanya menatapku tajam membuat jantungku kembali berdebar, bukan karena takut, tapi mata yang masih terlihat basah itu mirip sekali dengan sepasang mata milik wanita yang kulihat dalam mimpi malam tadi.
"Aku gak yakin kamu akan percaya dengan apa yang akan kukatakan,” kataku sambil menatap matanya yang kemudian tertunduk.
"Katakan saja,” katanya pelan.
"Aku gak tau tentang rekaman video itu,” aku mulai menjelaskan. Karin diam dan kembali menatapku. "Bukan aku yang membuatnya dan bukan aku yang mengirimkannya pada kamu,” lanjutku. Aku lihat Karin agak keheranan mendengar pengakuanku. "Itulah yang kejadian yang kulihat malam itu, aku hanya mendengar suara kecelakaan itu tapi tidak melihatnya.”
"Mendengar apa?" Tanya Karin.
"Suara yang terdengar di bagian akhir video itu,” jawabku.
"Malam itu kamu berada dimana?,” Tanya Karin lagi.
"Aku berada di posisi kamera video itu,” jawabku yang membuat Karin makin penasaran.
"Berarti kamu kan yang membuat rekaman ini?" Karin terus mendesakku.
"Demi Allah, nggak. Coba kamu lihat lagi videonya, dan ini HPku,” aku berusaha meyakinkan Karin. "Kalo HP ini yang kupake untuk merekam, pasti gambarnya akan miring dan terbalik, karena pasti aku merekamnya dengan HP yang kugantung di leher dan posisinya HPnya akan miring dan terbalik karena lubang tali HPku ada disini, disudut bawah,” kataku sambil memperlihatkan HPku pada Karin. "Rekaman video itu memang diambil dari posisiku, tapi untuk menghasilkan gambar dengan posisi datar dan stabil, kamera harus dalam keadaan stabil dan paling tidak kamera itu dipegang oleh satu tangan. Tapi coba kamu lihat, di video itu sangat jelas kalo kedua tanganku memegang stang.”
Karin terdiam menunduk, mungkin karena aku bicara terlalu keras hingga membuatnya merasa takut dan aku jadi merasa bersalah.
"Maafin aku...,” kataku pelan.
"Kamu pernah melihat orangtuaku setelah kejadian itu?" Tanya Karin sambil menatapku seolah-olah dia menuntutku untuk berkata jujur.
"Maksudnya?" Tanyaku agak kurang yakin dengan pertanyaan Karin.
"Mungkin kamu menyebutnya hantu atau apa, terserah kamu,” jawab Karin. Sepertinya dia mengerti kebingunganku.
"Empat kali,” jawabku.
"Kapan?"
"Sekitar 2 jam setelah kejadian, aku lihat mereka berdiri di gapura dan minta tolong, tapi....”
"Kenapa kamu gak datangi dan menolong mereka?" Karin memotong kalimatku dengan pertanyaan yang sebelumnya sudah kuduga pasti akan keluar dari mulut Karin.
"Aku melihat sesuatu yang gak wajar, Rin.”
"Seperti apa?"
"Kamu gak usah tau apa atau seperti apa yang kulihat waktu itu, karena itu cuma halusinasiku aja.”
"Mereka itu orangtuaku, bukan hantu atau halusinasi,” Karin terlihat histeris mendengar kata-kataku, dia menangis dengan menundukkan wajahnya di atas meja. Aku hanya bisa dan membiarkannya terus menangis. Aku tidak berani melanjutkan ceritaku sampai tangisan Karin reda, tapi dia masih menelungkupkan wajahnya dengan kedua tangannya di atas meja.
"Rin, sudah sore,” kataku mencoba membujuk Karin. "Aku anterin kamu pulang ya.” kataku lagi. Tapi Karin nggak menjawab.
"Kalo malm itu kamu gak buru-buru masuk gang, pasti kamu yang akan keserempet truk itu,” kata Karin tiba-tiba, setelah beberapa lama terdiam menunduk.
Aku tidak menjawab, kalimat yang diucapkannya barusan itu tidak pernah terpikir olehku sebelumnya. Kutatap mata yang makin sayu itu dan mencoba memahami maksud kata-katanya tadi, apakah dia menuduhku telah mencelakai kedua orangtuanya? Aku beristighfar berulang-ulang dalam hati, mencoba memikirkan apa yag sebaiknya aku katakan dan aku lakukan untuk Karin, wanita yang baru kukenal beberapa jam yang lalu, dalam keadaan yang seperti ini.
"Seharusnya waktu itu kamu kembali ke jalan, walau gak bisa menolong, tapi setidaknya kamu bisa melihat apa yang terjadi setelah kamu dengar suara itu,” kata Karin lagi membuatku semakin terpojok.
"Waktu pertama aku melihat berita tentang peristiwa itu, aku sadar akan kesalahanku, tapi aku gak tau harus berbuat apa,” kataku dengan nada menyesal. "Berita bohong itu sudah terlanjur menyebar dan mereka menganggap orangtuamu yang salah.”
"Kamu harus ralat semua berita itu, hanya itu yang diinginkan orangtuaku dari kamu karena kamu satu-satunya orang yang tau kejadian itu.” kata Karin pelan tapi membuatku tiba-tiba merasa ngeri mendengarnya. Mungkin dia benar, hanya cara itu yang bisa membuat kedua orangtuanya beristirahat dengan tenang di alam sana.
"Aku gak punya bukti,” kataku kemudian.
Karin kembali terdiam, dari beberapa kalimat terakhir yang diucapkannya tadi, aku tahu bahwa Karin mulai memahami posisiku. Dan dari apa yang dikatakannya tadi, aku yakin bahwa Karin juga pernah bertemu kedua 'orangtuanya' setelah peristiwa kecelakaan maut itu terjadi.
"Aku janji akan meralatnya,” kataku dengan kurang yakin aku akan mampu melakukannya. "Tapi gak sekarang,” lanjutku. "Aku akan pikirkan caranya, sekarang kita pulang ya.”
Karin tidak menjawab, tapi dia beranjak dari tempat duduknya kemudian melangkah menuju pintu keluar dan terus berjalan menyusuri koridor menuju gerbang sekolah dan meninggalkanku sendirian.
Aku bergegas mengunci pintu dan setengah berlari menuju tempat parkir, dengan segera aku menghidupkan mesin sepeda motorku. Langit terlihat gelap dan beberapa titik air mulai terasa membasahi lenganku yang tidak tertutupi. Aku lihat Karin kembali masuk halaman sekolah dan menuju ke arahku ketika aku sudah melaju meninggalkan tempat parkir. Aku menghentikan sepeda motorku, kukira Karin akan minta diantar pulang karena takut kehujanan, tapi...
"Videonya gak ada,” katanya sambil memperlihatkan layar HPnya padaku.
"Aku anterin kamu pulang, cepetan naik, kburu hujan, kita bahas lagi videonya nanti,” kataku setengah memaksa.
"Aku mau pulang sendiri,” jawab Karin ketus sambil memasukkan HP ke tas sekolahnya.
"Kamu akan kehujanan dan kemaleman disini kalo gak pulang sekarang,” kataku lagi.
Beberapa saat Karin terdiam dan melihat ke jalan depan sekolah yang mulai terlihat sepi, lalu seperti terpaksa dia naik ke jok belakang sepeda motorku. Aku mulai memacu sepeda motorku dijalan aspal yang mulai basah, tidak banyak kendaraan yang berlalu lintas, hanya ada beberapa sepeda motor yang sepertinya sama denganku, takut keburu hujan deras.
"Rumahmu dimana?" Tanyaku dengan sedikit keras khawatir Karin tidak bisa mendengar suaraku.
"Cibeas,” jawab Karin persis di telingaku.
Cibeas? Aku tersenyum sambil tetap konsentrasi ke jalan yang terlihat licin mengkilat. Pantesan kulitmu putih banget, gumamku dalam hati. Tapi sayang, Cibeas gak searah dengan jalan pulangku. Dan jujur saja, seumur hidup ini baru sekarang aku bonceng cewek dengan sejuta perasaan aneh yang bergejolak dalam hati disertai pikiran yang semakin kacau, apa lagi setelah Karin bilang bahwa videonya hilang. Hhhhh... Apa lagi yang harus kukatakan. Halusinasi...?
Karin memanduku dari belakang untuk sampai ke rumahnya, dan tidak berapa lama kemudian Karin menujukkan sebuah gang yang harus aku masuki, tidak nyampe satu menit berada di gang itu, aku menemukan lagi jalan beraspal tipis, Karin menyuruhku mengambil arah kiri, sekitar lima menit kemudian, karin menunjukkan lagi sebuah gang yang kali ini cukup sempit dan aku berhenti di depan gang itu. Karin turun tapi tidak segera meninggalkanku.
"Kamu ke rumahku dulu aja sambil nunggu ujan reda,” katanya padaku, "atau kalo mau, kamu boleh pake jas hujanku,” katanya lagi, mungkin dia mulai merasa kasihan melihat seluruh pakaianku basah.
Aku hanya terdiam melihat Karin memasuki gang itu, di ujung sana ada sebuah rumah dengan dinding berwarna hijau muda. Mungkin itu rumahnya, pikirku.
"Ayo,” Karin mengagetkanku, dia berteriak sambil melambaikan tangannya ke arahku. Aku tersenyum dengan sedikit rasa malu, aku kan belum pernah berkunjung ke rumah cewek selain teman sekelasku, itu pun hanya untuk belajar kelompok.
Aku memarkir motorku di depan rumah Karin kemudian aku menuju teras. Ada dua buah kursi rotan yang bentuknya cukup unik disana, membuatku penasaran dan ingin segera mendudukinya. Dan sebuah meja kecil dengan vas bunga origami di atasnya. Rajin juga anak ini, kataku dalam hati, yakin bahwa bunga-bunga kecil itu adalah hasil kreasinya.
"Di dalam aja,” kata Karina yang berdiri di pintu sambil tersenyum ketika aku hendak duduk di kursi rotan itu.
"Gak usah,” kataku dengan sedikit gugup dengan perubahan sikap Karin yang tiba-tiba, "aku duduk disini aja, ga apa-apa kan?" tanyaku sambil menunjuk salahsatu kursi rotan.
"Ya udah, gak apa-apa,” kata Karin, lagi-lagi dengan senyumnya, "tapi kalo hujan, disini dingin banget,” lanjutnya sambil meletakkan segelas air bening yang terlihat masih menguap, pasti air hangat. Lalu dia duduk di kursi rotan yang satunya.
"Videonya kamu hapus?" Tanya Karin tiba-tiba mengagetkanku. Kukira dia tidak akan bahas itu lagi.
Aku pandangi wajahnya dan aku tidak menjawab karena aku yakin dia akan menemukan jawabannya. Soalnya dari tadi juga HPnya tidak pernah berpindah ke tanganku. Dan benar saja...
"Maaf...,” katanya. "Mungkin tadi aku salah mencet, jadi terhapus videonya,” katanya lagi.
"Video itu gak pernah ada, Rin,” kataku mencoba meyakinkan kembali. "Rekaman videonya tersimpan disini,” kataku lagi sambil meletakkan telunjuk tanganku di pelipis, "karena kamera yang dipake untuk merekamnya adalah ini,” aku menunjuk kedua mataku di akhir kalimatku.
Karin hanya diam, pandangannya menatap jauh ke depan menembus air hujan yang semakin rapat memagari pandangannya menyeberangi persawahan yang membentang di depan rumahnya, menuju gunung-gunung yang berdiri kokoh jauh disana. Kalo cuaca cerah, sebentar lagi pasti aku bisa melihat sunset di antara gunung-gunung itu, kataku hanya dalam hati.
"Tadinya video itu akan kujadikan bukti,” gumam Karin hampir tidak terdengar. Aku meliriknya, dia masih menatap kosong ke arah derasnya hujan. "Aku nemuin kamu hanya kerna ingin tau cerita dibalik video itu untuk meyakinkan orang-orang tentang peristiwa itu,” katanya lagi.
"Pertemukan aku dengan teman-temanmu,” pintaku pada Karin, "terutama orang yang kemaren menggunakan bando warna pink,” lanjutku dan sepertinya membuat Karin kaget.
Karin menatapku seperti tidak percaya dengan apa yang aku katakan, "Kamu tau dari mana?" Tanyanya sambil terus menatapku seolah ingin segera mendapat jawaban.
"Aku melihat kamu bersama mereka dalam mimpiku tadi malam,” jawabku, "dan dia itu memojokkanmu.” kataku lagi.
"Gak bisa,” kata Karin di luar dugaanku, "dia meninggal tadi pagi waktu berangkat sekolah, dia dan motornya terserempet truk trus kelindes, makanya tadi aku bisa nemui kamu karna tadi aku menjenguknya ke rumah sakit dan gak sekolah,” ungkap Karin panjang lebar.
Aku semakin gusar setelah mendengar cerita Karin, apa lagi kalo inget kata-katanya yang tadi dia ucapkan waktu di ruang UKS. Mungkin benar yang dikatakan Karin, seharusnya akulah yang jadi korban kecelakaan itu. Tapi kalo malam itu aku terlindas truk, apakah aku akan langsung meninggal dan apakah orangtua Karin skarang akan masih hidup? Mungkin tidak, karena kematian itu adalah takdir, dan peristiwa yang menimpa kedua orangtua Karin hanyalah wasilah menuju takdir itu sendiri. Itu sebenarnya yang tadi ingin kujelaskan pada Karin, tapi kondisinya tidak memungkinkan. Karin masih belum bisa menerima kenyataan harus kehilangan kedua orangtuanya pada saat yang bersamaan, walau kulihat Karin cukup tegar, tapi disaat-saat tertentu dia tidak mampu menyembunyikan kesedihannya, bahkan dihadapanku, orang yang baru dia kenal hari ini.
Keesokan harinya, aku baru selesai makan siang ketika HPku berbunyi, sebuah panggilan dari nomor yang tidak pernah masuk daftarku sebelumnya. Dengan malas aku menjawab panggilan itu. "Hallo...,” kataku.
"Kak, aku lagi di gapura deket rumahmu,” jawab sebuah suara dari earphone.
"Karin...?" Tanyaku sedikit tidak yakin dengan apa yang kudengar.
"Iya,” jawabnya.
Aku bergegas ke luar dari rumah tanpa menutup pembicaraan, setengah berlari aku menuju gapura, dan kulihat Karin yang masih mengenakan seragam lengkap dengan tas sekolahnya berdiri disana. Dia menghadiahi aku sebuah senyum saat aku menghampirinya, tidak begitu manis, mungkin karena masih dalam suasana berkabung.
"Aku mau minta tolong,” katanya dengan sedikit berharap, "Anterin aku nemuin Hengky,” lanjutnya tanpa menunggu jawabanku.
"Mo ngapain?" Tanyaku yang sebenarnya gak perlu bertanya seperti itu.
"Anterin aja,” Karin agak memelas
"Ke rumahku dulu, ngambil motor,” kataku dengan tanpa sadar sambil menarik tangan Karin.
Karin diam dan mengikuti langkahku, dan sesampainya di depan rumahku, Karin menghentikan langkahnya dan dia hanya diam memandangku beberapa saat kemudian pandangannya pindah ke tanganku yang menggenggam pergelangan tangannya.
"Maaf...,” kataku dengan segera aku melepaskan tangannya lalu bergegas aku mengambil kunci sepeda motorku.
Tidak lama kemudian kami sudah berada di tengah keramaian jalan raya menuju terminal tempat Henky bekerja. Tapi aku tidak melihat dia berada ditempat yang biasa. 
"Pak, mo nanya,” kataku kepada salah seorang pria yang juga sering kulihat ada diterminal ini.
"Ada apa, Cep?" Tanyanya padaku dengan sangat sopan.
"Bapak lihat Hengky gak?" Tanyaku.
"Itu, Cep, yang lagi jongkok deket warung, katanya dia lagi kurang sehat,” kata pria itu sambil menunjuk ke arah warung di sudut terminal.
Karin langsung menarik tanganku menuju ke warung yang ditunjukannya, tapi aku menahan langkahku dan membuat Karin berhenti. Karin menatapku, aku mengalihkan pandanganku ke arah tangannya yang memegang tanganku. Dengan segera dia melepaskan tanganku, tapi ekspresi wajahnya aneh, boro-boro minta maaf, dia malah meninggalkanku sambil cemberut. Aku berbalik ke arah pria yang kutanyai tadi, kulihat dia tersenyum karena ternyata dia memperhatikan ulah Karin.
"Terimakasih, Pak" Kataku sambil membalas senyumnya. Dengan setengah berlari aku menyusul Karin umtuk menemui Hengky yang duduk lesu, wajahnya menunduk sambil sesekali menghisap rokok di tangannya dan dia tidak sadar dengan kedatangan kami. Aku berdiri disamping Karin yang tiba lebih dulu, tapi sepertinya Karin ragu-ragu untuk berbicara. Aku mencoba meraih tangannya lalu aku mengenggamnya mudah-mudahan dia merasa lebih tenang. Karin hanya melirikku.
"Kang...,” kata Karin mencoba membuka pembicaraan.
Hengky mendongakkan kepalanya ke arahku, dan saat pandangannya beralih ke arah Karin, ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah, dia sangat ketakutan dan dengan susah payah bangkit dari duduknya lalu berlari menjauhi kami sambil sesekali menoleh ke arah Karin dan berteriak-teriak histeris.
"Jangan...! Jangan ganggu saya...! Saya tidak bersalah...!" Teriaknya berulang-ulang sambil terus berlari tampa mempedulikan keadaan di terminal itu yang sedang banyak orang.
Beberapa orang meneriakinya saat Hengky terus berlari ke arah jalan raya yang sedang padat dengan kendaraan, tapi Hengky tidak mempedulikannya, dia masih sesekali menoleh ke arah Karin sambil terus berlari, dan ketika dia sampai di bibir jalan, sebuah sepeda motor lewat dan menyambar tubuhnya yang kemudian terpelanting, tubuh kurus kering itu kemudian jatuh terkapar di atas jalan aspal dan tepat di kolong sebuah mobil truk molen yang sedang melintas.
Aku memejamkan mataku dan kemudian terdengar jeritan histeris dari sekian banyak orang yang melihat peristiwa itu. Karin melepaskan pegangan tanganku, dan kulihat dia berlari ke jalan.
Tubuh Karin terasa gemetar ketika aku berhasil merengkuh tubuhnya dan berusaha membawanya keluar dari kumpulan orang-orang yang melihat jasad yang hampir tidak berbentuk itu. Namun setelah berhasil keluar, tubuh Karin terasa sangat lemas dan terduduk di trotoar. Saat aku kebingungan, pria yang tadi kutanyai datang dan membantu mengangkat tubuh Karin agar aku dapat memangkunya.
"Bawa kesini, Cep,” katanya sambil menuju ke arah sebuah kios yang ternyata itu kios miliknya. "Di dalam sini, Cep,” katanya lagi sambil menunjukkan sebuah ruangan yang ada dalam kios itu.
"Apa keadaan orangtuaku juga seperti itu?" Tanya Karin kepadaku beberapa saat kemudian sambil menangis.
"Nggak,” jawabku, "Mereka jauh lebih baik,” kataku lagi.
"Minum, Neng,” pria tadi masuk sambil membawa segelas air putih yang diberikan pada Karin, lalu pria itu duduk di samping tubuh Karin yang masih terbaring. "Bapak tau Neng ini,” katanya.
Aku dan Karin hanya terdiam berpandangan.
"Mereka sering mampir ke kios bapak ini, dan kalo mereka pulang malem, sering membeli nasi goreng kepada anak bapak,” lanjut pria itu, "dan tadi waktu bapak lihat Si Neng ini, bapak sangat yakin kalo Si Neng ini anaknya mereka.”
"Maksud Bapak apa?" Tanyaku masih merasa kurang jelas.
"Bapak dan orang-orang disini tau kejadian yang sebenarnya, Bapak sudah peringatkan Si Hengky itu, tapi dia tidak mau dengar,” pria itu diam sejenak sambil menatap Karin. "Bapak ikut berduka untuk orangtua Si Neng,” lanjutnya dengan suara pelan.
"Makasih, Pak,” jawab Karin yang masih belum bisa menghentikan isak tangisnya.
"Entah dikasih berapa Si Hengky oleh sopir truk itu,” gumam Bapak Pemilik Kios itu sambil bangkit lalu keluar meninggalkan aku dan Karin yang masih kebingungan setelah mendengar ceritanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar