Rabu, 23 Maret 2016

INSYA ALLAH

Judul:
INSYA ALLAH
Pemain:
Annisa, Fitri, Karin, Nirina, Nurul, Iqbal, Pandu, Hafidz, Amin dan Intan.

Narator
:
Annisa dan sembilan orang temannya sudah sepakat untuk mengerjakan tugas sekolah dan makan malam bersama di rumah Annisa dan mereka pun telah sepakat untuk mengumpulkan uang jajan untuk keperluan makan malamnya, karena mereka akan belanja sepulang sekolah dan masak bersama nanti malam..

Pagi itu halaman sekolah masih agak sepi ketika Annisa sampai dan langsung menuju ruang kelasnya, ternyata di sana sudah ada beberapa teman yang sudah sampai duluan.
Annisa
:
“Assalaamu’alaykum....”
Teman-teman
:
“Wa’alaykum salaam....”
Fitri
:
(Menghampiri Annisa). “Nis, acara nanti malam jadi kan?”
Annisa
:
“Insya Allah”
Hafidz
:
“Koq Insya Allah sih, Nis?”
Annisa
:
“Aku kan nggak yakin nanti sore aku masih hidup atau nggak hehehe....”
Fitri
:
“Tadi kami lagi ngebahas itu, Nis.”
Karin
:
“Iya, Nis. Aku udah bikin daftar belanjaannya nih hehe....” (Memberikan selembar kertas kepada Annisa)
Iqbal
:
(Menghampiri Annisa dan ikut membaca tulisan Karin). “Hahaha... Koq nggak ada jengkol sih...?”
Pandu
:
“Kamu doyan jengkol juga ya, Bal? Kirain cuma aku aja haha...”
Karin
:
“Gimana, Nis? Cukup segitu kan keperluannya?”
Annisa
:
“Berasnya nggak perlu beli deh, aku sudah bilang pada mama, katanya beliau mau ngasih.”
Iqbal, Pandu, Hafidz, Amin
:
“Alhamdulillaah...”
Hafidz
:
“Berarti uangnya bisa buat beli jengkol dong hahaha....”
Nirina
:
“Nggak ah, beli yang lain aja ya, Nis?”
Annisa
:
“Iya deh. Nanti jam istirahat kita bicarakan lagi.”

Narator
:
Pelajaran hari itu pun dimulai dan mereka berjanji akan kumpul lagi pada jam istirahat, karena 2 orang teman mereka yang berbeda kelas ingin ikut serta.

Pada waktu istirahat mereka berkumpul lagi.
Annisa
:
“Intan koq belum kesini ya...? Sudah dikasih tau kan, Rin?”
Karin
:
“Sudah, Nis. Tadi waktu di jalan, kan kami berangkat bareng.”
Nurul
:
“Mungkin masih di kelas, pelajarannya belum selesai.”
Hafidz
:
“Kulihat dulu ya...” (Meninggalkan teman-temannya menuju kelas Intan)
Nirina
:
“Nanti kita belanja jam berapa, Nis?”
Annisa
:
“Sore aja, habis Shalat ‘Ashar kutunggu di rumah.”
Iqbal
:
“Iya, sekalian kita beli bahan-bahan untuk tugas sekolah kita.”
Pandu
:
“Kalo sore aku tidak bisa ikut, Nis. Jadwalku latihan Footsal.”
Amin
:
“Iya aku juga.”
Iqbal
:
(Nepuk jidat). “O iya. Lupa aku....”
Nurul
:
“Ya nggak apa-apa, kalian latihan aja.”
Annisa
:
“Tapi sesudah Shalat Maghrib ke rumahku dan jangan telat.”
Fitri
:
“Titipin aja uang untuk beli bahan-bahannya ke Annisa, biar nanti sekalian dibeliin.”
Iqbal, Pandu Amin
:
“OK.” (merogoh saku celana masing-masing dan mengeluarkan selembar uang)
Hafidz
:
(Datang dan terlihat sedih). “Teman-teman, Intan sudah pulang, tadi dijemput kakaknya karena ayahnya mengalami kecelakaan lalu lintas dan sekarang di rawat di rumahsakit.”
Annisa, Fitri, Karin, Nirina, Nurul, Iqbal, Pandu, Amin
:
“Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’uun....”
Karin
:
“Kejadiannya kapan, Fidz.”
Hafidz
:
“Katanya tadi pagi waktu berangkat kerja.”


Suasana menjadi hening, tidak seorang pun yang bicara. Hingga beberapa saat.
Nurul
:
(Suaranya pelan dan agak ragu-ragu). “Gimana kalau acaranya kita batalin aja, dan uang yang sudah terkumpul, kita gunakan untuk ongkos menjenguk ayahnya Intan.”
Nirina
:
“Iya, aku setuju, yang lain gimana?”
Pandu
:
“Tidak apa-apa aku tidak latihan footsal sehari ini, sore nanti kita jenguk ayahnya Intan di rumahsakit.
Iqbal
:
“Aku juga ikut.”
Amin
:
“Iya, aku juga.”
Annisa
:
“Baiklah, kita sepakat. Sore nanti setelah Shalat ‘Ashar kita ke rumah sakit.”
Karin
:
“Lalu bagaimana dengan tugas sekolah kita? Kan harus dikumpulkan besok”
Annisa
:
“Kita kerjakan sepulang dari rumahsakit.”
Fitri
:
“Setuju, tapi tetap di rumahmu kan, Nis?”
Annisa
:
“Iya.”

Narator
:
Pembicaraan mereka pun berakhir setelah terdengar bunyi bell yang menandakan waktu istirahat telah habis.

Sore harinya di rumah sakit.
Intan
:
“Kalian koq ke sini? Bukannya....”
Karin
:
“Acara belanjanya kami batalin, Tan. Dan kami sepakat untuk datang ke sini, menjenguk ayahmu.”
Annisa
:
“Iya, Tan. Bahkan mereka rela meninggalkan jadwal latihan footsal.” (Menunjuk ke arah Pandu, Hafidz, Iqbal dan Amin)
Intan
:
(Matanya berkaca-kaca). “Terimakasih ya, Nis. Kalian baik banget udah mau datang ke sini dan membatalkan acara kalian.”
Fitri
:
“Nggak apa-apa koq, Tan. Kami senang bisa melakukan ini.”
Nirina
:
“Iya, Tan. Nggak apa-apa koq.”
Nurul
:
“Bagaimana keadaan ayahmu, Tan?”
Intan
:
“Baru siuman satu jam yang lalu, tapi aku nggak tau persis keadaannya seperti apa.”
Annisa
:
“Kita diizinkan masuk ruang perawatan ayahmu apa nggak, Tan?”
Intan
:
“O iya, sebentar aku tanyain dulu ya.” (Meninggalkan teman-temannya dan tidak berapa lama kembali lagi).
Pandu
:
“Bagaimana, Tan? Boleh?”
Intan
:
“Boleh, tapi giliran, dua orang-dua orang.”
Iqbal
:
“OK, wanita duluan.”
Annisa
:
“Aku duluan ya? Siapa yang mau ikut?”
Fitri
:
“Aku, Nis.”
Intan
:
“Doain ayahku ya, Nis, Fit.”
Annisa
:
(Memegang kedua bahu Intan sambil menatap wajah temannya itu lalu mengangguk) “OK.”

Narator
:
Setelah selesai bergiliran menjenguk ayahnya Intan, mereka pun pamit pada Intan.
Intan
:
“Kalian semua, terimakasih banyak ya.


Malam harinya di rumah Annisa setelah selesai mengerjakan tugas kelompok.
Annisa
:
“Alhamdulillaah, selesai juga akhirnya... Dan sekarang waktunya kita makan.”
Pandu, Iqbal, Hafidz, Amin
:
“Makan, Nis?”
Annisa
:
“Iya, makan. Kenapa memangnya?”
Fitri
:
“Bukannya...”
Annisa
:
“Yang tadi dibatalkan kan acara belanja, bukan acara makan, kalau acara makan dibatalkan nanti kelaperan dong aku hehehe...”
Karin
:
“Belanjanya pakai uang siapa, Nis?”
Annisa
:
“Bahannya dari ayahku dan yang masaknya mamaku. Kata mereka ini adalah hadiah atas ketulusan kalian hari ini.”
Iqbal
:
“Waaah... Ada jengkol juga... hahaha...”
Nirina
:
“Dasar, ulat jengkol...!”
Annisa, Fitri, Karin, Nirina, Nurul, Iqbal,Pandu, Hafidz,Amin
:
“hahahahaha...”
Narator
:
Setelah selesai makan
Hafidz
:
“Benar sekali apa yang kamu katakan tadi pagi, Nis.”
Annisa
:
“Tentang apa?”
Hafidz
:
“Kita nggak tau apa yang akan terjadi pada diri kita nanti, besok, atau lusa.”
Annisa
:
(Tersenyum)
Pandu
:
“Makanya kalau berjanji itu harus pake Insya Allah.”
Amin
:
“Tapi kalimat itu tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak menepati janji.”
Nurul
:
“Maksudnya bagaimana, Min?”
Amin
:
“Insya Allah itu kan artinya jika Allah mengizinkan, jadi kalau kita ingkar janji dengan alasan yang tidak kuat atau hanya karena malas, hanya karena sudah sudah mengucapkan Insya Allah, padahal Allah masih memberi kesempatan, itu berarti kita sudah menjual nama Allah.”
Pandu
:
“Wadduh... Pasti berat itu hukumannya.”
Nirina
:
“Menurutku sih, itu dosanya jadi ganda hehe...”
Karin
:
“Ganda bagaimana maksudnya, Rin.”
Nirina
:
(Bingung, garuk-garuk kepala)
Annisa
:
“Mungkin maksudnya dosa karena ingkar janji dan karena sudah mengambinghitamkan Allah. Begitu kali.”
Amin
:
“Tentang itu sih nanti kita tanyakan pada Pak Ustadz di pengajian, sekarang aku mau pamit dulu, sudah mulai ngantuk.”
Fitri
:
“Gara-gara makan jengkol itu, jam segini sudah ngantuk.”
Pandu
:
“Waaahh... Jangan mengambinghitamkan jengkol dong...”
Annisa, Fitri, Karin, Nirina, Nurul, Iqbal, Pandu, Hafidz, Amin
:
“Hahaha...”
Narator
:
Acara mereka malam itu berakhir dan mereka pun pulang ke rumah masing-masing.











Nessac, 14 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar