Restu Dari Syurga
Terakhir dia datang ke rumahku untuk mengabariku bahwa sopir truk yang mencelakai kedua orangtuaku telah tertangkap, mungkin karena waktu itu aku menanggapinya dengan dingin sehingga dia enggan untuk menemuiku lagi. Beberapa kali dia menghubungiku lewat telepon, itu pun hanya menanyakan kabarku dan adikku, dan tentu saja dia tidak bisa melihat ekspresi wajahku saat itu. Terakhir dia mengirimi aku sebuah SMS, hampir sebulan yang lalu, dia minta aku mendoakannya agar diberi kemudahan dalam menjalani UAN dan aku hanya mengiyakan.
Langit sore itu cukup cerah, hanya terlihat beberapa gumpalan awan putih yang tak mampu mencegah mentari untuk menyinari buminya. Aku duduk di teras sambil mempermainkan laptop hadiah dari almarhum ayahku setahun yang lalu saat aku berhasil mendapatkan rengking 1 di sekolah. Sesekali kulihat pemandangan yang terbentang di hadapanku, lengkap dengan barisan bukit berlatar langit senja yang mulai berubah warna. Sebentar lagi matahari akan menyelinap kesana.
Aku teringat saat terakhir dia duduk disini, waktu itu dia bertanya tentang seberapa indah sunset yang terlihat dari teras rumahku ini, dan katanya suatu saat nanti dia ingin punya kesempatan untuk melihat dan menikmati keindahannya bersamaku. Tapi mungkin kesempatan itu belum dia dapatkan, atau mungkin dia tidak benar-benar menginginkannya, dia hanya bercanda atau hanya ingin menghiburku.
“Assalaamu’alaikum…,” tiba-tiba sebuah suara dari samping kanan rumah menggetarkan membran timpani dalam telingaku. Lamunanku terhenti dan aku menoleh ke arah asal suara itu.
“Wa’alaikum salaam…,” jawabku dengan suara sedikit tertahan.
Sosok pemilik suara itu hanya berdiri sambil tersenyum yang membuatku terpana melihatnya. Sesosok pria dengan seragam biru yang tak asing buatku, karena seragam itulah yang setiap hari dikenakan almarhum ayahku, rambutnya tersisir rapi dan sepasang kacamata ikut menghiasi wajahnya yang sudah lama tidak kulihat.
“Kakak…,” hanya kata itu yang dapat keluar dari mulutku dengan suara yang mungkin tidak sampai kepadanya.
Dengan langkah perlahan dia mendekati pintu masuk halamanku dan dia kembali menghentikan langkahnya di depan pintu itu yang posisinya tepat di hadapanku.
“Boleh…?” Tanyanya sambil menunjuk kursi kosong yang ada di sebelah tempat dudukku.
Aku hanya mengangguk, setelah itu dia melangkah semakin mendekat lalu menanggalkan sepasang sepatu hitamnya dan menginjakkan sepasang kakinya di teras rumahku yang entah sudah berapa lama teras rumahku ini tidak diinjak oleh sepasang kaki itu. Aku tak mampu menahan gejolak perasaanku saat dia semakin mendekat, lalu aku bangkit berdiri dari tempat dudukku dan memeluknya sambil menangis, perlahan dan terlihat ragu ia membalas pelukanku.
“Kamu knapa?” Tanyanya pelan dan aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku dalam pelukannya.
“Kamu sakit?” Tanyanya lagi, dan aku jawab dengan menggeleng-gelengkan kepalaku lagi.
“Kamu baik-baik aja kan?” Dia terus bertanya tentang keadaanku dengan nada khawatir.
“Nggak…!” Jawabku sambil melepaskan pelukanku dan duduk kembali. Dia duduk di kursi yang ada di sampingku dan terlihat seperti kebingungan atas sikapku yang memang aneh, karena sampai saat terakhir ketemu, jangankan memeluknya, dia pegang tanganku aja rasanya janggal meski pun aku tahu dia pernah memangku tubuhku waktu terjadi kecelakaan di terminal.
“Knapa donk?” Dia bertanya lagi seakan ingin memastikan kalo aku baik-baik saja.
“Aku kangen…,” jawabku spontan. Astaga… Akhirnya kalimat itu terucap juga dari mulutku. Aku meliriknya dan mencoba mencari tahu jawaban apa yang akan dia berikan.
Dia menatapku sambil tersenyum menggodaku. “Yang bener…?” Tanyanya ingin memastikan apa yang kukatakan tadi atau mungkin dia tidak percaya pada ucapanku.
Aku balas menatapnya, terasa ingin aku meyakinkan dia, tapi… “Bukan pada Kakak,” kataku sambil bangkit meninggalkannya. Dalam hati kecilku terbersit rasa khawatir dia akan pergi meninggalkanku lagi karena kalimatku yang terakhir tadi. Sebelum masuk dapur, aku melihatnya masih duduk sambil memandang jauh ke ufuk barat yang mulai memperlihatkan nuansa warna senja yang semakin indah. Aku tersenyum karena aku yakin dia tidak akan pergi, setidaknya sampai matahari terbenam.
Aku kembali dengan membawa segelas air minum untuknya. Dia masih asyik menatap gunung-gunung yang jauh itu seolah tidak peduli dengan kedatanganku, dia hanya menoleh ke arahku sebentar lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah semula. Aku masih berdiri sambil menatapnya sampai beberapa lama, ingin rasanya aku kembali ke dapur dan melemparkan gelas minuman yang kubawa ini, tapi…
“Temani aku,” katanya memelas sambil mengulurkan tangan ke arahku. Aku tidak mengerti apa maksud permintaannya itu, ingin ditemani menikmati pemandangan sunset atau dia tidak ingin tadi aku pergi meninggalkannya. Kuletakkan minuman yang kubawa dari dapur tadi di atas meja kecil yang membuat jarak antara tempat duduknya dengan kursi yang baru saja kududuki kembali. Dan kami terdiam.
Aku merasakan sebuah genggaman hangat di tangan kiriku dan ketika aku menoleh ke arahnya, ternyata dia sedang menatap ke arahku lalu tersenyum, “akhirnya aku bisa berada di dekatmu saat senja begini,” katanya.
Aku tidak menanggapi ucapannya itu dengan kalimat apa pun, kucoba menggerakkan tanganku yang ada dalam genggamannya untuk balas menggenggamnya. Sesaat kemudian aku mencoba memaknai kalimat yang barusan dia ucapkan, kurasa itu adalah ungkapan kebahagian karena dia memang menginginkan suasana seperti ini sejak lama, dan meskipun aku menganggap itu pemandangan yang biasa, karena sejak dua tahun yang lalu hampir setiap hari aku melihatnya, tapi suasana ini menghadirkan sesuatu yang memang terasa beda dalam hatiku, sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya
Matahari mulai terlihat menyentuh gunung dan perlahan menyelinap masuk ke balik gunung-gunung itu sampai akhirnya lingkaran kemerahan itu lenyap meninggalkan langit jingga yang berangsur gelap, tapi dia belum melepaskan genggamannya seakan dia tidak ingin aku pergi sampai akhirnya terdengar adzan maghrib dari musholla dekat rumahku.
“Ke musholla lewat mana?” tanyanya sambil bangkit berdiri dan melepaskan tanganku.
“Ikuti kakekku,” jawabku sambil mengisyaratkan agar dia melihat pada kakekku yang kebetulan lewat di samping rumah.
Sepulang dari musholla dia mengajak aku dan adikku untuk jalan-jalan sekalian makan malam. Katanya dia baru saja menerima gaji pertamanya.
“Motornya mana, Teh?” Tanya Andika, adik lelakiku yang masih berusia 8 tahun, padaku. Andika terlihat senang sekali waktu kuajak jalan-jalan, mungkin karena sudah lama tidak ada yang mengajaknya untuk mengadakan acara di luar rumah, tepatnya sejak orangtua kami meninggal beberapa bulan yang lalu.
“Jalan kaki aja ya,” kata Kak Jo menjawab pertanyaan Andika sambil menggandeng tubuh kecil adikku itu untuk melangkah di sampingnya, dan aku mengikutinya dari belakang karena gang yang menuju rumahku ini cukup sempit.
Sesampainya di kota kecil yang tak jauh dari tempat tinggalku, Kak Jo langsung membawa aku dan Andika ke sebuah rumah makan yang tidak asing lagi buatku, karena dulu ayah sering membawa kami kesini, ayah bilang kalo ini adalah rumah makan favoritnya. Yang membuatku heran, kenapa Kak Jo membawa kami kesini? Tapi aku yakin bahwa dia tidak bermaksud untuk membuatku mengenang masa lalu itu.
Andika langsung menuju sebuah meja yang dulu biasa kami tempati. Setelah pesan makanan dan minuman, aku dan Kak Jo menyusul Andika. Aku duduk di samping Andika dan Kak Jo mengambil tempat duduk yang berhadapan denganku. Aku melihat Kak Jo yang tersenyum memperhatikan Andika yang sedang mempermaikan jemari tangannya. Entah apa yang ingin dia coba tunjukkan padaku, rasa sayangkah? Cinta? Atau hanya sekedar rasa iba dan kasihan kepada aku dan adikku? Aku tidak berani nebak, kalau aku berfikir positif dan yakin bahwa dia mencintai dan menyayangiku, aku takut pada akhirnya aku harus kecewa. Tapi aku juga tidak mau mengecewakannya seandainya benar dia mencintai dan menyayangiku.
Sekian lama saling diam membuat beberapa gambar kenangan melintas di ingatanku, kenangan saat aku berada disini bersama orangtuaku beberapa bulan yang lalu, aku duduk disini dan Andika duduk di tempatnya sekarang. Kak Jo duduk di kursi yang biasanya ditempati ayahku dan di sebelahnya… Pandangan mataku kini tertuju pada kursi kosong di samping Kak Jo. “Bunda…,” ratapku dalam hati. Tanpa aku sadari tiba-tiba setitik air terasa membasahi pipiku. Aku menangis.
Kak Jo memegang tanganku sambil memberikan sehelai saputangan dan memberi isyarat agar aku segera menyeka airmataku sambil melirikan matanya ke arah Andika yang masih asyik dengan permainan tangannya. Sepertinya Kak Jo tidak mau kalau sampai Andika melihat aku menangis.
“Teteh knapa?” Tanya Kak Jo menggodaku
Mendengar itu Andika pun menoleh ke arahku dan lama memandangku.
“Ngantuk,” jawabku asal bunyi sambil berusaha untuk tersenyum ke arah Andika.
“Teteh, nama Aa ini siapa?” Tanya Andika tiba-tiba.
Syukurlah, dia tidak melihat tangisku. Lalu aku segera menjawab pertanyaan Andika sambil mendekatkan wajahku padanya. “Itu Mister Jo,” kataku pada Andika, karena memang hanya nama itu yang aku tahu.
“Mister Jo?” Andika mengulang apa yang kukatakan sambil memandang ke arah Kak Jo lalu tertawa, mungkin menurutnya itu lucu.
Kak Jo hanya tersenyum melihat Andika tertawa lebar sambil mengeluarkan sebuah name tag dari saku kamejanya lalu memberikannya pada Andika, “Coba baca tulisan yang paling besar itu,” katanya seolah-olah ingin menguji kemampuan Andika.
“Johan Fardiansyah,” Andika membaca tulisan dalam name tag itu dengan perlahan seperti takut salah dan aku serasa diberi tahu, karena memang aku belum tau nama kak Jo yang sebenarnya, lalu aku mencoba ikut melihat tulisan dalam name tag itu, tapi dengan sepat Andikan menyembuyikannya ke balik baju lalu dia tertawa ketika melihat aku cemberut.
Tak lama kemudian seorang wanita mendatangi meja kami dengan membawa pesananku tadi, dia memandang Andika lalu menoleh ke arahku. “Neng Karin…?” Katanya sambil tersenyum.
“Iya, Teh,” jawabku sambil membalas senyumnya.
Dia melirik ke arah Kak Jo lalu mendekatiku dan mendekatkan wajahnya kepadaku. “Suaminya ya…?” Tanyanya menggodaku dan aku tertawa dibuatnya.
“Ah, Teteh…,” kataku disela tawaku sambil melihat Kak Jo karena aku yakin dia juga mendengar pertanyaan wanita itu dan kulihat dia hanya tersenyum.
“Koq Teteh gak diundang sih…?” Tanya wanita itu lagi yang rupanya belum ingin berhenti menggodaku.
“Skarang aja, Teh,” Kata Kak Jo ikut bicara. “Teteh duduk disini dan kita makan bareng,” lanjut Kak Jo.
“Makasih, nanti aja skalian di rumah Neng Karin,” jawab wanita itu lalu pamit dan meninggalkan kami.
Andika yang tidak terpengaruh dengan suasana itu tetap tenang melahap makanannya, mungkin memang dia sudah kangen makanan disini. Sesekali dia melirikkan matanya ke arahku, entah apa yang ada dalam pikirannya, tapi aku berharap dia juga bisa merasakan kebahagiaan yang aku rasakan malam ini.
“Kamu yang bayarin,” kata Kak Jo sambil menyodorkan sebuah amplop kepadaku setelah kami selesai makan.
Aku hanya bengong memandangnya, mafhum dengan kebingunganku, dia menarik tanganku dan meletakkan amplop itu dan menggenggamkannya di tanganku.
“Itu gaji pertamaku,” katanya. “Masih utuh, tapi karena aku belum genap satu bulan kerjanya, jadi gajinya cuma segitu,” lanjutnya lagi.
Aku masih bengong ketika Kak Jo bangkit dari tempat duduknya dan mengajak Andika pergi ke luar dari rumah makan itu. Aku bener-bener bingung dan sungguh tidak mengerti, kenapa dia melakukan ini. Apa karena tadi ada orang yang mengatakan dia itu suamiku? Ah… Konyol, pikirku.
Aku segera meninggalkan tempat dudukku dan langsung menuju kasir, disana aku baru membuka amplop itu. “Banyak banget,” gumamku. Lalu aku menyerahkan sehelai uang seratus ribu pada kasir yang ternyata masih orang yang sama, wanita yang menggodaku tadi, bundaku pernah bilang bahwa wanita itu adik kelasnya waktu bundaku masih SMP.
“Slamet ya, Neng, smoga langgeng sampe kakek nenek,” katanya sambil menyerahkan uang kembalian.
“Amiin,” jawabku. “Makasih ya, Teh,” kataku sambil tersenyum lalu meninggalkan tempat itu.
Masih bisa kudengar wanita itu menjawab, “sawalerna, Geulis.” Aku hanya tersenyum mendengarnya. Dan jujur saja aku merasa senang saat dia mengira kalo Kak Jo itu adalah suamiku, tapi apa aku memang sudah kelihatan tua gitu? Sampe ada orang yang mengira aku sudah punya suami.
Setibanya di luar, aku melihat Kak Jo dan Andika sedang asyik berbincang dan mereka sedang tertawa bareng ketika aku datang. Lalu Andika pergi meninggalkan kami dengan setengah berlari.
“Dika, mau kemana…?!” Teriakku khawatir.
Andika menghentikan larinya lalu berbalik ke arahku dan tangannya menunjuk ke mall satu-satunya yang ada disana. Aku segera menyusul Andika.
“Mau ngapain?” Tanyaku sambil memegangi pundaknya.
“Katanya mau beli tas, tali tas sekolah Dika kan sudah hampir putus,” katanya. Sepertinya dia kecewa dengan pertanyaanku tadi.
Aku menoleh kepada Kak Jo, belum sempat aku bicara, dia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ah, rupanya mereka sudah membuat kesepakatan, kataku dalam hati. Akhirnya aku hanya mengikuti saja kemana mereka pergi. Sesampainya di mall, Andika malah masuk ke tempat permainan dan langsung menuju ke alat permainan kesukaannya.
“Katanya mau beli tas,” tegurku pada Andika.
“Main dulu,” jawab Andika
“Beli tas dulu, nanti tokonya keburu tutup,” kataku lagi, akhirnya Andika nyerah dan menurutiku.
Setelah membeli beberapa peralatan sekolah Andika, aku dan Kak Jo duduk menunggu sampai Andika selesai dengan permainannya. Lagi-lagi Kak Jo hanya diam dan sesekali memandangiku. Rupanya dia memang bukan type orang yang pandai bicara, nggak romantis dan sedikit kaku, pikirku.
“Kak,” tegurku memecah kebisuan antara kami. Dia menjawabku hanya dengan bergumam dan memandangku. “Emangnya aku kelihatan tua ya, Kak?” Tanyaku.
“Nggak,” jawabnya, dan matanya masih memandang wajahku. “Justru kamu itu imut-imut, tapi… Memang cocok sih kalo jadi istriku.” Katanya lagi sambil tersenyum menggodaku.
“Gombal,” gumamku sambil menunduk malu, dan aku yakin wajahku kini memerah. Ternyata dia tau arah pertanyaanku tadi.
“Yang di rumah makan tadi itu siapa?” Tanya Kak Jo meredakan suasana hatiku.
“Temen bunda dan karena dulu kami sering makan disitu, jadi dia tau aku,” jawabku. “Knapa?” Aku balik bertanya.
“Dia itu pinter,” jawab Kak Jo, dan lagi-lagi membuatku heran dan tidak mengerti maksud jawabannya itu.
“Tapi sepertinya dia gak tau kalo bundaku udah gak ada,” kataku asal, mudah-mudahan nyambung.
“Justru dia itu tau makanya aku bilang dia pinter.”
“Maksudnya?”
“Kalo dia gak tau, pasti dia akan nanyain bunda pada kamu, dan tadi itu dia mencoba menghiburmu agar kamu gak sedih, ternyata dia berhasil dan dia telah membantuku,” kata Kak Jo menjelaskan, tapi tetep saja ada yang masih kurang jelas.
“Membantu apa?” Tanyaku lagi.
“Membantuku membuatmu tertawa,” jawabnya sambil menatapku. Aku hanya diam dan berhenti bertanya.
“Sejak aku kenal kamu, setiap kali aku berada deket kamu, aku lebih sering melihat kamu menangis dari pada tersenyum, padahal senyum kamu itu indah banget, lebih indah dari sunset yang kita lihat tadi,” dia bicara pelan sambil tidak berhenti menatapku. “Dan malam ini aku seneng banget karena bisa melihat pemandangan terindah yang belum pernah aku lihat sebelumnya dan mendengar suara terindah yang juga tidak pernah aku dengar sebelumnya,” katanya lagi.
“Apa itu, Kak?” Tanyaku
“Melihat dan mendengar tawamu,” jawabnya.
Aku hanya diam mendengarnya dan aku mulai bisa memahami kenapa selama ini dia tidak menemuiku, ternyata dia tidak mau melihat aku sedih dan menangis, sementara dia merasa belum mampu untuk membuatku tersenyum dan tertawa. Hari ini dia datang lagi kepadaku setelah dia merasa mampu dan ternyata dia berhasil mengusir kesedihanku dan menghentikan tangisanku, bahkan dia berhasil mengusir sepi yang selama ini menyelubungi hatiku. Tapi apa harus selalu dengan cara seperti ini…? Tiba-tiba aku teringat sesuatu dan mengeluarkannya dari tasku.
“Ini sisanya, Kak,” kataku sambil memberikan amplop yang tadi dia berikan padaku, “Maaf, karena aku udah ngerepotin Kakak,” lanjutku.
Dia hanya diam memandangku, tapi tatapannya beda dengan yang tadi, sepertinya dia tidak suka dengan yang aku lakukan barusan. Aku tidak berani menatap matanya dan aku mengalihkan pandanganku ke arah Andika yang masih asyik bermain.
“Rin,” tegurnya dan aku mengalihkan kembali pandanganku ke arahnya, “Aku yang datang padamu, dan aku yang mengajakmu kesini, trus kalo aku merasa kamu dan Andika merepotkanku, aku tidak akan melakukan semua itu.”
“Tapi, Kak…”
“Kamu ambil uang itu untuk kebutuhan kamu dan Andika, kalo ada sisanya kamu simpan.”
“Tapi kan Kakak juga membutuhkannya.”
“Menurut kamu kebutuhanku apa?”
“Ya gak tau,” jawabku bingung, “makan mungkin,” kataku lagi.
“Ya kalo gitu kamu ambil uangnya, nanti kalo aku kelaperan, aku akan minta kamu sediain makanan buatku, tapi aku ingin makan masakan kamu dan kita makan bareng di rumah kamu,” katanya membuatku tak mampu lagi bicara, “Gimana?” Tanyanya kemudian.
“Iya, tapi…”
“Kalo kamu nolak berarti kita cerai,” katanya lagi dengan memotong kalimatku.
Aku terkejut mendengar itu, walau kalimatnya itu seperti bercanda, tapi waktu kulihat tatapan matanya, ternyata dia serius banget mngucapkan kalimat yang tadi itu.
“Ya udah, makasih kalo Kakak percaya sama aku,” kataku akhirnya sambil memasukkan kembali amplop itu ke dalam tasku, entah kalimatku itu benar atau tidak, tapi yang jelas aku melihatnya tersenyum setelah mendengar kalimatku tadi.
“Kakak kerja dimana?” Tanyaku mencoba mencairkan kembali suasana dengan mengalihkan tema pembicaraan.
“Di Cijagong,” jawabnya.
“Koq bisa?” Tanyaku. Aku agak terkejut mendengar jawban itu, karena orangtuaku dulu kerja disana juga.
“Waktu pas habis UAN, aku main ke rumah temen yang tinggal disana, dan aku ketemu seseorang yang nawarin aku kerjaan, padahal dia juga tau kalo aku belum dinyatakan lulus sekolah, mungkin karena bantuan calon mertuaku juga jadi aku bisa dapat kerjaan tanpa harus repot-repot nglamar kesana kemari, dan ternyata orang yang nawarin aku kerjaan itu seorang manager disana” katanya panjang lebar.
“Calon mertua?” Tanyaku pelan, seakan-akan hanya dua kata itu yang terdengar olehku dan entah kenapa tiba-tiba hatiku terasa sakit, tapi dengan sekuat hati aku mencoba melerainya dengan mengajukan pertanyaan lain kepadanya, “Kakak gak daftar kuliah?”
“Pengen kerja dulu,” jawabnya, “Kuliahnya tahun depan aja biar bareng sama kamu.”
“Kenapa harus bareng?” Tanyaku lagi.
“Biar kita bisa berangkat dan pulang bareng,” jawabnya polos seperti dia tidak tahu kuliah itu seperti apa.
Aku hanya tersenyum mendengarnya, “mungkin aku gak akan bisa kuliah,” keluhku.
“Jangan pesimis,” katanya seperti membentakku. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
“Pulang yuk,” ajaknya.
Aku hanya mengangguk, lalu aku bangkit berdiri untuk mengajak Andika pulang dan menyudahi permainannya.
Johan membawa aku dan Andika mampir ke rumahnya untuk mengambil sepeda motor, karena memang jam segini sudah tidak ada angkutan umum yang menuju tempat tinggalku, tapi aku menolak untuk mampir karena kulihat rumahnya sudah sepi, pasti sudah pada tidur. Johan hanya mengantar kami sampai di depan gang sempit yang menuju ke rumahku, katanya takut menganggu tetangga kalau masuk ke dalam. Aku hanya tersenyum maklum mendengar alasannya itu, lagian ini juga sudah terlalu malem untuk membiarkannya mampir.
“Rin!” panggilnya ketika aku hendak meninggalkannya.
Aku menghentikan langkahku dan membalikkan badanku lalu kembali mendekatinya, saat kutatap matanya, terlihat kekhawatiran disana dan aku mencoba melerainya dengan sebuah senyuman.
“Kamu hati-hati ya,” katanya padaku, “kamu jaga diri baik-baik dan kamu harus tegar demi dia,” katanya lagi sambil memegangi pundak Andika.
“Iya, Kak,” jawabku sambil mengangguk lalu kulihat Andika yang sedang memandangi wajah Kak Jo yang masih memegang pundaknya.
“Aku pulang.”
“Hati-hati, Kak,” pesanku sebelum dia pergi meninggalkan kami.
Aku menuntun Andika memasuki gang menuju rumah. Sesampainya di rumah, Andika langsung akan membongkar belanjaannya tapi berhasil kucegah.
“Besok aja,” kataku, “ini udah malem, mending kamu tidur biar gak kesiangan bangun.”
Andika tidak menjawabku, tapi dia langsung masuk ke kamar sambil membawa tas barunya. Aku mengikutinya dan kulihat dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
“Kakinya cuci dulu, debuan tuh…” kataku pada Andika.
Andika turun lagi dari tempat tidurnya, menghampiriku lalu menarik tanganku ke kamar mandi. Disana aku mencuci kakinya lalu menyuruhnya kembali ke kamar dan tidur.
Aku coba memejamkan mataku walau aku masih belum merasakan kantuk, “dia udah nyampe apa belumnya ya?” tanyaku dalam hati. Aku mengambil HP dari dalam tas kecil yang kubawa tadi, berharap ada SMS darinya yang mengabari bahwa dia sudah sampai rumah, tapi ternyata tidak ada. Kuletakan kembali HP itu lalu tiba-tiba aku mendengar suara getarannya, dengan segera aku mengambilnya kembali dan ternyata dia mengirimi aku SMS.
“Makasih untuk waktunya, Rin. Aku seneng kamu udah mau nemenin aku melihat sunset sore tadi dan nemenin aku makan malem. Dan makasih untuk kesempatan yang udah kamu kasih buat aku. Malam ini aku bahagia banget.” Begitu isi pesannya.
Lalu aku membalasnya, “Masama, Kak. Aku juga seneng karena hari ini kita bisa bersama lagi. Walau tadi kita melihat mentari terbenam, tapi aku merasa bahwa mentariku baru terbit. Makasih untuk segenap kebahagiaan yang Kakak hadirkan hari ini buat aku dan Andika.”
Dia membalas lagi, “Selamat tidur, Cantik.” Dan diakhiri dengan sebuah senyuman.
Aku membalasnya hanya dengan sebuah senyuman lalu meletakkan HPku di atas meja. Tak lama setelah itu aku pun terlelap.
Hari itu aku pulang dari sekolah dengan gelisah karena aku harus segera membayar uang sekolahku yang sudah nunggak beberapa bulan agar aku bisa ikut UAS. Tapi lantas aku teringat pada uang yang Kak Jo berikan padaku tadi malam dan aku pun segera membuka tas tempat aku menyimpan amplop berisi uang itu. Aku menghitungnya, ternyata jumlahnya lebih dari cukup untuk membayar uang sekolahku. Tapi dia bilang uang itu untuk kebutuhan aku dan Andika sehari-hari dan aku takut besok atau lusa dia minta dimasakin, seperti yang dia bilang tadi malem. Ah, sudahlah, gak usah aja. Lalu aku kembali menyimpan uang itu dan aku memutuskan untuk menjual laptopku saja, aku yakin uangnya cukup untuk bayar tunggakan dan membayar uang sekolahku untuk satu tahun kedepan, sampai aku tanat SMA.
Aku segera merapikan laptopku dan memindahkan file-fileku ke dalam flash disk, lalu aku membersihkan dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah aku yakin tidak ada yang ketinggalan, aku segera keluar dari kamarku dan keluar rumah untuk pergi ke toko dekat sekolahku yang membeli laptop bekas. Tapi ketika aku melewati teras, aku melihat Andika sedang duduk sendirian di kursi.
“Dika lagi ngapain?” tanyaku pada Andika.
“Lagi nunggu Kak Jo,” jawabnya tanpa menoleh ke arahku.
“Emangnya Kak Jo bilang mau kesini?” Tanyaku lagi dengan sedikit heran.
“Kan katanya Kak Jo mau pulang kesini dan makan dengan kita disini,” jawab Andika lagi sambil terus mempermainkan mainan barunya.
“Kak Jo bilang begitu sama Dika?” Tanyaku makin penasaran.
“Nggak, kan bilangnya sama Teteh.”
Aku tersenyum mendengar jawaban itu. Ternyata malam tadi dia mencuri dengar pembicaraanku dengan Kak Jo, lalu aku mendekatinya dan berjongkok di samping kursi yang didudukinya, “bukan sekarang,” kataku pada Andika. “Nanti Kak Jo nelepon dulu kalo mau kesini, kan teteh harus masak dulu, lagian Kak Jo jam segini masih kerja, nanti pulangnya jam 4.”
“Oo…” Hanya itu yang keluar dari mulut Andika. “Teteh mau kemana?” Tanyanya kemudian
“Teteh mau ke sekolah dulu sebentar, kamu mainnya di rumah kakek aja ya,” kataku pada Andika dan Andika pun beranjak dari tempat duduknya lalu berlari ke rumah kakek yang berada di belakang rumahku. Padahal sebenarnya mereka itu bukan kakek dan nenekku, tapi sejak kami pindah kesini, dua tahun yang lalu, mereka baik banget pada keluargaku, bahkan mereka memperlakukan aku dan Andika seperti cucunya sendiri. Mungkin karena cucu-cucunya tidak ada yang berdomisili di sekitar sini yang membuat mereka memperlakukan kami seperti cucunya.
Aku langsung menuju toko yang terlihat sepi, hanya ada seorang cewek yang masih mengenakan seragam putih abu sedang mencoba sebuah notebook. Begitu aku masuk, seorang pelayan toko menyambutku, “nyervice, Teh?” tanyanya sambil melirik ke tas yang aku bawa.
“Nggak,” jawabku sambil menggelengkan kepala, lalu aku meletakkan tasku di atas etalase toko itu, “Mau jual ini,” kataku kemudian.
Rupanya kehadiranku ditoko itu menarik perhatian cewek yang tadi kulihat sedang nyobain notebook, karena saat aku meliriknya, dia sedang melangkah mendekatiku.
“Kenapa dijual?” Tanyanya padaku.
“Mau beli yang baru,” jawabku asal bunyi, karena tentu saja aku tidak akan ngasih tau situasiku yang sebenarnya.
Cewek itu memperhatikan laptopku yang sedang diperiksa oleh pelayan toko, lalu dia minta ijin untuk melihat dan memeriksanya, “Ini masih bagus, pasti jarang dipake,” katanya sambil melihat ke arahku.
Saat itu aku baru dapat melihat wajahnya dengan jelas, dari warna kulit dan bentuk wajahnya, aku yakin kalo dia itu bukan orang Indonesia asli sepertiku, mungkin orang China tau Korea, pikirku. Dan sekilas terbaca olehku nama Fanny tertera di bagian depan kameja putih yang dikenakannya.
“Mau dijual berapa?” Tanya cewek itu padaku.
Aku sedikit kaget, aku melihat ke arahnya yang ternyata sedang menatapku, sepertinya dia menunggu jawabanku, “berapa aja,” jawabku tanpa kepastian.
“Sebutkan saja,” katanya lagi sambil tersenyum ke arahku.
“Tiga juta,” kataku dengan sedikit ragu karena aku tidak tahu standar harganya berapa.
“Yakin…?” Tanya cewek yang bernama Fanny itu seperti tau keraguanku.
“Iya,” Jawabku sambil mengangguk berusaha meyakinkannya.
“Ya udah, aku beli ini aja,” katanya. “Gak apa-apa ya, Kang?” Tanya Fanny kepada pelayan toko yang dari tadi hanya diam saja.
“Iya, Neng, gak apa-apa,” jawab pelayan toko itu.
“Ini uang denger buat Akang,” kata Fanny sambil memberikan selembar uang seratus ribu lalu dia menjauh dari etalase sambil membawa laptopku dan duduk di sebuah bangku yang ada di bagian samping ruangan toko itu.
Aku lihat dia mengeluarkan tiga ikat uang ratusan ribu dari tasnya lalu melambaikan tangannya ke arahku. Aku melangkah mendekatinya lalu duduk disampingnya kemudian dia menyerahkan uang itu kepadaku.
“Hitung dulu,” katanya.
“Gak usah, Kak,” jawabku. Aku lihat dia tersenyum, entah karena keputusanku untuk tidak menghitung atau karena aku memanggilnya kakak. “Makasih banyak ya, Kak,” kataku sambil bangkit dari dudukku. Fanny hanya menjawab dengan sebuah senyuman sambil menganggukan kepalanya.
Aku baru sampai di teras toko saat sebuah suara memanggil dengan menyebut namaku. Langkahku terhenti, aku sangat yakin itu suara Fanny, tapi dari mana dia tahu namaku? Aku menoleh ke arah asal suara itu, terlihat Fanny sedang berjalan ke arahku.
“Kamu jangan naik mobil umum, biar aku anter kamu pulang,” katanya seakan tidak peduli dengan perasaan heranku. Dia terus melangkah menuju sebuah Avanza hitam yang terparkir di depan toko, lalu dia membuka pintu dan masuk ke dalam mobil itu. Karena melihat aku hanya bengong di depan toko, dia membuka kaca mobilnya, “Ayo!” teriaknya kepadaku.
Aku segera mendekatinya dan Fanny membukakan pintu mobil sebelah kiri untukku. Aku duduk disebelah Fanny dengan kebingunganku.
Fanny mulai menghidupkan mesin mobilnya dan perlahan mobil itu pun mulai melaju ikut meramaikan jalan raya. “Bener kan namamu Karin?” tanya Fanny memecah kekakuan suasana di dalam mobil itu.
“Iya, Kak,” jawabku.
“Aku tahu tentang kamu dari Jo dan dia cerita cukup banyak sama aku tentang kamu. Tadi juga sebenarnya aku sudah tau kalo itu pasti kamu, tapi aku kurang yakin sampai aku melihat ini,” katanya sambil menunjukkan sebuah tab.
Aku melihat ada fotoku disitu, foto yang kupasang sebagai foto profil FBku. Dan aku lihat Fanny sudah mengirim permintaan pertemanan ke akun FBku, tapi belum sempat kukonfirmasi karena sudah cukup lama aku tidak membuka FB.
“Kapan dia cerita?” Tanyaku.
“Waktu pas habis UAN, kita ngadain acara reuni SMP di rumahku dan dia ikut hadir, malahan dia sampe malem di rumahku. Dia juga sempet ngobrol dengan papiku, katanya dia pengen kerja karena ingin kuliah dengan biaya sendiri. Menurutku niatnya itu baik banget, jadi ya aku bantuin ngomong sama papi agar dia bisa diterima kerja, untungnya aku bisa meyakinkan papi bahwa Jo itu anaknya pinter dan memiliki kemampuan IT yang lebih dariku.”
Aku tersenyum mendengar cerita Fanny yang panjang, padahal aku cuma nanya kapan. Tapi ya nggak apa-apa sih, dengan begitu aku jadi tau semuanya. Ternyata Kak Jo bohong sama aku tentang pekerjaannya, dan sekarang aku juga tau tentang calon mertua yang disebut Kak Jo tadi malem itu pasti papinya Fanny, dan aku menarik kesimpulan bahwa cewek yang duduk di sampingku ini adalah calon istrinya Kak Jo. Begitu sampai pada kesimpulan itu aku menoleh ke arah Fanny yang sedang berkonsentrasi menyetir, cukup lama aku memandangi wajahnya dari arah samping dan rupanya Fanny menyadari kalau aku sedang memperhatikannya.
“Kenapa?” Tanya Fanny sambil menoleh ke arahku dan menghentikan laju mobilnya.
“Nggak… nggak pa-apa, Kak,” jawabku gugup.
“Rumahmu di sekitar sini kan?” Tanya Fanny lagi.
Aku terkejut mendengar pertanyaan itu dan segera melihat sekelilingku, ternyata dia berhenti di tempat yang tepat di depan gang yang menuju ke rumahku. Aku segera membuka pintu mobil, “mampir dulu, Kak?” Tanyaku sebelum turun dari mobil.
“Nggak usah, makasih, lain kali aja. Sekarang aku harus buru-buru nyampe rumah,” jawab Fanny yang selalu menjawab pertanyaanku dengan beberapa kalimat.
“Makasih banyak ya, Kak,” kataku sebelum aku meninggalkannya.
“Masama, Rin. Hati-hati ya…” jawab Fanny.
Perlahan mobil itu mulai menjauh dariku, dan aku segera menuju rumahku setelah mobil itu berbelok dan hilang dari pandanganku. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar lalu menghempaskan tubuhku ke atas kasur dan menangis, teringat kembali semua kalimat yang terucap dari mulut Kak Jo tadi malam yang sekarang aku tahu kalo semua itu bohong. Aku terus menangis hingga aku tertidur dan entah berapa lama sampai Andika mengguncang-guncangkan tubuhku.
“Teteh…! Teteh…!” panggil Andika yang terus berusaha membangunkanku.
Lalu aku terbangun dan bertanya kepadanya, “ada apa, Dika?”
“Teteh kenapa?” Dika malah balik bertanya setelah melihat keadaanku.
“Teteh gak apa-apa,” jawabku. “Ada apa?” Tanyaku lagi.
“Ada Kak Jo,” jawab Dika.
Aku tersentak kaget, kulihat jam dinding di kamarku, ternyata sudah hampir maghrib. Aku menoleh ke arah Andika yang masih berdiri di kamarku, sepertinya dia mengkhawatirkan keadaanku. “Dika sudah mandi?” Tanyaku pada Andika yang terus menatapku.
“Sudah, Teh,” jawabnya.
“Sekarang Dika siap-siap, bentar lagi adzan,” kataku sambil meninggalkannya dan bergegas keluar rumah.
Aku melihat Kak Jo masih berdiri di depan pintu pagar halamanku, dia memandangku dengan tatapan yang aneh, sepertinya dia marah. Tapi aku mencoba untuk tenang, mungkin Kak Jo cuma gak suka melihat penampilanku sekarang ini.
“Masuk, Kak,” kataku dengan suara yang masih serak.
“Aku mau ke musholla dulu,” katanya lalu pergi meninggalkanku.
Aku terpana melihat kepergiannya, sikapnya itu berbeda sekali dengan Kak Jo yang datang kesini kemaren. Peduli amat lah… kataku dalam hati, lalu aku segera menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhku disana.
Seusai Shalat Maghrib aku duduk di teras, menunggu yang akan pulang dari musholla. Tidak lama kemudian datanglah Kak Jo sambil menggandeng Andika, mereka langsung menuju ke arahku dan Kak Jo duduk di kursi yang dia duduki kemaren. Saat dia menatapku, aku tersenyum kepadanya, tapi dia tidak membalas senyumku.
“Kenapa kamu jual laptop?” Tanya Kak Jo tiba-tiba.
Aku kaget, tapi aku tahu pasti Fanny yang bilang sama Kak Jo. “Aku harus bayar tunggakan uang sekolahku, Kak,” jawabku pelan.
“Kenapa kemaren gak bilang?” Tanyanya lagi.
“Kemaren aku belum tau kalo bayaranku nunggak, karena biasanya bunda yang bayarin tiap awal semester,” kataku.
“Emanknya uang yang kukasih tadi malem itu nggak cukup ya?”
“Sebenarnya cukup, Kak. Tapi…”
“Trus kenapa kamu jual laptop? Itu hadiah dari Almarhum kan? Kenapa kamu berani menjualnya? Padahal laptop itu masih bagus,” serang Kak Jo bertubi-tubi.
Dan aku hanya diam, aku mulai merasa kelopak mataku mulai digenangi air. Terbayang kembali olehku saat ayah memberikan hadiah itu padaku, “Ini hanya sebuah benda mati, baik atau buruknya tergantung pada yang menggunakannya, benda ini bisa memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang positif dan yang negatif, kalo kamu mencari kebaikan dari benda ini, kamu pasti akan mendapatkannya, dan kalo kamu mencari keburukan dari benda ini, kamu juga akan dengan cepat menemukannya,” begitu kata ayahku dulu.
“Kamu jangan kecewakan mereka, Rin. Supaya mereka bisa tenang disana,” kata Kak Jo dengan nada yang mulai menurun.
“Maafin aku, Kak.” Kataku sambil nangis lagi.
Kak Jo mengambil sesuatu dari ranselnya lalu memberikannya kepadaku, “Fanny menyuruhku untuk ngembaliin laptop ini,” katanya.
Aku tahu apa yang harus aku lakukan, maka dengan segera aku menuju kamarku dan mengambil uang yang aku terima dari Fanny tadi siang. “Ini uangnya, Kak. Belum aku apa-apain koq.”
“Uangnya kamu simpen aja, Fanny gak menyuruh aku untuk mengambilnya.”
“Tapi kan dia ngasih uang ini untuk membeli laptopku, jadi ya harus dikembaliin.”
“Fanny bilang, dia membawa laptop ini karena takut kamu tersinggung kalo tiba-tiba ngasih uang sama kamu. Begitu katanya.”
“Baik banget,” kataku sambil mencoba kembali membayangkan wajah Fanny. “Cocok banget dengan Kakak,” kataku lagi sambil tersenyum menggodanya.
“Maksud kamu?” Tanya Kak Jo ingin penjelasan.
“Ya cocok, Fanny itu calon istri Kakak kan? Dan kemaren juga pasti dia yang nagnterin kakak kesini.” Aku mencoba mencari jawaban dan aku berharap dia akan bilang bukan.
Tapi dia hanya tersenyum dan lama memandangku. Lalu dia bertanya, “Kamu tau dari mana?”
“Ya tau aja,” jawabku dengan kecewa karena pertanyaan yang terakhir itu sudah bisa mewakili sebuah kata lugas yang seharusnya dia katakan padaku sebagai jawaban.
“Tadi Fanny bilang begitu ya?” Tanyanya lagi.
“Nggak,” jawabku cepat.
“Nah, trus kamu tau dari mana?”
Aku mencoba menahan gejolak perasaanku, dan aku bertekad untuk tidak menangis lagi di hadapannya apapun alasannya dan aku mencoba memberikan kesimpulan, “Kemaren malem kan Kakak bilang bahwa yang bantu kakak dapet kerjaan itu adalah calon mertua Kakak, dan tadi Fanny bilang kalo yang bantu kakak dapet kerjaan itu adalah papinya, berarti calon mertua yang kakak maksud tadi malem itu adalah papinya Fanny dan itu juga berarti bahwa Fanny adalah calon istri Kakak.”
Dia malah tertawa mendengar penjelasanku, “makin pinter aja kamu ya,” katanya sambil terus tertawa. “Dan gaya bicaramu itu sudah ketularan Fanny,” katanya lagi.
Aku hanya memandanginya dan sepertinya dia bahagia banget karena sudah berhasil ngerjain aku. “Gak lucu,” kataku ketus.
Dia berhenti tertawa, lalu katanya, “Aku mau pulang dulu, karena motornya mau dipake sama adikku.” Lalu dia mengeluarkan sesuatu lagi dari dalam ranselnya dan katanya, “Kamu pasti belum makan, ini aku bawain buat kamu dan Andika.”
Aku hanya memandangi gerak geriknya. Kini aku sadar dia memang bukan apa-apaku, tapi kenapa dia peduli padaku? Dan kenapa Fanny ikut-ikutan baik padaku. Apa mungkin karena Fanny tau kekecewaanku lalu dia berusaha mengobati kekecewaanku ini dengan berbuat baik padaku.
“Kamu kenapa?” tanya Kak Jo demi melihat aku termenung.
“Gak apa-apa koq,” jawabku sambil memperhatikannya membenahi ransel di punggungnya. “simpennya di depan biar dada Kakak gak kena angin malem,” kataku mencoba ngasih saran.
Dia tersenyum dan menuruti saranku dengan memindahkan ranselnya ke depan dan menutupi dadanya. “Kamu jaga diri baik-baik ya, demi aku dan Andika,” katanya sebelum dia turun dari teras rumahku.
“Iya, Kak,” jawabku sambil mencoba untuk tersenyum.
Kak Jo membelokkan sepeda motornya lalu dia berkata kepadaku sambil tersenyum, “kesimpulanmu tadi itu salah, calon istriku bukan Fanny, tapi adiknya.” Setelah itu dia pergi dengan menuntun motornya memasuki gang dan menghilang dari pandanganku.
Benar atau salah tetap saja tidak lebih baik buatku.
Siang itu aku bergegas meninggalkan sekolah dan menuju toko tempat aku kemarin bertemu dengan Fanny, tapi ternyata toko itu tutup. Akhirnya aku memtuskan untuk langsung pulang saja. Ketika turun dari angkot, aku melihat sebuah avanza hitam parkir di depan gang yang menuju rumahku, dan ketika aku melewatinya, sudut mataku menangkap ada seseorang di dalam mobil itu, aku pikir itu pasti Fanny. Aku tidak menghiraukannya dan terus berjalan memasuki gang, saat sampai di halaman rumah, aku lihat ada orang yang duduk teras. Orang itu langsung mengalihkan pandangannya ke arahku begitu melihat aku datang, lalu dia tersenyum, “Om Acung…,” kataku dalam hati.
“Apa kabar, Anak Manis?” Tanya Om Acung begitu aku sampai.
“Baik, Om.” Jawabku sambil menyalami dan mencium tangannya.
“Tadi adikmu yang nyuruh Om nunggu disini,” kata Om Acung. Mungkin beliau takut aku berpikiran jelek melihatnya duduk disitu tanpa ijin.
“Gak pa-apa koq, Om. Padahal di dalam aja”. Jawabku sambil duduk di kursi yang satunya.
“Disini juga nyaman,” katanya lagi. “Pemandangannya indah, kamu pinter milih tempat tinggal.” Lanjutnya.
“Bukan aku, Om. Tapi Bunda.” Jawabku.
Om Acung diam, aku dengar dia menarik nafas panjang. Mungkin karena aku nyebut-nyebut bunda. Lalu katanya, “Om sangat menyesal karena waktu itu nggak bisa datang.”
“Gak pa-apa koq, Om.” Jawabku. “Gak ada yang nyangka juga akan terjadi bagitu,” kataku lagi.
“Kamu bisa kalo sekarang anter Om ke makam?” Tanya Om Acung di luar dugaanku.
“Iya. Om. Bisa.” Jawabku. “Tapi aku mau ganti baju dulu,” kataku minta ijin.
“Iya, silahkan,” Kata Om Acung mempersilahkanku.
Tidak lama aku di dalam kamar, karena hanya mengganti pakaian atasku saja dan mengenakan sebuah jacket. Lalu aku kembali keluar menemui Om Acung. “Sekarang, Om?” Tanyaku.
“Adikmu tadi mana?” Om Acung malah balik bertanya.
“Mungkin di belakang, Om.” Jawabku. “Dia betah main di kebun sama kakek.”
“Kakek?” Om Acung menatapku dengan keheranan sambil mengerutkan keningnya. Om Acung tau bahwa aku nggak punya kerabat disini. Tapi Om Acung juga belum tau kalo aku punya kakek baru, karena sudah dua tahun aku tinggal disini, Om Acung baru sekarang sempat datang ke rumahku. Maklumlah, beliau orang sibuk.
“Kakek yang rumahnya di belakang sini, Om,” Jawabku sambil menunjuk ke arah belakang rumah.
“Jemput dulu, kita ajak dia juga.” Pinta Om Acung agar aku menjemput Andika agar ikut.
Aku segera berlari ke belakang dan beruntung aku lansung bisa menemukan Andika yang sedang makan di rumah kakek yang ternyata baru pulang dari kebun. Lalu aku minta ijin kepada kakek dan nenek untuk membawa Andika, mereka pun mengiyakannya.
Om Acung sudah menunggu kami di luar pagar halaman ketika aku dan Andika datang, dan kami pun langsung berangkat. Sesampainya di jalan, Om Acung langsung menuju mobil yang tadi kulihat parkir disana dan langsung membuka pintunya sambil membantu Andika naik ke jok tengah. Om Acung menatapku ketika tahu aku hanya berdiri bengong, lalu dia bilang, “kamu di depan.” Katanya sambil mempersilahkanku naik dengan isyarat tangan.
“Naik mobil ini, Om?” Tanyaku sedikit sungkan karena tadi aku melihat ada Fanny dalam mobil ini.
“Iya, Kenapa?” Tanya Om Acung dengan heran melihat sikapku.
“Gak pa-apa, Om.” Jawabku sambil mencoba membuka pintu mobil itu, tapi sebelum tanganku sampai, pintu mobil itu dibuka seseorang dari dalam.
Mataku langsung tertuju pada gadis pirang yang duduk di belakang stir, gadis itu langsung memamerkan senyum khasnya padaku sambil berkata, “Hay…”
Aku hanya menanggapinya dengan sedikit senyum. Hati kecilku tidak bisa dibohongi kalo aku benci gadis ini, tapi kenapa Om Acung datang bersamanya? Pikiranku mulai mencari jawaban yang sulit kutemukan, karena seingatku waktu pindah kesini Om Acung belum menikah, jadi gak mungkin punya anak segede ini.
“Katanya kalian udah saling kenal, tapi koq pada diem?” Kata Om Acung mengejutkakku dari jok belakang.
“Baru kemaren kenalnya, Om.” Jawabku sambil melirik Fanny yang sepertinya tidak tertarik dengan pertanyaan Om Acung.
“Fanny ini anak Om satu-satunya, Rin.” Kata Om Acung padaku. “Dia pengen punya adik, tapi Om sudah nggak bisa,” katanya lagi dengan nada menyesal.
Aku nggak berani komen, karena aku masih tetap dengan keyakinanku bahwa Om Acung tidak mungkin punya anak segede ini, kecuali anak angkat atau anak tiri.
“Kanan apa kiri?” Tanya Fanny tiba-tiba ketika mobil yang kami tumpangi sampai di sebuah persimpangan.
“Ki… Eh, kanan,” jawabku.
Fanny menertawakanku sambil memutar stir ke arah kanan. Lalu dia bertanya, “lamunanmu itu belum selesai ya dari kemaren?”
Aku hanya melirik sebal kearahnya. Tapi kalo ingat apa yang dikatakan Kak Jo kemaren, seharusnya aku bilang terimakasih padanya. Dan kupikir dia memang baik, buktinya hari ini dia gak ngebahas masalah laptopku atau menanyakan uangnya, berarti bener apa yang dikatakan Kak Jo bahwa Fanny nggak minta uangnya kembali.
“Pemakaman yang ini?” Tanya Fanny beberapa saat kemudian.
Aku melihat keluar dan memang kami sudah sampai di dekat sebuah kompleks pemakamam. “Iya,” jawabku.
Aku segera turun dari mobil mengikuti Om Acung yang menuntun Andika masuk ke kompleks pemakaman, di belakangku terdengar suara langkah cepat yang mengejarku, tak lama kemudian aku merasa ada sebuah tangan mengandeng bahuku.
“Tungguin donk…” Kata Fanny setelah dia berhasil menyamai langkahku.
Aku hanya diam sambil terus melangkah menuju makam orangtuaku dan sesampainya disana aku lihat Om Acung sedang berjongkok disisi makam ayahku sambil komat-kamit. Disamping Om Acung ada Andika sedang menengadahkan tangannya seperti orang sedang berdoa dan aku tidak kuasa menahan air mataku waktu aku tahu ternyata Andika menangis. Aku menghampirinya, setelah aku berada disampinya tiba-tiba Andika memelukku dan menagis di pelukanku. Aku mengajaknya berdiri dan menuntunnya ke makam Bunda yang bersebalahan dengan makam ayah. Andika memang baru sekarang ikut kesini, karena sebelumnya aku selalu pergi kesini sendirian, untuk membersihkan makam. Aku hanya tidak mau melihat Andika sedih seperti sekarang ini.
Aku bersimpuh di sampiang makam Bunda sambil mencabuti rumput-rumput kecil yang mulai tumbuh dia atas makam, padahal belum sebulan sejak aku datang kesini dan membersihkannya. Andika meniru apa yang kulakukan sambil sesekali menyeka air mata dengan tangan kirinya. Tiba-tiba aku mendengar Om Acung bicara pada seseorang yang aku yakini pasti pemilik jasad yang ada di balik makam itu, makam ayahku.
“Lim, aku sudah penuhi permintaanmu. Anak itu sudah bekerja denganku dan sudah menerima gaji pertamanya. Aku senang bisa melakukannya untukmu, dan aku harap sekarang kamu bisa istirahat dengan lebih tenang.” Itu kalimat-kalimat yang bisa kudengar dari lisan Om Acung. Aku tidak tau setelah itu apa lagi yang dikatakannya karena suaranya terlalu pelan.
Dalam perjalanan meninggalkan makam, Om Acung mengajak kami mampir di sebuah rumah makan untuk makan siang, dan ternyata rumah makan itu lagi.
Seorang wanita di rumah makan itu menyambut kedatangan kami dengan sebuah senyum yang masih nempel dalam ingatanku, lalu tiba-tiba wanita itu mendaratkan cubitannya dengan gemas di pipiku seraya berkata, “makin cantik aja Si Neng ini.”
Fanny tertawa melihat aku diperlakukan seperti itu dan ketika kami sudah sama-sama duduk mengitari meja dia bertanya padaku, “kamu sering kesini ya?”
Tapi sebelum aku sempat menjawab, Om Acung keburu angkat bicara mewakiliku. Katanya, “ini tempat makan favorit keluarganya.”
“Ooo… Pantesan Karin dapat hadiah hahaha…” Kata Fanny mengejekku sambil tertawa.
Tiba-tiba aku teringat kata-kata Om Acung di pemakaman tadi, walau sedikit ragu, aku bertanya pada Om Acung dengan hati-hati, “Om, tadi Om bicara apa pada ayah?”
Om Acung diam beberapa saat, lalu mulai bercerita, “Sekitar sebulan yang lalu, Om mimpi ketemu ayahmu, dalam mimpi itu ayahmu minta kepada Om untuk mempekerjakan seseorang di pabrik, awalnya Om ragu karena orang itu belum berpengalaman sama sekali, bahkan waktu itu SMA-nya aja belum tentu lulus. Tapi ternyata dia cerdas dan cepat menguasai pekerjaannya, dan Om yakin dalam beberapa waktu ke depan, dia sudah bisa menyamai ayahmu walau dari sisi pengalaman masih jauh.” Om Acung mengakhiri ceritanya.
“Seperti ceritaku kemaren itu, Rin.” kata Fanny diakhir cerita Om Acung sambil tersenyum kepadaku.
“Cerita Kak Fanny kemarin gak jelas, aku malah jadi berpikir yang nggak-nggak.” Kataku menanggapi ucapan Fanny.
“Itu karena aku gak tau cerita sebelumnya, Rin. Kalo aku tau Si Jo udah cerita sama kamu mungkin kemaren aku tinggal memperjelas aja, jadi kan kamu gak perlu jealous sama aku hehe…” Tutur Fanny membuatku semakin mengerti.
“Jealous…?” Tanyaku pura-pura.
“Udah deehh… Akui aja. Aku juga gak marah koq,” desak Fanny.
“Maafin aku, Kak.” Kataku pada Fanny.
Dia menatapku sambil tersenyum, tiba-tiba dia memegang tanganku, lalu katanya, “gak apa-apa koq, sebenernya waktu kemaren kamu memanggilku kakak, entah kenapa tiba-tiba aku ngerasa punya adik.”
“Kenapa kemaren Kakak nggak bilang sama aku?” Tanyaku.
“Aku takut kamu gak mau jadi adik aku,” jawab Fanny dengan tangan yang masih memegang tanganku.
Aku menggenggam tangan itu dengan erat dan Fanny tersenyum kepadaku. Terlihat jelas mata coklatnya berbinar indah memancarkan kegembiraan hatinya, dan aku jadi teringat kejadian kemaren saat aku mau pulang, dia mengkhawatirkanku hingga rela mengantarku sampai rumah. Tapi kenapa aku tidak mengerti?
Setelah itu Fanny dan papinya tidak bisa mampir ke rumahku, karena hari sudah menjelang senja saat kami sampai di dekat rumahku. Sepeninggal mereka aku hanya duduk di teras sambil bermain-main dengan laptopku. Sementara Andika duduk di dekatku dan kembali asyik dengan mainan baru yang dibelinya di mall kemaren. Sepertinya dia sudah tidak sedih lagi, mudah-mudahan saja dia juga ikut merasakan kebahagiaanku.
Aku mencoba mengakses FB lewat laptopku itu, karena katanya Fanny mengirim permintaan pertemanan padaku. Ternyata benar saja, banyak permintaan yang belum sempat kukonfirmasi karena sudah cukup lama aku tidak buka FB. Dan dari sekian banyak yang ingin berteman denganku hanya Fanny yang kukonfirmasi, karena yang lainnya cowok semua hehe… Maaf ya… Soalnya temen FB-ku sudah genap 5.000 termasuk Akun Fanny yang baru saja kutambahkan.
“Makasih, Adik Manis.” Fanny mengirimi aku pesan ke inboxku, ternyata dia lagi online.
“Masama, Kakak Cantik.” Jawabku.
“Lagi ngapain?” Tanya Fanny dalam pesan berikutnya.
“Lagi nunggu nasi mateng hehe...” Balasku asal ngetik.
Cukup lama aku menunggu tanggapan Fanny sampai aku mengira dia sudah berhenti, tapi ternyata dia ngirimi aku sebuah foto. Foto Kak Jo sedang duduk di belakang meja kerjanya sambil memperhatikan monitor PC yang ada dihadapannya. Aku hanya tersenyum melihatnya.
“Calon suamimu.” Tulis Fanny dalam pesannya ke inboxku di bawah foto itu.
“Hehehe…” Jawabku membalas pesan Fanny.
Aku tersenyum-senyum sendiri, tapi untung saja Andika tidak melihatnya. Lalu aku mengalihkan pandanganku dari laptop ke arah benda kemerahan di ufuk barat yang tinggal setengah lingkaran. Cukup lama aku memandangnya sampai benda itu lenyap di balik gunung dan meninggalkan lembayung dengan nuansa warna yang indah, seindah warna hidupku kini yang sedang menanti mentariku terbit kembali dari sisi langit yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar